IRGC: Iran Siap Beri ‘Tanggapan Menghancurkan’ atas Setiap Serangan Baru AS
POROS PERLAWANAN — Mantan Panglima Tertinggi Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC), Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC), Mohsen Rezaei menegaskan kesiapan penuh Angkatan Bersenjata Iran untuk memberikan “tanggapan yang menghancurkan” terhadap Amerika Serikat jika terjadi agresi militer baru terhadap Teheran.
Pernyataan tersebut disampaikan Rezaei dalam wawancara dengan Islamic Republic of Iran News Network (IRINN) pada 15 Januari, menyusul penarikan ancaman Presiden Amerika Serikat, Donald Trump untuk menyerang Iran dengan dalih melindungi kelompok perusuh yang dikaitkan dengan pihak asing.
Rezaei merujuk pengalaman Iran pada tahun kedua perang Iran–Irak pada dekade 1980-an, ketika pasukan Iran berhasil membebaskan lebih dari 90 persen wilayah yang diduduki dan melanjutkan operasi hingga akhir konflik, meski mendapat tekanan dari Amerika Serikat dan Uni Soviet untuk menghentikan perang. Menurutnya, keputusan tersebut berkontribusi pada stabilitas keamanan Iran selama beberapa dekade.
“Kami menyarankan Anda untuk mundur dan tidak melangkah lebih jauh. Anda mengabaikan sikap menahan diri dan kesabaran strategis kami terhadap kerusakan yang telah ditimbulkan selama 50 tahun terakhir,” ujar Rezaei, merujuk langsung kepada Trump.
Ia memperingatkan bahwa jika Iran dipaksa kembali ke situasi “Pertahanan Suci”, Amerika Serikat akan menghadapi konsekuensi serius. Rezaei juga menegaskan rakyat Iran tidak menginginkan perang, namun akan bersatu membela negara jika diserang.
“Kami ingin mempertahankan persaudaraan dan persahabatan dengan semua negara. Namun, pangkalan-pangkalan Anda berada dalam jangkauan kami. Pangkalan-pangkalan itu berada di antara kami dan Wilayah Pendudukan Israel—dan akan menjadi titik kerugian bagi Anda,” katanya, merujuk pada kehadiran Militer Amerika Serikat di Asia Barat.
Rezaei, yang kini menjadi anggota Dewan Kebijakan Iran, menambahkan tekanan militer, politik, dan ekonomi terhadap Republik Islam justru mendorong kemajuan signifikan di bidang intelijen, keamanan, ekonomi, dan teknologi militer.
Ia juga menyebut Washington menunggu terjadinya gelombang protes di Iran untuk melancarkan serangan dari tengah kerusuhan. Menurutnya, aksi unjuk rasa besar-besaran yang melibatkan jutaan warga Iran pada awal pekan ini telah menggagalkan skenario tersebut.
“Situasinya memang sensitif, tetapi Angkatan Bersenjata kami siap. Jari kami sudah berada di pelatuk,” tegasnya.
Dalam konteks domestik, Rezaei menyebut demonstrasi ekonomi damai yang terjadi bulan lalu berubah menjadi kekerasan setelah pernyataan tokoh-tokoh Amerika Serikat dan Israel, yang diperkuat media berbahasa Persia yang terkait dengan Israel mendorong aksi vandalisme dan kekacauan.
Pemerintah Iran, menurutnya, telah mengakui legitimasi keluhan ekonomi masyarakat dan berjanji menanganinya, sembari menuding unsur-unsur yang didukung asing mengeksploitasi tekanan ekonomi akibat sanksi unilateral Amerika Serikat.
Lembaga keamanan dan peradilan Iran juga melaporkan pembongkaran sejumlah sel bersenjata dan penangkapan agen-agen yang didukung asing selama kerusuhan, termasuk yang terkait dengan Mossad.
Dalam beberapa hari terakhir, Trump berulang kali mengancam akan menyerang Iran jika, menurut tudingannya, Pemerintah Iran membunuh apa yang ia sebut sebagai “pengunjuk rasa damai”. Para pejabat dan komandan militer Iran pun merespons dengan peringatan keras, menegaskan bahwa setiap agresi akan menjadikan pangkalan dan aset Amerika Serikat di Kawasan sebagai target pembalasan yang sah.
