Loading

Ketik untuk mencari

Analisa

Inspektur Vijay dan Pameran Keperkasaan Netanyahu

POROS PERLAWANAN — Inspektur Vijay baru saja duduk, menakar gula dalam kopinya seperti seorang ahli balistik menakar bubuk mesiu, ketika sebuah pernyataan Netanyahu melintas di layar: “Iran setelah Perang 12 Hari bukan lagi kekuatan adidaya Timur Tengah”.

Vijay tidak terkejut. Satu-satunya hal yang membuatnya berhenti sejenak hanyalah kopi kantornya yang terasa lebih pahit dari biasanya, walau pahitnya tetap kalah dibanding logika yang baru ia dengar. Vijay mencatat dengan tenang bahwa Netanyahu tanpa sengaja -atau tanpa sadar- mengakui Iran sebelumnya memang adidaya. Ironi sering muncul tanpa undangan, seperti tamu yang datang lebih cepat dari tuan rumah.

Vijay meniup buih kopi seperti pembersih TKP menghalau debu dari barang bukti. “Menarik,” pikirnya, “operasi yang menurut ahli mereka sendiri gagal, kini dipoles menjadi legenda kemenangan.”

Vijay menulis satu catatan tipis: “Jika rudal Iran benar-benar hancur, mengapa pihak yang merasa menang justru berlari minta gencatan senjata? Kemenangan jenis apa yang membuat pemenangnya ketakutan?”

Ketika para analis militer Barat menyimpulkan kekalahan Amerika, Zionis, dan NATO dalam Perang 12 Hari, Netanyahu dan Trump justru menaikkan volume imajinasi politik mereka. Vijay menyebutnya “balap karung delusi”: yang penting bukan siapa paling benar, melainkan siapa paling ngotot.

Saat menutup map laporan, tangan Vijay tak sengaja menyenggol gelas kopi, membuat setetes kecil jatuh ke peta perang di mejanya. Tetesan itu mendarat tepat di area yang oleh Israel diklaim sebagai lokasi “penghancuran total” fasilitas Iran. Kertasnya tidak berlubang, tidak gosong, tidak berubah menjadi apa pun, hanya sedikit basah. Vijay mengangkat alis, lalu berkata ringan: “Kalau serangan mereka sama efektifnya dengan kopi ini, saya mengerti kenapa klaimnya harus ditayangkan berkali-kali.”

Vijay mengelap noda kecil itu, dan tanpa bermaksud apa-apa, noda tersebut justru menyoroti bagian peta yang menunjukkan rute jangkauan rudal Iran. “Lihat,” katanya, “ini baru bukti yang tidak bisa dibantah, bahwa satu tetes kopi saja sudah lebih akurat daripada konferensi pers.”

Sebuah perumpamaan lama terlintas di benaknya: Mana lebih kuat, keledai atau sapi? Jawabannya tetap sama: “Kalau bukan karena hobi membanggakan diri… ya keledai.”

Vijay menutup berkas dan menyeruput kopi terakhirnya yang sudah dingin. Ia tampak seperti detektif yang hanya memeriksa tiket parkir, padahal baru saja membongkar satu rangkaian propaganda internasional tanpa perlu menaikkan nada suara.

Sebelum berdiri, Vijay menatap cangkir kopi yang tinggal ampas dan bergumam pelan: “Kadang kebenaran tidak datang dengan ledakan dramatis. Kadang kebenaran muncul sebagai tetesan kopi kecil yang salah jatuh, dan tetap mengenai pusat absurditasnya dengan presisi yang tak disengaja.”

Tags:

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *