Trump dan Paradoks Perdamaian Nuklir
POROS PERLAWANAN – Presiden Amerika Serikat, Donald Trump kembali menunjukkan keahliannya dalam menggabungkan dua hal yang tampak bertentangan ketika berbicara tentang perdamaian sambil memerintahkan uji coba senjata nuklir. Dalam pertemuan dengan para pemimpin lima republik Asia Tengah di Gedung Putih pada Jumat 7 November seperti dilansir oleh TASS, Trump menyatakan keyakinannya bahwa Amerika Serikat, Rusia, dan Tiongkok “dapat” mencapai kesepakatan untuk mengurangi senjata nuklir.
Keyakinan tersebut disampaikan dengan gaya khas Trump, penuh optimisme, minim fakta, dan tanpa rincian teknis. Ia mengatakan bahwa dirinya telah membahas “pelucutan senjata” dengan Presiden Putin dan Presiden Xi Jinping, seraya menambahkan kalau “semua pihak ingin menggunakan sumber daya untuk hal-hal yang lebih bermanfaat bagi rakyat”.
Ironisnya, pernyataan itu datang hanya beberapa hari setelah Trump memerintahkan Pentagon kembali menguji senjata nuklir, tindakan yang, dalam kamus diplomasi, lebih dekat dengan provokasi daripada perdamaian. Namun, bagi Trump, paradoks bukanlah kesalahan logika, melainkan strategi. Ia menamai kontradiksi itu dengan istilah yang terdengar mulia, yakni peace through strength — kedamaian yang lahir dari ancaman.
Trump juga menegaskan bahwa doktrinnya “berdasarkan pada pelucutan senjata nuklir”, sambil mengingatkan bahwa Amerika Serikat memiliki jumlah hulu ledak terbesar di dunia. Pernyataan ini, tentu saja, tidak sejalan dengan data resmi lembaga riset militer internasional yang menempatkan Rusia di posisi teratas. Namun bagi Trump, statistik hanyalah rincian teknis belaka dalam narasi besar tentang kebesaran Amerika.
Ia bahkan menambahkan bahwa Tiongkok “jauh di belakang” tetapi akan segera “menyamai Amerika Serikat” dalam empat atau lima tahun, sebuah analisis strategis yang terdengar lebih seperti ramalan dari podium kampanye ketimbang laporan intelijen.
Trump menutup dengan kalimat yang, di permukaan, terdengar luhur: “Saya menginginkan perdamaian di seluruh dunia, dan kita hampir mencapainya.” Namun jika “perdamaian” kini berarti memperbanyak uji coba senjata nuklir sambil berbicara tentang pelucutan, maka mungkin dunia memang semakin dekat, bukan dengan perdamaian, melainkan dengan absurditas yang diucapkan dengan nada diplomatik.
Trump, seperti biasa, tidak menjelaskan apa yang dimaksud dengan “uji coba” tersebut, atau apakah melibatkan ledakan nuklir. Detail semacam itu tampaknya dianggap kurang menarik dibandingkan sorotan besar tentang dirinya sebagai pembawa perdamaian global.
Dalam politik Trump, retorika adalah realitas, dan setiap kebijakan adalah panggung untuk memastikan satu hal, bahwa Donald Trump tetap menjadi pusat cerita, bahkan ketika cerita itu berkaitan dengan ancaman berbahaya terhadap dunia.
