Loading

Ketik untuk mencari

Iran

Pezeshkian Pertanyakan Arah Washington dalam Surat Terbuka ke Rakyat Amerika

POROS PERLAWANAN — Presiden Iran, Masoud Pezeshkian melayangkan surat terbuka kepada rakyat Amerika Serikat dengan satu pertanyaan yang langsung menyasar arah kebijakan Washington; apakah Amerika benar-benar membela kepentingannya sendiri, atau kian terseret menjadi proksi Israel dalam konflik yang terus memanas di Timur Tengah?

Surat yang dirilis pada Rabu 1 April itu ditujukan langsung kepada publik Amerika. Isinya tajam dan politis, sekaligus menggugat posisi Washington dalam eskalasi Kawasan.

Sejak awal, satu pesan ditegaskan tanpa bertele-tele. Iran bukan negara agresor.

Meski memiliki sejarah panjang dan pengaruh regional yang besar, Iran disebut “tidak pernah, dalam sejarah modernnya, memilih jalan agresi, ekspansi, kolonialisme, atau dominasi”. Semua yang dilakukan, menurut surat itu, sebatas menghadapi pihak-pihak yang menyerang.

Garis pemisah juga ditegaskan antara negara dan rakyat Iran. Tidak ada permusuhan terhadap bangsa lain, termasuk terhadap warga Amerika. “Rakyat Iran tidak menyimpan permusuhan terhadap bangsa lain, termasuk rakyat Amerika, Eropa, atau negara-negara tetangga”, tulis Pezeshkian.

Sikap itu disebut sebagai bagian dari budaya dan kesadaran kolektif, bukan posisi politik sesaat.

Narasi “Ancaman Global”

Pada bagian berikutnya, citra Iran sebagai “ancaman global” dipersoalkan. Narasi tersebut, menurut Pezeshkian, tidak lahir dari realitas, melainkan dibentuk untuk melayani kepentingan politik dan ekonomi, mulai dari pembenaran tekanan hingga pemeliharaan dominasi militer dan industri persenjataan.

“Dalam lingkungan seperti itu, jika ancaman itu tidak ada, maka ancaman itu dibuat-buat”.

Arah surat kemudian dibalik. Kehadiran Militer Amerika Serikat di sekitar Iran justru disebut sebagai sumber ancaman di Kawasan. Dalam kerangka itu, postur militer Iran diposisikan sebagai langkah pertahanan, bukan ekspansi.

Surat tersebut hadir di tengah meningkatnya ketegangan, setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan tanpa provokasi terhadap Iran sejak 28 Februari.

Washington dalam surat itu disebut memanfaatkan pangkalan regional dan wilayah negara tetangga untuk melancarkan serangan ilegal.

Lebih dari 2.000 warga sipil Iran dilaporkan tewas, termasuk ratusan anak-anak. “Serangan-serangan Amerika baru-baru ini yang dilancarkan dari pangkalan-pangkalan ini telah menunjukkan betapa mengancamnya kehadiran militer semacam itu”, tulis Pezeshkian.

“Tidak ada negara yang menghadapi kondisi seperti itu akan mengabaikan penguatan kemampuan pertahanannya”. Pernyataan itu sekaligus menolak anggapan bahwa Iran menjadi pihak yang memulai konflik.

Jejak Ketidakpercayaan

Untuk menjelaskan akar ketegangan, surat tersebut kembali menyinggung Kudeta 1953. Peristiwa yang disebut sebagai “campur tangan Amerika yang ilegal” yang merusak proses demokrasi Iran dan meninggalkan ketidakpercayaan mendalam.

Menurut Teheran, luka itu tidak pernah benar-benar pulih.

Ketidakpercayaan disebut kian menguat melalui dukungan AS terhadap Shah, keterlibatan dalam konflik Iran-Irak pada era 1980-an, sanksi ekonomi, hingga tindakan militer yang disebut berulang dalam periode terakhir.

Namun tekanan tersebut, menurut surat itu, tidak membuat Iran runtuh.

Sebaliknya, berbagai indikator disebut menunjukkan perkembangan, mulai dari peningkatan tingkat melek huruf hingga kemajuan di sektor teknologi, kesehatan, dan infrastruktur. “Ini adalah realitas yang terukur dan dapat diamati, yang berdiri sendiri dan tidak bergantung pada narasi yang dibuat-buat”.

Pertanyaan Inti

Nada surat berubah lebih langsung saat menyinggung dampak perang. Kerusakan terhadap nyawa, rumah, dan masa depan masyarakat disebut tidak akan berlalu begitu saja. Dari situ, satu pertanyaan diajukan: “Kepentingan rakyat Amerika mana yang sebenarnya dilayani oleh perang ini?”

Pertanyaan itu diperkuat dengan rujukan pada korban sipil, penghancuran fasilitas kesehatan, dan retorika penghancuran total yang dinilai merusak posisi global Amerika Serikat.

Kesepakatan nuklir 2015 juga disinggung sebagai bagian dari jalur diplomasi yang pernah ditempuh. Iran disebut telah memenuhi komitmennya sebelum perjanjian tersebut ditinggalkan oleh Donald Trump pada 2018, langkah yang dinilai mendorong Kawasan menuju konfrontasi.

“Keputusan untuk menarik diri dari perjanjian itu… adalah pilihan destruktif yang dibuat oleh Pemerintah AS”.

Serangan terhadap infrastruktur Iran juga disebut sebagai “kejahatan perang” yang menargetkan warga sipil dan mencerminkan kebuntuan strategi musuh.

Peran Israel

Bagian paling politis muncul saat pengaruh Israel terhadap kebijakan Amerika disorot. Washington dipertanyakan, apakah masih bertindak atas kepentingannya sendiri atau telah terseret ke dalam agenda Tel Aviv.

“Bukankah Amerika juga telah memasuki agresi ini sebagai proksi Israel…?”

Israel juga disebut sedang membangun narasi “ancaman Iran” untuk mengalihkan perhatian dari situasi Palestina.

Lebih jauh, disebut adanya upaya menyeret Amerika ke konflik berkepanjangan yang mahal secara ekonomi dan manusia.

Persimpangan Jalan

Di bagian penutup, publik Amerika diajak melihat Iran di luar narasi resmi. Masyarakat diminta menilai secara langsung, termasuk melalui interaksi dengan warga Iran atau kontribusi diaspora di dunia akademik dan teknologi.

Dunia, menurut surat itu, kini berada di persimpangan. “Melanjutkan jalan konfrontasi lebih mahal dan sia-sia daripada sebelumnya”.

Pilihan antara konfrontasi dan keterlibatan disebut akan menentukan arah masa depan.

Sebagai penutup, satu pesan ditegaskan: Iran akan tetap bertahan. “Sepanjang ribuan tahun sejarahnya… Iran tetap bertahan, tangguh, bermartabat, dan bangga”.

Tags:

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *