Pakar Lembaga Pemikir Amerika: Serangan terhadap Iran Merupakan Kesalahan Bersejarah
POROS PERLAWANAN — Seorang pakar senior dari lembaga pemikir Amerika, Center for International Policy menyatakan bahwa klaim Donald Trump mengenai hubungan antara serangan terhadap Iran dan tercapainya gencatan senjata di Gaza adalah keliru. Ia menegaskan bahwa semakin hari semakin jelas, serangan Amerika Serikat terhadap fasilitas nuklir Iran merupakan kesalahan bersejarah.
Peneliti senior tersebut, yang dikenal luas karena tulisannya mengenai Iran, kebijakan luar negeri AS, dan dinamika Asia Barat di berbagai media ternama seperti The Guardian, Foreign Policy, dan Foreign Affairs, membantah pernyataan Trump. Presiden AS itu berulang kali mengeklaim bahwa tanpa serangan terhadap situs nuklir Iran, kesepakatan Gaza tidak akan pernah tercapai.
Seperti dilansir Kayhan pada Senin 27 Oktober, dalam sebuah unggahan di platform X, mengomentari laporan The Wall Street Journal yang menjadi dasar klaim Trump, Sina Toossi menyebut pernyataan tersebut justru terbalik. Ia menulis: “Jika perang dengan Iran berhasil, Israel tidak akan pernah menyetujui gencatan senjata di Gaza”.
Toosi menambahkan: “Semakin hari semakin jelas bahwa perang terhadap Iran merupakan kesalahan bersejarah.”
Ia menutup pesannya dengan pernyataan yang memicu perhatian luas: “Faktanya, Iran mungkin sudah menjadi negara dengan senjata nuklir yang belum dideklarasikan. Rincian lebih lanjut akan segera dirilis”.
Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump mengeklaim dalam wawancaranya dengan Fox News bahwa kesepakatan Gaza berawal dari serangan terhadap fasilitas nuklir Iran. Ketika tiba di Sharm el-Sheikh, Mesir, untuk menandatangani perjanjian tersebut, ia menegaskan bahwa gencatan senjata tidak akan mungkin tercapai tanpa tindakan militer Amerika terhadap Iran.
Trump juga berulang kali menyatakan bahwa operasi militer itu telah menghancurkan total program nuklir Iran, yang berlangsung bersamaan dengan serangan Rezim Zionis terhadap wilayah Iran.
Namun, klaim tersebut dengan tegas dibantah oleh Direktur Jenderal Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA), Rafael Grossi, yang secara langsung menyebut nama Trump. Grossi menegaskan: “Meskipun Trump berbicara tentang kehancuran, kemampuan teknologi Iran tetap utuh. Sentrifugal yang digunakan untuk memperkaya uranium dapat dibangun kembali.”
Grossi juga menambahkan bahwa Iran masih memiliki sekitar 400 kilogram uranium yang telah diperkaya hingga 60 persen, menegaskan bahwa program nuklir Iran tidak hancur, sebagaimana berulang kali diklaim Trump.
