Loading

Ketik untuk mencari

Iran

Israel Belum Siap Berperang dengan Iran, Bahkan Lebih Rentan Ketimbang Saat Perang 12 Hari

POROS PERLAWANAN — Spekulasi sejumlah media yang menyebut Israel dapat dengan mudah kembali menyerang Iran dengan dukungan Amerika Serikat tidak sepenuhnya mencerminkan kondisi di lapangan. Laporan media Zionis justru menunjukkan Israel dan Amerika Serikat masih menghadapi persoalan serius berupa kekurangan amunisi pencegat serta lamanya waktu produksi ulang sistem pertahanan rudal.

Menurut laporan Kayhan pada Kamis 1 Januari, surat kabar Times of Israel menulis bahwa di tengah meningkatnya ancaman konfrontasi baru dengan Iran, para pakar keamanan memperingatkan kesiapan pertahanan Israel masih jauh dari memadai. Bahkan, posisi Israel dinilai lebih lemah dibandingkan saat Perang 12 Hari sebelumnya.

Laporan tersebut menyebut Iran telah membangun kembali dan menyesuaikan operasi persenjataan rudalnya. Sebaliknya, Israel dan Amerika Serikat kini dibatasi oleh menipisnya stok pencegat serta lambatnya proses pengadaan ulang. Kondisi ini berpotensi menjadikan konflik berikutnya jauh lebih menantang bagi pertahanan garis depan Israel.

Para analis keamanan menilai kemungkinan konfrontasi baru dengan Iran semakin nyata. Namun perang lanjutan justru berisiko memperlihatkan lemahnya kesiapan Israel menghadapi ancaman rudal Teheran yang masih signifikan. Konflik Juni lalu tidak hanya menyingkap luasnya kemampuan rudal Iran, tetapi juga keterbatasan sistem pertahanan yang dimiliki Israel dan sekutunya.

Laporan CNN pada Oktober lalu mengungkap sejumlah pengiriman natrium perklorat, bahan utama propelan padat untuk rudal jarak menengah konvensional Iran, telah tiba di Pelabuhan Bandar Abbas dari China. Sementara itu, NBC melaporkan kekhawatiran pejabat Israel terhadap pesatnya perkembangan program rudal balistik Iran. Sejumlah laporan menyebut Iran saat ini memiliki sekitar 2.000 rudal balistik, jumlah yang hampir sama dengan sebelum Perang 12 Hari.

Para analis menyimpulkan kerusakan yang ditimbulkan Israel terhadap program rudal balistik Iran selama konflik sebelumnya jauh lebih terbatas dibandingkan perkiraan awal. Penilaian ini memperkuat kekhawatiran bahwa kapasitas serangan Iran tetap utuh secara strategis.

“Ini adalah kekhawatiran yang sangat nyata,” kata Wakil Direktur Kebijakan Luar Negeri di Jewish Institute for National Security Affairs, Ari Cicurel. Ia menegaskan Israel dan Amerika Serikat telah menghabiskan persediaan pencegat dalam jumlah besar dan hingga kini masih jauh dari kemampuan untuk mengisi ulang ke tingkat semula.

Menurut laporan tersebut, pasukan Amerika Serikat menembakkan sekitar 100 hingga 150 rudal pencegat THAAD selama konflik 12 hari. Jumlah itu setara dengan hampir seperempat dari total stok pencegat THAAD milik AS.

Meski demikian, sedikitnya 36 rudal berhasil menembus sistem pertahanan dan menghantam kawasan permukiman. Serangan tersebut menewaskan 32 orang, melukai lebih dari 3.000 lainnya, serta merusak 2.305 rumah di 240 bangunan. Akibatnya, lebih dari 13.000 warga Israel terpaksa mengungsi.

Menurut Cicurel, konflik tersebut menjadi pelajaran pahit bagi Israel dan sekutunya. Ia menilai asumsi lama tentang efektivitas pertahanan rudal tidak memadai untuk menghadapi serangan intensitas tinggi yang berkelanjutan. Skala kebutuhan pencegat menunjukkan keterbatasan mendasar dalam konsep pertahanan rudal yang selama ini diandalkan.

Kesimpulan para analis menunjukkan gambaran yang tegas. Sementara Iran dalam beberapa bulan terakhir berhasil membangun kembali dan menata ulang jalur produksi rudalnya, Israel dan Amerika Serikat masih bergulat dengan persoalan struktural berupa kekurangan amunisi pencegat serta waktu produksi yang panjang. Dalam kondisi tersebut, jika konflik baru pecah, pertahanan Israel dinilai belum siap dan berpotensi lebih rentan dibandingkan saat Perang 12 Hari.

Tags:

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *