Tuntutan Lama Washington dengan Tanda Tangan Baru Zarif
POROS PERLAWANAN – Pemimpin Redaksi harian Kayhan, Hossein Shariatmadari menguliti isi artikel Mohammad Javad Zarif di Foreign Affairs yang terbit pada 3 April 2026. Dalam pembacaannya, tulisan itu tidak menawarkan solusi bagi Iran, tetapi mengulang tuntutan lama Washington dengan bahasa yang lebih lunak dan kemasan yang lebih dapat diterima.
Bagi Shariatmadari, persoalannya tidak terletak pada pilihan kata, melainkan pada arah politik yang dibawa tulisan tersebut. Ketika pihak lawan mulai merasakan tekanan, yang justru diajukan adalah formula pelonggaran dari pihak Iran sendiri. Dalam logika seperti ini, yang sedang ditawarkan bukan jalan keluar, melainkan pengurangan daya tekan pada saat lawan paling membutuhkannya.
Artikel Zarif yang berjudul “How Iran Should End the War: A Deal Tehran Could Take” memuat sejumlah usulan yang sama sekali tidak asing. Pembatasan program nuklir Iran, pembukaan Selat Hormuz, pakta non-agresi dengan Amerika Serikat, hingga peluang kerja sama ekonomi dengan Washington. Semua itu telah lama menjadi bagian dari daftar keinginan Amerika dan sekutunya.
Dalam salah satu bagiannya, artikel itu menulis: “Iran harus, sebagai imbalan atas berakhirnya seluruh sanksi, menerapkan pembatasan pada program nuklirnya dan membuka kembali Selat Hormuz, sebuah kesepakatan yang sebelumnya tidak diterima Washington, tetapi kini mungkin akan dipertimbangkan. Iran juga harus menyatakan kesiapan untuk sebuah pakta non-agresi timbal balik dengan Amerika Serikat, di mana kedua negara berkomitmen untuk tidak saling menyerang di masa depan. Iran juga dapat menawarkan interaksi ekonomi dengan Amerika Serikat, yang diklaim akan menguntungkan rakyat kedua negara”.
Menurut Shariatmadari, tidak ada satu pun gagasan baru dalam isi tulisan tersebut. Hal yang berubah hanya tanda tangan di bawahnya. Sebab butir-butir itu selama ini telah hidup dalam pernyataan pejabat Amerika, narasi media Barat, propaganda Israel, laporan lembaga riset, dan pesan-pesan yang berulang kali disalurkan melalui berbagai perantara Kawasan.
Karena itu, pertanyaan yang diajukan bukan lagi apakah artikel ini terdengar diplomatis, melainkan untuk kepentingan siapa ia ditulis. Mengapa narasi semacam ini kembali diangkat justru pada saat tekanan terhadap lawan sedang bekerja. Mengapa, ketika pihak seberang membutuhkan jeda, yang muncul justru seruan untuk memberi mereka ruang bernapas.
Dalam pembacaan Shariatmadari, jawabannya tidak sulit dicari. Washington membutuhkan waktu. Setiap kali tekanan meningkat, bahasa seperti “deeskalasi”, “kesepakatan”, dan “jalan rasional” kembali dijual sebagai pilihan yang seolah-olah matang dan bertanggung jawab. Padahal pengalaman telah berulang kali menunjukkan bahwa setiap kali Iran diminta melonggarkan posisinya, hasilnya bukan keseimbangan yang adil, melainkan tekanan lanjutan dengan bentuk yang lebih rapi dan istilah yang lebih sopan.
Dari sudut pandang ini, pembukaan Selat Hormuz tidak dapat dipahami sebagai langkah bijak. Itu berarti melepaskan salah satu instrumen tekanan paling penting yang dimiliki Iran, tepat ketika nilainya sedang tinggi. Hal yang sama berlaku pada pembatasan program nuklir. Selama ini ia selalu dijual sebagai moderasi, padahal dalam praktiknya Iran diminta mundur lebih dulu agar pihak lawan dapat menata ulang posisinya tanpa membayar harga yang sepadan.
Usulan tentang pakta non-agresi dengan Amerika Serikat bahkan dipandang lebih ganjil lagi. Iran selama bertahun-tahun hidup di bawah sanksi, sabotase, operasi intelijen, ancaman militer, dan pembunuhan terarah. Menempatkan Teheran dan Washington seolah sebagai dua pihak setara yang sama-sama hanya perlu berjanji untuk tidak saling menyerang adalah penyederhanaan yang menyesatkan. Dalam logika semacam ini, agresor dan pihak yang diserang perlahan didorong masuk ke bingkai moral yang sama.
Di situlah letak persoalan yang sebenarnya. Ini bukan lagi soal artikel, melainkan soal cara membaca realitas. Apakah tekanan yang sedang berlangsung akan dipahami sebagai kesempatan untuk memperkuat posisi Iran, atau justru dijadikan alasan untuk melunakkan sikap pada saat lawan paling membutuhkan kelonggaran.
Nama Zarif sendiri, dalam pembacaan ini, tidak dapat dipisahkan dari pengalaman sebelumnya. Selama bertahun-tahun, ia tampil sebagai wajah dari keyakinan lama jika kelenturan Iran pada akhirnya akan memaksa Barat bersikap rasional. Namun pengalaman justru menunjukkan arah yang berlawanan. Sanksi tidak benar-benar berakhir, struktur tekanan tidak dibongkar, dan setiap peluang baru pada akhirnya hanya membuka ruang bagi tekanan berikutnya.
Karena itu, artikel ini tidak dibaca sebagai teks yang berdiri sendiri. Ia dibaca sebagai bagian dari pola lama yang terus berulang. Dari sana, pertanyaan yang lebih tajam pun muncul. Jika isi artikel ini begitu dekat dengan apa yang selama ini diinginkan Washington, lalu apa sebenarnya yang sedang dipertahankan di dalamnya, kepentingan Iran atau kebutuhan lawan untuk keluar dari tekanan?
Jika itu hanya kebetulan, maka kebetulan itu terlalu rapi. Jika bukan, maka persoalannya tidak lagi berhenti pada perbedaan pandangan. Ia menyentuh wilayah yang jauh lebih sensitif, yaitu siapa yang sedang memberi ruang bagi lawan, tepat ketika tekanan terhadap mereka mulai efektif.
Dalam politik, kekalahan jarang datang dengan nama aslinya. Ia lebih sering hadir sebagai akal sehat, moderasi, atau peluang. Sedangkan sejarah, bagi bangsa yang pernah berkali-kali dikhianati meja perundingan, semestinya sudah cukup untuk mengenali pola semacam itu.
Pertanyaannya tinggal satu. Apakah pola yang sama akan kembali diulang, tepat ketika Iran justru tidak sedang berada pada posisi lemah?
