Pendidikan Analitis Mahasiswa Dinilai ‘Melemah’ di Tengah Gelombang Demonstrasi Kampus Iran
POROS PERLAWANAN – Gelombang demonstrasi mahasiswa di sejumlah kampus Iran pada Senin 23 Februari, memunculkan kembali perdebatan tentang kapasitas analitis generasi mahasiswa dan peran universitas dalam membentuk pemahaman kritis. Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Kebudayaan Universitas Islam Azad, Farzad Jahanbin menilai tantangan utama bukan kekurangan mahasiswa berpengetahuan, melainkan lemahnya sistem pembinaan analitis di lingkungan akademik.
Dalam wawancara dengan Mehrnews, Jahanbin menyoroti dinamika protes mahasiswa yang berlangsung di berbagai kota. Menurut laporan media internasional, demonstrasi pada 23 Februari terjadi di banyak kampus dan telah memasuki hari ketiga berturut-turut. Aksi berlangsung di Teheran, Isfahan, dan sejumlah wilayah lain, melibatkan mahasiswa dari Universitas Amirkabir, Universitas Teheran, Universitas Teknologi Sharif, University of Science and Culture, serta Isfahan University of Technology.
Aksi yang semula berupa peringatan terhadap korban demonstrasi sebelumnya berkembang menjadi arena benturan antarkelompok mahasiswa. Sebagian peserta mengangkat slogan politik, sementara di beberapa lokasi muncul konfrontasi yang dipicu perbedaan pandangan ideologis.
Dalam konteks itu, Jahanbin menegaskan, “Masalah universitas hari ini bukan kurangnya mahasiswa berpengetahuan, melainkan kelemahan dalam pelatihan analitis dan perbedaan kedalaman pemahaman di kalangan mahasiswa.”
Narasi “Mahasiswa Dangkal” Dinilai Tidak Ilmiah
Jahanbin menolak generalisasi yang menyebut mahasiswa masa kini kehilangan pemahaman politik. Setiap generasi, menurutnya, selalu memiliki spektrum kemampuan yang beragam.
“Menyimpulkan seluruh mahasiswa sebagai dangkal merupakan analisis yang tidak ilmiah dan merugikan,” katanya.
Ia mengakui terdapat gejala penyederhanaan cara berpikir di sebagian kalangan mahasiswa. Namun kondisi itu tidak mencerminkan runtuhnya modal intelektual kampus. Banyak mahasiswa masih mampu menghasilkan analisis strategis terhadap isu nasional dan internasional.
“Masalahnya bukan hilangnya pemahaman, tetapi heterogenitas kedalaman pemahaman,” ujarnya.
Ledakan Informasi dan Perubahan Pola Berpikir
Perubahan area media dan sosial dinilai berpengaruh besar. Mahasiswa hidup dalam arus informasi cepat dengan narasi yang saling bertentangan. Kecepatan distribusi sering mengalahkan kedalaman analisis.
Menurut Jahanbin, persoalan utama bukan kekurangan data, melainkan ketiadaan kerangka analitis yang kokoh untuk memahami data. Metode pendidikan lama tidak lagi cukup untuk menjawab kebutuhan generasi baru.
“Kita tidak bisa mendidik mahasiswa hari ini dengan mekanisme yang sama seperti dekade sebelumnya,” katanya.
Tanggung Jawab Universitas dalam Membentuk Analisis
Jahanbin menekankan universitas tidak cukup berfungsi sebagai ruang transfer pengetahuan teknis. Kampus perlu menjadi pusat pembentukan kemampuan analitis. Mahasiswa harus mampu membedakan berita dan analisis, memahami konteks sejarah, serta membaca relasi isu domestik dan global.
Ia menguraikan tiga ranah tanggung jawab universitas.
Pertama, kebijakan pendidikan dengan penguatan mata kuliah umum strategis, literasi media, dan sejarah kontemporer.
Kedua, ruang dialog melalui debat metodologis dan diskusi lintas perspektif.
Ketiga, model pendidikan yang mendorong pendekatan analitis menggantikan reaksi emosional.
“Jika universitas hanya mengelola krisis jangka pendek tanpa strategi peningkatan pemahaman sejarah dan politik, kesenjangan analitis akan terus muncul,” ujarnya.
Organisasi Mahasiswa dan Ruang Pembentukan Intelektual
Peran organisasi mahasiswa juga mendapat sorotan. Jahanbin menilai organisasi tidak cukup hanya mengeluarkan pernyataan atau respons spontan terhadap isu politik.
“Organisasi mahasiswa harus menjadi sekolah bagi pembentukan intelektual,” katanya.
Organisasi dinilai perlu membangun lingkar studi, memperkuat dialog kritis, mengenalkan sejarah kontemporer, serta mengarahkan politisasi menuju pemahaman politik yang bertanggung jawab. Keberagaman organisasi dipandang sebagai peluang selama kompetisi diarahkan pada peningkatan kualitas pemikiran.
Redefinisi Misi Budaya Universitas
Jahanbin menutup dengan penegasan pentingnya perombakan misi kultural kampus di tengah meningkatnya dinamika protes mahasiswa. Universitas diharapkan berinvestasi pada pembinaan intelektual jangka panjang dan membangun budaya dialog.
“Universitas harus mendidik generasi yang kritis, adil, sadar sejarah, bukan generasi emosional atau pasif,” ujarnya.
Ia menegaskan kritik terhadap kondisi kampus saat ini bukan ditujukan kepada mahasiswa atau pejabat universitas, melainkan dorongan untuk merancang ulang peran budaya universitas agar lebih relevan dengan tantangan zaman dan dinamika sosial yang berkembang.
