Iran Bantah Serang Oman, Peringatkan Operasi ‘Bendera Palsu’ AS–Israel
POROS PERLAWANAN – Staf Umum Angkatan Bersenjata Iran membantah keterlibatan dalam serangan pesawat tak berawak yang menargetkan pelabuhan Duqm dan Salalah di Kesultanan Oman. Otoritas Militer Iran menyebut tudingan tersebut tidak berdasar dan memperingatkan potensi operasi “bendera palsu” yang ditujukan untuk menyudutkan Teheran.
Mengutip Press TV pada Rabu 4 Maret, pernyataan resmi yang dirilis melalui Pusat Komunikasi Staf Umum menolak klaim agresi terhadap Oman, yang disebut sebagai sahabat dan tetangga. Penolakan muncul di tengah rangkaian serangan drone misterius yang menyasar infrastruktur energi di kawasan Teluk.
Menurut laporan Oman News Agency, sebuah tangki bahan bakar di pelabuhan komersial Duqm dihantam beberapa drone pada Selasa. Otoritas setempat memastikan situasi terkendali dan tidak ada korban jiwa. Insiden tersebut menjadi yang kedua dalam sepekan setelah dua drone menyerang fasilitas yang sama pada Minggu dan melukai seorang pekerja.
Di wilayah utara, Pemerintah Oman melaporkan dua drone dicegat di atas Kegubernuran Dhofar. Satu drone lain jatuh di sekitar pelabuhan Salalah.
Konspirasi dan Respons Militer
Komando Militer Gabungan Iran, Markas Besar Khatam al-Anbiya menyebut serangan terhadap negara-negara Muslim sebagai manuver musuh untuk merusak citra Iran di tengah eskalasi regional.
“Para agresor Zionis dan Amerika berupaya menyerang pusat diplomatik dan kepentingan negara-negara Muslim di Kawasan dengan tujuan menyalahkan Republik Islam Iran,” demikian pernyataan resmi Komando tersebut.
Pernyataan yang sama menegaskan bahwa operasi militer Iran berlangsung terukur dan terarah. “Serangan Angkatan Bersenjata Republik Islam Iran secara eksklusif ditujukan terhadap Rezim Zionis dan lokasi pasukan agresor Amerika Serikat serta infrastruktur militer dan keamanan mereka.”
Teheran menilai serangan ke negara-negara netral dirancang untuk mengalihkan tekanan dari Washington dan Tel Aviv yang disebut menghadapi kebuntuan strategis.
Dampak Regional
Ketegangan regional berdampak pada sektor energi. Qatar menghentikan produksi gas alam cair yang menyumbang sekitar seperlima pasokan global. Arab Saudi menangguhkan operasi di kilang domestik terbesar. Di Uni Emirat Arab, Pemerintah Abu Dhabi mengonfirmasi kebakaran di terminal tangki bahan bakar Musaffah pascaserangan drone, meski operasional disebut tetap berjalan.
Iran menegaskan tidak memiliki permusuhan terhadap negara-negara Muslim tetangga dan menyatakan komitmen pada stabilitas Kawasan. Teheran menyebut setiap aksi militer dilakukan sebagai respons terhadap kepentingan Amerika Serikat dan Israel di Kawasan.
