Loading

Ketik untuk mencari

Palestina

Abu Ubaidah Puji Iran dan Hizbullah, Serukan Pembelaan Al-Aqsa dan Tahanan Palestina

POROS PERLAWANAN — Juru Bicara Militer Brigade Izzuddin al-Qassam, Abu Ubaidah memuji serangan balasan Iran dan ketahanan Hizbullah Lebanon, sambil menyerukan mobilisasi lebih luas untuk membela Masjid Al-Aqsa dan para tahanan Palestina di tengah eskalasi konflik regional.

Mengutip Al Manar pada Minggu 5 April, Abu Ubaidah menyebut operasi yang dijalankan Kelompok-kelompok Perlawanan di Iran, Lebanon, dan Yaman sebagai kelanjutan dari “Badai Al-Aqsa” yang bermula dari Gaza. Dukungan terbuka juga disampaikan kepada Lebanon dan kekuatan Perlawanan di negara itu.

Serangan balasan yang dilancarkan Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) disebut sebagai bagian penting dari Front Perlawanan terhadap agresi Israel dan Amerika Serikat. Di saat yang sama, Hizbullah Lebanon dinilai tetap menjadi salah satu titik benturan utama dalam konfrontasi Kawasan yang terus meluas.

Menurut Abu Ubaidah, tekanan militer yang kini muncul di berbagai front tidak berdiri sendiri, melainkan saling terhubung dalam satu poros konflik yang lebih besar.

Kemampuan tempur Hizbullah juga mendapat sorotan khusus. Abu Ubaidah menilai Kelompok itu telah menimbulkan kerugian besar bagi Israel, dan mendorong Perlawanan Lebanon memanfaatkan kontak tempur langsung sebagai peluang untuk menangkap tentara Israel.

Setelah menyoroti Iran dan Lebanon, Abu Ubaidah mengarahkan pesannya pada isu Palestina. Seruan disampaikan kepada dunia Islam dan komunitas internasional untuk turun membela Masjid Al-Aqsa serta para tahanan Palestina.

“Pelanggaran terhadap Al-Aqsa dan para tahanan Palestina tidak akan berlalu tanpa konsekuensi, berapa pun harga yang harus dibayar rakyat kami,” kata Abu Ubaidah.

Serangan terhadap Iran, termasuk insiden di Minab yang disebut sebagai pembantaian, juga disinggung dalam pernyataan itu. Peristiwa tersebut disebut mengingatkan dunia pada pola kekerasan yang sebelumnya terjadi di Gaza.

Pada jalur perundingan, Abu Ubaidah menilai proposal yang kini didorong kepada Perlawanan Palestina melalui para mediator mengandung risiko besar. Pihak Palestina, menurutnya, telah menjalankan kewajiban secara bertanggung jawab demi menghormati proses mediasi dan menutup ruang dalih bagi Israel.

Karena itu, tekanan diminta diarahkan kepada Israel agar terlebih dahulu menuntaskan komitmennya pada tahap awal kesepakatan sebelum pembahasan berlanjut ke fase berikutnya. Posisi Amerika Serikat juga disorot karena dinilai tidak netral dalam proses tersebut.

Abu Ubaidah turut mengecam rancangan undang-undang hukuman mati bagi tahanan Palestina, yang disebut sebagai noda memalukan bagi pihak-pihak yang memilih diam. Dalam pandangannya, agresi Israel kini terus meluas dari Palestina ke Lebanon, Yaman, dan kawasan lain.

Seruan juga ditujukan kepada warga Palestina di Tepi Barat, Al-Quds, dan Wilayah Pendudukan 1948 untuk bergerak menuju Masjid Al-Aqsa sebagai bentuk pembelaan langsung terhadap situs suci tersebut.

Secara keseluruhan, pesan al-Qassam dalam pernyataan ini semakin tegas. Gaza, Al-Aqsa, para tahanan Palestina, Iran, Lebanon, dan Front Perlawanan regional diletakkan dalam satu garis konfrontasi yang sama.