Intelijen Iran Ungkap Detail ‘Operasi Serangan Kilat’ yang Dirancang Amerika-Israel
POROS PERLAWANAN — Dinas Intelijen Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran mengungkap rincian operasi yang disebut “Operasi Serangan Kilat”, yang menurut mereka merupakan bagian dari rencana Amerika-Israel untuk memicu kekacauan dan aksi teror di dalam negeri.
Dalam pernyataan pada 23 Januari, yang ditujukan kepada rakyat Iran pada peringatan Hari Garda Revolusi, Badan Intelijen IRGC menyebut peristiwa teror yang terjadi baru-baru ini sebagai kelanjutan dari “Perang 12 Hari”. Pernyataan itu menegaskan bahwa rencana komprehensif yang disebut “Amerika-Zionis” berhasil digagalkan sebagian berkat kesiapan aparat keamanan dan kewaspadaan masyarakat Iran.
Menurut pernyataan tersebut, sebuah “ruang komando musuh” dibentuk segera setelah Perang 12 Hari, dengan melibatkan 10 Badan Intelijen yang disebut bermusuhan dan saling bersaing. Dokumen dan informasi yang diklaim diperoleh dari ruang itu menunjukkan bahwa penghasutan kekacauan internal, intervensi militer, serta penggerakan massa menjadi pilar utama operasi untuk menciptakan ancaman eksistensial terhadap Iran.
Intelijen IRGC menyebut operasi lapangan yang dinamai “Operasi Serangan Kilat” mencakup sejumlah tindakan, di antaranya penyusupan dan eksploitasi unsur teroris di tengah barisan demonstran, serta dukungan dan keterlibatan langsung pejabat politik dan keamanan dari pihak lawan dalam menyerukan mobilisasi kelompok perusuh.
Selain itu, pernyataan tersebut menyinggung dugaan manipulasi algoritma media sosial untuk menghasut kekerasan dan mengarahkan titik-titik lokasi seruan aksi.
Badan Intelijen IRGC juga menyatakan adanya pemanfaatan individu yang pernah dihukum karena kejahatan terorganisasi, termasuk perampokan bersenjata dan penyelundupan. Dalam pernyataan itu turut disebutkan adanya pembunuhan brutal yang menyasar warga sipil, aparat keamanan, polisi, serta pasukan mobilisasi.
Dalam konteks penanganan ancaman tersebut, Intelijen Garda Revolusi menyebut telah memasukkan langkah-langkah intervensi kognitif dan serangkaian operasi intelijen ke dalam agenda mereka guna mencegah serta mengendalikan tingkat keparahan, kedalaman, dan cakupan gangguan keamanan.
Pernyataan itu juga menyatakan operasi tandingan terhadap dua aspek, yakni “kekacauan internal” dan “gerakan kolektif”, telah dimulai.
Berdasarkan pernyataan IRGC, langkah-langkah tersebut menghasilkan penangkapan dan pemanggilan 735 orang yang terkait jaringan teroris. Selain itu, aparat disebut melakukan pemanggilan dan pembinaan terhadap 11.000 orang yang dinilai rentan terpengaruh.
IRGC juga menyatakan telah menyita 743 pucuk senjata, termasuk senjata militer dan senjata berburu tanpa izin serta mengidentifikasi 46 orang yang disebut sebagai anggota jaringan yang bekerja sama dengan Badan Intelijen asing.
