Pertemuan Rahasia Berbahaya di Baghdad dan Konspirasi AS untuk Hidupkan Kembali Partai Baath
POROS PERLAWANAN – Sumber-sumber Irak mengungkapkan adanya pertemuan rahasia para pemimpin Partai Baath yang telah dibubarkan di Baghdad dan Najaf al-Ashraf. Pertemuan itu disebut berlangsung dengan pengawasan serta dukungan terbuka dari Amerika Serikat, dengan tujuan melakukan “kudeta merayap” terhadap proses politik Irak, merebut kekuasaan, dan mengembalikan rezim diktator ala Saddam Hussein.
Menurut Tasnim News Agency, pada Selasa 30 September, yang mengutip media Irak serta sumber di Provinsi Anbar (wilayah barat Irak berbatasan dengan Suriah), pertemuan pertama para pemimpin Partai Baath dilakukan melalui koordinasi dengan sejumlah partai berpengaruh di Pemerintahan Pusat. Beberapa politisi yang terlibat disebut berafiliasi dengan minoritas Sunni, kelompok yang kerap berada dalam posisi tegang dan dianggap merugikan persatuan, stabilitas, serta keamanan Irak.
Sumber tersebut menjelaskan bahwa para tokoh Partai Baath yang telah dibubarkan itu membahas rencana pembentukan “Pemerintahan Sementara”. Mereka mengeklaim Pemerintahan tersebut akan mendapat dukungan langsung dari Amerika Serikat. Agenda utama pertemuan itu, lanjut sumber, adalah menciptakan perpecahan di antara kelompok politik mayoritas, khususnya partai-partai Syiah dan menyalakan konflik internal yang berpotensi mengganggu keamanan nasional Irak.
Dalam pernyataannya kepada kantor berita Al-Ma’alumah, sumber tersebut menambahkan bahwa propaganda Partai Baath mulai dijalankan secara rahasia melalui pidato-pidato provokatif. Narasi yang diangkat berfokus pada kegagalan Pemerintah dalam menjawab krisis domestik. Para pemimpin Baath, dalam forum itu, juga disebut menjanjikan kepada Washington bahwa jika diberi kesempatan berkuasa, mereka siap menjaga dan memperkuat kepentingan Amerika di Irak, menggantikan Pemerintah saat ini yang dianggap lemah dan tidak kooperatif.
Masih menurut sumber tersebut, Amerika Serikat dikabarkan telah memberikan jaminan kepada para eks-petinggi Baath Saddam. Washington berjanji tidak akan membiarkan tokoh-tokoh politik yang berkuasa sejak 2003 kembali mendominasi panggung kekuasaan Irak. Bahkan, sebagian dari mereka disebut akan disingkirkan secara permanen, atau diseret ke pengadilan dengan tuduhan korupsi serta penyalahgunaan harta rampasan negara.
