Netanyahu Dorong Perang Baru, Washington Kembali Ditarik ke Jalur Eskalasi Melawan Iran
POROS PERLAWANAN – Dilansir Al Mayadeen, upaya menghidupkan kembali mesin perang mulai digerakkan dari Tel Aviv. Perdana Menteri Israel, Benyamin Netanyahu dilaporkan tengah bersiap menemui Presiden Amerika Serikat, Donald Trump untuk mendorong dukungan terhadap serangan militer baru ke Iran. Langkah ini menandai upaya terang-terangan Rezim Zionis untuk menarik Washington kembali ke jalur eskalasi yang sama, jalur yang tahun lalu memicu Perang 12 Hari dan meninggalkan kehancuran besar di Kawasan.
Menurut laporan yang bersumber dari pejabat yang mengetahui persiapan pertemuan tersebut, Netanyahu berencana menggunakan pertemuan di Mar-a-Lago pada akhir Desember untuk memaparkan skenario agresi militer lanjutan terhadap Iran. Opsi yang disodorkan tidak jauh berbeda dari “menu perang” sebelumnya yaitu Israel bertindak sendiri, keterlibatan terbatas Amerika Serikat, operasi militer gabungan, atau bahkan aksi sepihak AS. Semua opsi itu mengarah pada satu tujuan yaitu menormalisasi agresi sebagai kebijakan.
Netanyahu disebut akan menuding bahwa Iran tengah membangun kembali kemampuan militernya, mulai dari produksi rudal hingga pertahanan udara, serta memperkuat aliansi regional. Tudingan ini akan kembali digunakan sebagai dalih klasik untuk membenarkan serangan “pencegahan”, meskipun penilaian internal AS sendiri dilaporkan tidak sepenuhnya sejalan dengan alarmisme Tel Aviv. Bahkan, tuduhan bahwa Iran memperbaiki fasilitas pengayaan yang sebelumnya diserang masih diperdebatkan di kalangan pejabat Amerika.
Dorongan perang ini muncul kurang dari setahun setelah Israel melancarkan agresi besar terhadap Iran pada Juni 2025, ketika jalur diplomasi AS–Iran belum sepenuhnya tertutup. Saat itu, Israel menyerang situs nuklir, fasilitas militer, dan target sipil Iran di tengah kebuntuan negosiasi yang dipicu tuntutan maksimalis Washington, tuntutan yang melampaui isu nuklir hingga mencakup rudal balistik dan hubungan regional Iran.
Agresi tersebut, yang kemudian dikoordinasikan dengan Amerika Serikat, menewaskan hampir seribu warga Iran dan merusak infrastruktur vital negara itu. Bagi Tel Aviv, kehancuran itu belum cukup. Para pejabat Israel kini kembali menyuarakan kekhawatiran bahwa Iran membangun ulang kemampuan pertahanannya dengan kecepatan “tidak dapat diterima”. Pernyataan ini justru menelanjangi watak kolonial Rezim Zionis, ketika keamanan mereka hanya dianggap sah jika seluruh Kawasan dilucuti dari kemampuan bertahan.
Perang 12 Hari itu sendiri lahir dari kegagalan diplomasi yang disengaja. Iran menolak syarat AS yang menuntut pembatasan menyeluruh atas kedaulatan militernya tanpa pencabutan sanksi terlebih dahulu. Dalam situasi itu, Israel memilih jalan pembunuhan dan teror, menyerang pejabat serta ilmuwan nuklir Iran di rumah mereka, bahkan saat pertemuan diplomatik masih dijadwalkan. Pesannya jelas bahwa diplomasi hanya berguna selama ia tunduk pada kehendak kekuatan Barat.
Narasi ancaman kembali dimainkan dengan menyebut produksi rudal Iran yang diklaim bisa mencapai ribuan unit per bulan. Intelijen Barat pun membingkai isu ini sebagai ancaman utama, bukan program nuklir itu sendiri, dengan dalih bahwa gudang rudal akan melindungi fasilitas Iran dari serangan berikutnya. Logika ini mengungkap paradoks kolonial, ketika Iran dituduh berbahaya karena mampu mencegah agresi.
Namun, respons Teheran pada 2025 mengubah lanskap Kawasan. Untuk pertama kalinya, Iran melancarkan serangan langsung berskala besar ke Wilayah Pendudukan, menghantam pangkalan militer dan infrastruktur strategis Israel dengan ratusan rudal dan drone. Serangan ini menembus sistem pertahanan udara berlapis yang selama ini dibanggakan Israel dan sekutunya, menandai titik balik dalam persamaan deterensi regional.
Ketika AS ikut terlibat langsung dengan membombardir fasilitas nuklir Iran, Teheran meningkatkan respons dengan menyerang Pangkalan Udara Al-Udeid di Qatar, serangan balasan langsung pertama terhadap pangkalan AS dalam sejarah konfrontasi kedua negara. Meski demikian, Iran menahan sebagian kapasitas Militernya untuk mencegah perang Kawasan yang lebih luas, sebelum akhirnya menerima gencatan senjata yang diusulkan AS pada 24 Juni 2025.
Kini, dorongan Israel untuk perang baru muncul di tengah sinyal Iran yang justru membuka kembali peluang diplomasi. Kondisi ini berpotensi menyulitkan Tel Aviv, terlebih ketika Israel sendiri masih tersandera krisis di Gaza dan pelanggaran gencatan senjata yang terus menuai kecaman. Meski dibungkus dengan retorika “pertahanan diri”, fakta menunjukkan bahwa konflik 2025 dimulai oleh agresi Israel di saat diplomasi masih memungkinkan.
Dengan Netanyahu kembali menekan Washington, kekhawatiran merebak di Kawasan bahwa eskalasi kedua mungkin akan jauh lebih menghancurkan. Kini yang dipertaruhkan bukan sekadar konflik dua negara, melainkan masa depan stabilitas regional yang terus dikorbankan demi ambisi kolonial dan politik gila perang Israel.
