Kecam Klaim Trump di Knesset, Iran: Kami Tidak Akan Memaafkan atau Melupakan Pembunuhan Syahid Soleimani
POROS PERLAWANAN – Kementerian Luar Negeri Republik Islam Iran mengecam keras pernyataan anti-Iran yang disampaikan Donald Trump, dalam pidatonya di Knesset Israel beberapa hari lalu. Dalam tanggapannya, Kementerian Luar Negeri menegaskan bahwa Amerika Serikat, yang disebut sebagai “produsen terorisme terbesar di dunia”, tidak memiliki otoritas moral untuk menuduh pihak lain.
Dalam pernyataan resmi yang dirilis pada Selasa 14 Oktober, Kementerian Luar Negeri Iran menyatakan bahwa rakyat Iran “tidak akan pernah memaafkan atau melupakan kejahatan brutal Amerika Serikat dalam pembunuhan Martir Haji Qasim Soleimani dan rekan-rekannya”.
Kecaman atas Klaim Anti-Iran
Dalam pidatonya di parlemen Israel, Trump merujuk pada agresi Israel terhadap fasilitas nuklir yang berada di bawah perlindungan Iran. Ia menyebut bahwa Iran telah menerima “pukulan telak” dan “mencapai perjanjian damai dengan Iran akan sangat baik”.
Menanggapi hal itu, Kementerian Luar Negeri Iran menyatakan, “Kami mengutuk keras tuduhan tak berdasar dan klaim tidak bertanggung jawab dari Presiden AS yang disampaikan di hadapan para pelaku genosida di Knesset Israel”.
Pernyataan itu juga menegaskan bahwa Amerika Serikat, sebagai pihak yang mendukung rezim teroris dan genosida Zionis, tidak memiliki dasar moral untuk mengeluarkan tuduhan terhadap bangsa lain.
Syahid Soleimani dan Kedalaman Permusuhan AS
Lebih lanjut, Kementerian Luar Negeri menyebut bahwa rakyat Iran tetap memegang penghormatan mendalam terhadap sosok Syahid Haji Qasim Soleimani, yang disebut berperan besar dalam memerangi terorisme ISIS yang “diproduksi oleh AS”.
“Rakyat Iran tidak akan pernah memaafkan atau melupakan pembunuhan brutal terhadap sosok besar ini dan para sahabatnya”, bunyi pernyataan tersebut.
Kementerian juga menegaskan bahwa pengulangan klaim palsu AS tentang program nuklir damai Iran tidak dapat dijadikan pembenaran atas tindakan bersama AS dan Rezim Zionis yang menyerang wilayah Iran.
“Setiap pengakuan atas kejahatan itu hanya memperdalam tanggung jawab Amerika Serikat dan menunjukkan kedalaman permusuhan pembuat kebijakan AS terhadap bangsa Iran”, lanjut pernyataan itu.
Amerika dan Perannya dalam Genosida Zionis
Kementerian Luar Negeri Iran juga menyoroti keterlibatan aktif AS dalam mendukung genosida dan hasutan perang Rezim Zionis di Wilayah Pendudukan Palestina.
“Peran Amerika dalam memberikan impunitas kepada Israel, termasuk menghalangi langkah Dewan Keamanan PBB dan proses peradilan internasional terhadap para penjahat perang, tidak dapat disembunyikan dari siapa pun”, tegas Kemenlu.
“Bagaimana bisa mengeklaim perdamaian sambil membom?”
Pernyataan itu juga menyinggung kontradiksi antara retorika perdamaian Trump dan kebijakan agresif AS di Kawasan.
“Bagaimana mungkin seseorang mengeklaim menginginkan perdamaian dan persahabatan, sementara di saat yang sama menyerang fasilitas nuklir damai, menewaskan lebih dari seribu orang, termasuk perempuan dan anak-anak tak berdosa?” tulis pernyataan tersebut.
Kementerian menambahkan bahwa kebijakan intervensionis AS, dukungan terhadap pendudukan Israel, serta penjualan senjata tanpa batas justru menjadi penyebab utama ketidakstabilan dan ketidakamanan di Kawasan.
“Presiden AS berbicara tentang perdamaian dan dialog, namun tindakannya menunjukkan kebalikan dari itu”, tulis pernyataan Iran.
Menurut laporan Fars News Agency, Trump dalam pidatonya di Knesset mengeklaim bahwa Pemerintahannya telah “menahan Pemerintahan paling berbahaya di dunia” dan “mengakhiri proyek nuklir Iran”. Ia menambahkan: “Akan sangat hebat jika kami dapat menandatangani perjanjian damai dengan Iran.”
Trump juga menyatakan bahwa Iran “tidak memulai apa pun” dan hanya berusaha bertahan hidup, seraya menuduh Teheran mendukung kelompok milisi dan menolak mengakui hak Israel untuk hidup.
Usai kunjungannya ke Israel, Trump melanjutkan perjalanan ke Sharm el-Sheikh, Mesir, untuk menghadiri pertemuan “Perjanjian Damai Gaza”. Dalam kesempatan itu, ia kembali mengeklaim bahwa “tanpa serangan udara AS terhadap fasilitas nuklir Iran, perjanjian Gaza tidak akan pernah tercapai”.
Iran Tegaskan Komitmen terhadap Martabat dan Kedaulatan
Menutup pernyataannya, Kementerian Luar Negeri menegaskan bahwa rakyat Iran adalah bangsa yang rasional, komunikatif, dan beradab, namun akan tetap tegas dalam membela kemerdekaan dan martabat nasional.
“Rakyat Iran, dengan warisan sejarah dan budaya yang kaya, tetap berpegang pada logika dan komunikasi, tetapi tidak akan mundur dalam mempertahankan kepentingan tertinggi dan kedaulatan bangsa”, tegas pernyataan itu.
