Loading

Ketik untuk mencari

Lebanon

Sekjen Hizbullah kepada Mujahidin: Berkat Kalian, Tiran Akan Runtuh dan Matahari Pembebasan Terbit

POROS PERLAWANAN — Sekretaris Jenderal Hizbullah, Syekh Naim Qasim mengirimkan pesan tegas dari pusat kepemimpinan kepada para mujahidin di garis depan. Perlawanan bukan hanya respons militer, melainkan poros kehormatan yang menentukan jatuh bangunnya tirani dan arah masa depan Lebanon.

Syekh Naim Qasim menyampaikan pesan kepada para pejuang Perlawanan Islam di Lebanon sebagai tanggapan atas pesan dari lapangan. Pesan itu menekankan bahwa menghadapi agresi Israel-Amerika merupakan perbuatan paling mulia serta pentingnya melanjutkan perlawanan dalam membela Lebanon secara sah.

Mengutip Al Mayadeen pada Rabu 18 Maret, Syekh Naim Qasim kembali menyampaikan pesan kepada para pejuang Perlawanan Islam di Lebanon sebagai respons atas komunikasi dari garis depan.

Syekh Naim membuka pesannya, “Pesanmu sampai kepadaku dari medan perang setelah gelombang jihadmu menyebar ke seluruh negeri… Aku menjawabmu dengan cinta dan segenap emosi.”

Ia juga menyampaikan, “Konfrontasi kalian (mujahidin) dengan agresi Israel-Amerika merupakan salah satu tindakan paling mulia dan paling tinggi kedudukannya di sisi Allah Yang Maha Kuasa, serta di sisi mereka yang percaya pada hak asasi manusia untuk hidup bebas, bermartabat, dan terhormat.”

Sekjen Hizbullah menegaskan para mujahidin “bangkit mengatasi kehinaan mengemis demi remah-remah harta duniawi yang fana dari para tiran dan penindas, berpegang teguh pada nikmat iman dan kebenaran yang Allah Yang Maha Kuasa anugerahkan, sehingga dunia datang kepada mereka dengan rendah hati”.

Ia melanjutkan, “Medan perang menjadi saksi bahwa kalian adalah pahlawan dan pemberani. Hati kalian terikat kepada Allah Yang Maha Kuasa, dan dari-Nya kalian memperoleh wawasan serta keberanian. Teladan kalian adalah pemimpin para nabi dan rasul, Muhammad (s.a.w), dalam pidatonya kepada pamannya: ‘Wahai paman, demi Allah, jika mereka meletakkan matahari di tangan kananku dan bulan di tangan kiriku, dengan syarat aku meninggalkan perkara ini sampai Allah menampakkannya, atau aku binasa karenanya, aku tidak akan meninggalkannya’.”

Dalam pesannya, Syekh Naim menekankan para mujahidin “menghadapi kejahatan biadab Zionis, tirani kejam Amerika, Barat yang mendambakan bagian dari aliran darah suci, serta pihak pengecut atau pengkhianat yang mencari kehidupan dalam penundukan dan penghinaan”.

Para pejuang juga “menghadapi setan-setan di bumi dengan cahaya iman dan jihad, teguh dan tak tergoyahkan oleh guncangan… cahaya itu bersinar di hadapan mereka dengan kabar baik tentang masa depan gemilang dan kemenangan nyata”.

Perlawanan dalam posisi pertahanan yang sah

Syekh Naim menegaskan “Hizbullah dan Perlawanan Islam berada dalam posisi pertahanan yang sah, dalam pertempuran melawan kehancuran, membela pembebasan Tanah Air, menolak penyerahan diri, serta melindungi keberadaan dan kemerdekaan”.

Menurutnya, panji kebenaran “berkibar bersama para mujahidin, bersama jihad para pejuang dan orang-orang beriman, dengan kesabaran serta pengorbanan besar”.

Selanjutnya Syekh Naim menyatakan, “Sejarah akan mencatat, sebagaimana masa kini telah mencatat, bahwa kalian adalah obor pengorbanan dan pemberian kemanusiaan yang mulia. Kalian berjuang dalam kondisi paling sulit dengan tingkat keyakinan kemenangan tertinggi, serta mencegah musuh mencapai tujuannya.”

Bersama kalian, wahai panji Perlawanan, panji kami takkan pernah jatuh.
Bersama kalian, wahai pelopor kebebasan, para tiran akan tumbang.
Bersama kalian, wahai pelindung Tanah Air, masa depan generasi kami terjaga.
Bersama kalian, wahai obor pengorbanan, matahari pembebasan dan kebebasan akan bersinar.

Syekh Naim kemudian menambahkan, “Jalan kita adalah jalan Imam Husein (semoga kedamaian menyertainya), mengikuti jejak Ahlulbait (semoga kedamaian menyertai mereka), menghadapi persoalan dengan bermartabat dan tidak tunduk pada penghinaan, memilih antara dua kebaikan, kemenangan atau mati syahid. Keduanya bermartabat, bukan penghinaan.”

“Semua pengorbanan yang telah dilakukan, terutama para pemimpin syuhada bangsa, Sayyid Hasan, Sayyid Abbas, Syekh Ragheb, Sayyid Hashim, para pemimpin dan mujahidin yang gugur, yang terluka, para tawanan, serta kontribusi besar rakyat, menjadi bukti jalan jihad, perlawanan, dan kesetiaan, sekaligus aset bagi keberlanjutan perjuangan, menjaga amanah, dan mencapai tujuan.”

Ia menjelaskan “musuh berada dalam kebingungan karena cara-cara kriminal mereka mengancam kematian, sementara kematian berada di tangan Allah Yang Maha Kuasa. Mereka tidak memiliki sesuatu untuk menjatuhkan kalian, sementara kalian memiliki kemampuan untuk menjatuhkan dan mengalahkan mereka. Kalian adalah pemilik sah tanah ini, mendapat pertolongan dari Allah Yang Maha Kuasa, serta mengatasi kesulitan dengan keyakinan pada janji-Nya, ‘Perangilah mereka; Allah akan menghukum mereka melalui tanganmu, mempermalukan mereka, memberimu kemenangan atas mereka, dan menyembuhkan dada orang-orang beriman’ (At-Tawbah: 14).”

Ia menambahkan, “Kita terus bersatu dalam kesetiaan kepada Pemimpin, Ayatullah Sayyid Mujtaba Khamenei (semoga bayangannya abadi), mengikuti jejak pemimpin bangsa yang gugur sebagai syahid, Imam Khamenei (semoga Allah menyucikan jiwanya), serta menapaki jalan pembaharu agama, Imam Khomeini (semoga Allah menyucikan jiwanya), di jalan syahid agung, Sayyid Hasan (semoga Allah meridainya).”

Lima poin dari opsi Perlawanan

Dalam pesannya, Syekh Naim menyebut pilihan menghadapi agresi selama 15 bulan dengan kesabaran memberi ruang bagi diplomasi sekaligus mengungkap beberapa hal:

1. Keberanian Gerakan Perlawanan dan rakyatnya dalam kesabaran serta ketelitian menjaga komitmen terhadap perjanjian dan janji.

2. Keberanian Perlawanan dalam menangkis agresi pada waktu yang tepat.

3. Tingkat kesiapan pertempuran yang cermat, dengan ambiguitas kemampuan, batas, dan penyebaran, tanpa terpaku pada lokasi geografis, serta fleksibilitas pergerakan pejuang dari berbagai wilayah Lebanon ke garis depan.

4. Kemampuan mengejutkan musuh dengan menggagalkan kejutan mereka, memahami rencana agresif, dan bersiap menghadapinya.

5. Solusi yang tersedia mencakup penghentian agresi, penarikan dari Wilayah yang Diduduki, pembebasan tahanan, serta memungkinkan warga kembali ke rumah disertai dimulainya rekonstruksi.

Ia menutup dengan menegaskan “perlawanan terus berlanjut di medan kehormatan, apa pun pengorbanannya,” serta “medan pertempuran yang menentukan hasil”.

Ia berkata: “Para pejuang Perlawanan yang kucintai… Aku bersyukur kepada Allah Yang Maha Kuasa dengan syukur tak terhingga karena berada bersama kalian. Aku diterangi semangat mati syahid kalian yang tak takut mati, bersama rakyat yang terhormat dan berkorban, sehingga bersama-sama kita merasakan manisnya pembebasan dan kemuliaan.”

Pesan itu menutup lingkaran narasi perlawanan, bukan pada retorika, melainkan pada satu garis tegas: hasil tidak ditentukan di meja perundingan, tetapi di medan pertempuran, tempat kehormatan, pengorbanan, dan kemenangan dipertaruhkan sekaligus dipastikan.

Tags:

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *