Pembicaraan Tak Langsung Dimulai di Mesir: Hamas dan Rezim Zionis Bahas Proposal AS untuk Gaza
POROS PERLAWANAN – Dilansir Al Mayadeen, dalam suasana penuh ketegangan dan luka yang masih menganga akibat agresi brutal rezim Zionis terhadap Jalur Gaza, delegasi dari gerakan perlawanan Palestina, Hamas, dan entitas pendudukan Israel memulai pembicaraan tidak langsung di bawah mediasi Mesir dan Qatar.
Pertemuan berlangsung sejak Senin sore 6 Oktober di kota pesisir Laut Merah, Sharm el-Sheikh, dengan pembahasan berpusat pada rencana kontroversial berisi 20 poin yang diusulkan oleh Presiden AS Donald Trump terkait masa depan Gaza.
Sumber diplomatik Mesir yang tidak bersedia disebutkan namanya menyampaikan bahwa pertemuan awal dilakukan antara mediator Arab dan perwakilan Hamas, sebelum mereka beralih untuk berdiskusi dengan delegasi dari entitas Zionis. Setelahnya, perwakilan khusus AS untuk Timur Tengah, Steve Wittoff, dijadwalkan akan bergabung dalam proses negosiasi.
Rencana Trump yang didukung penuh oleh Tel Aviv disebut-sebut mencakup sejumlah poin sensitif, termasuk pembebasan tawanan dari kedua belah pihak. Hamas dilaporkan menyatakan kesediaannya untuk membebaskan tahanan Israel sebagai imbalan atas pembebasan warga Palestina yang diculik, dengan catatan bahwa “kondisi di lapangan” dipenuhi secara adil.
Sebagai bentuk komitmen terhadap persatuan nasional, Hamas juga menyampaikan kesediaan untuk menyerahkan administrasi Jalur Gaza kepada badan teknokrat independen Palestina yang dibentuk atas dasar konsensus nasional, dengan dukungan penuh dari negara-negara Arab dan dunia Islam.
Namun Hamas menegaskan, poin-poin lain dalam proposal yang menyentuh hak-hak rakyat Palestina dan masa depan Gaza tak dapat diputuskan sepihak. Mereka menuntut agar setiap keputusan tunduk pada hukum internasional dan semangat perlawanan rakyat Palestina yang sah.
Sementara itu, Trump melalui platform media sosialnya, Truth Social menyatakan bahwa pembicaraan “berjalan cepat” dan menuntut penyelesaian segera. Ia memperingatkan potensi pertumpahan darah yang lebih besar jika kesepakatan tak tercapai dalam hitungan hari.
Di balik layar pembicaraan ini, kenyataan pahit masih membayangi Gaza. Sejak 7 Oktober 2023, rezim Zionis telah menggempur wilayah tersebut secara membabi buta. Menurut data terbaru dari Kementerian Kesehatan Gaza, sedikitnya 67.160 warga Palestina mayoritas perempuan dan anak-anak telah gugur, dan lebih dari 169.000 lainnya luka-luka.
