Enam Bulan Pasca-Perang, Israel Masih Dihantui Ancaman Rudal Iran
POROS PERLAWAN — Enam bulan setelah perang 12 hari berakhir, Israel masih dibayangi ancaman serius dari kekuatan rudal berpemandu presisi Iran. Dampak serangan tersebut terus menjadi bahan perbincangan di kalangan elite politik, militer, dan media internasional, seiring munculnya evaluasi yang semakin terbuka mengenai kerentanan pertahanan Israel.
Menurut Kayhan pada Minggu (21/12), mantan Komandan Angkatan Laut Israel, Mayor Jenderal Eliezer Marom, menilai ancaman rudal Iran jauh lebih mendesak dibanding isu nuklir. Ia menyatakan bahwa kemampuan destruktif rudal-rudal tersebut telah terbukti di lapangan. “Untuk saat ini, isu nuklir Iran harus dikesampingkan. Kita telah melihat apa yang mampu dilakukan rudal-rudal ini dan betapa berbahayanya mereka. Bahkan jika hanya sepuluh rudal Iran menghantam Israel, dampaknya akan sangat serius,” ujarnya.
Kekhawatiran serupa juga muncul di Amerika Serikat. Euronews melaporkan bahwa para analis pertahanan menyoroti ketidakseimbangan serius dalam sistem pertahanan rudal AS akibat penggunaan besar-besaran sistem THAAD (Terminal High Altitude Area Defense) selama konflik Iran–Israel. Badan Pertahanan Rudal AS disebut menghadapi ketimpangan antara pasokan dan kebutuhan pencegat rudal, terutama karena stok yang dibeli pada 2021 baru diperkirakan masuk inventaris pada April 2027.
Pusat Studi Strategis dan Internasional (CSIS) mencatat bahwa pengiriman sistem THAAD kini tertahan setelah militer AS mengerahkan sejumlah besar unitnya untuk melindungi Israel selama perang 12 hari melawan Iran. Situasi ini memunculkan perdebatan baru mengenai keberlanjutan kapasitas pertahanan rudal AS dalam konflik berkepanjangan.
Di internal Israel, laporan yang dirujuk sejumlah analis Arab menunjukkan perubahan drastis suasana di kabinet perang. Euforia awal berubah menjadi kekhawatiran mendalam setelah rudal balistik Iran menghantam kota-kota utama Israel. Mantan Kepala Front Dalam Negeri Israel, Brigadir Jenderal Donald, menegaskan bahwa dampak rudal balistik Iran tidak dapat disamakan dengan roket-roket dari Gaza. Menurutnya, daya hancur rudal tersebut jauh lebih besar dan merusak.
Ia mencontohkan sebuah gedung 14 lantai di Bat Yam yang sebagian besar runtuh akibat hantaman rudal, sementara sekitar 70 bangunan di sekitarnya mengalami kerusakan. Donald mengakui bahwa pemandangan tersebut meninggalkan trauma mendalam bagi masyarakat Israel. Gambaran keluarga yang menunggu evakuasi jenazah orang-orang terkasih, katanya, masih terpatri kuat dan sulit dihadapi secara emosional.
Kesaksian ini diperkuat oleh Moria Saf, yang mengungkap bahwa dalam pertemuan kedua kabinet keamanan Israel, suasana optimisme awal benar-benar sirna setelah serangan rudal Iran terjadi, digantikan oleh kecemasan dan ketidakpastian strategis.
Sementara itu, Al Jazeera, mengutip situs Zionis +972, melaporkan bahwa serangan rudal Iran juga membawa dampak serius terhadap perekonomian Israel. Laporan tersebut menggambarkan ekonomi Israel berada di ambang krisis, dipicu oleh pengerahan sekitar 300.000 pasukan cadangan dalam jangka panjang, sejak perang Gaza hingga konflik 12 hari dengan Iran. Kondisi ini memberikan pukulan langsung pada pasar tenaga kerja dan produktivitas nasional.
Beban biaya perang yang besar memaksa pengalihan sumber daya publik ke sektor militer, menurunkan kualitas layanan publik, serta mendorong Israel mendekati risiko krisis utang. Indikator ketidakpercayaan ekonomi kian terlihat, mulai dari penurunan peringkat kredit, perpindahan tabungan dari permukiman, hingga meningkatnya risiko investasi.
Dalam jangka panjang, laporan tersebut mencatat kecenderungan kelas menengah terdidik untuk mempertimbangkan emigrasi, yang berpotensi mempercepat arus migrasi intelektual dari Israel.
