Saraya al-Quds Puji Iran dan Hizbullah, Sebut Poros Perlawanan Kian Solid
POROS PERLAWANAN — Saraya al-Quds, sayap militer Jihad Islam Palestina, memuji serangan Iran dan tekanan militer Hizbullah Lebanon terhadap Israel, seraya menilai rangkaian operasi di sejumlah front telah memperkuat Poros Perlawanan di tengah eskalasi konflik Kawasan.
Mengutip Al Manar pada Minggu 5 April, Kelompok itu menyatakan agresi gabungan Israel dan Amerika Serikat mulai kehilangan daya tekan di tengah menguatnya serangan balasan dari Iran dan berbagai Front Perlawanan di Kawasan.
Sorotan utama diarahkan pada operasi militer Iran di Isfahan, yang disebut sebagai pukulan telak terhadap Militer Amerika. Dalam pernyataannya, pasukan Iran dinilai berhasil menghancurkan sejumlah aset udara canggih milik Washington dan memperlihatkan kerentanan operasi Amerika di lapangan.
Rentetan serangan rudal terkoordinasi yang diluncurkan dari Iran, Yaman, Irak, dan Lebanon juga disambut sebagai penanda meningkatnya integrasi antar-Front Perlawanan. Bagi Saraya al-Quds, pola serangan tersebut menunjukkan Poros Perlawanan tidak hanya tetap aktif, tetapi juga semakin terhubung dalam tekanan militer Kawasan.
Pujian khusus diberikan kepada Hizbullah Lebanon, yang dinilai terus menekan Militer Israel di front selatan Lebanon melalui penghancuran kendaraan tempur, serangan ke posisi militer, dan tembakan roket presisi ke Wilayah Pendudukan.
Operasi Hizbullah, menurut Kelompok itu, telah mengacaukan kalkulasi Israel dan membuktikan ancaman terhadap Tel Aviv tetap hidup, meski sebelumnya Organisasi tersebut berkali-kali menjadi sasaran operasi pelemahan dan pembunuhan terarah.
Apresiasi juga disampaikan kepada para Juru Bicara Poros Perlawanan, termasuk Kolonel Ebrahim Zolfaghari dari Iran dan Brigadir Jenderal Yahya Saree dari Yaman. Keduanya dinilai berperan penting dalam membangun narasi tandingan terhadap klaim militer dan politik pihak lawan.
Sorotan ke Tahanan dan Al-Aqsa
Di luar dimensi regional, pernyataan itu juga menyoroti isu inti Palestina, terutama nasib para tahanan dan situasi di Masjid Al-Aqsa.
Rencana penerapan hukuman mati bagi tahanan Palestina dikecam sebagai bagian dari agresi Zionis yang lebih luas. Dalam pandangan Saraya al-Quds, isu tahanan tidak dapat dipisahkan dari keseluruhan konflik yang kini terus melebar.
“Tahanan kami adalah para pejuang utama perjuangan Palestina dan simbol perlawanan di tanah yang dirampas. Cepat atau lambat, hari kebebasan mereka akan tiba,” demikian pernyataan Kelompok tersebut.
Israel di bawah kepemimpinan Benyamin Netanyahu tengah memanfaatkan situasi regional untuk memperketat kontrol atas Masjid Al-Aqsa, membatasi pelaksanaan salat, dan membuka ruang lebih besar bagi kelompok pemukim ekstremis.
Langkah itu dinilai berpotensi memicu ledakan yang lebih luas dengan dampak yang tidak lagi terbatas pada Palestina semata.
Di bagian akhir, warga Palestina di Tepi Barat dan Al-Quds diserukan untuk bergerak membela Masjid Al-Aqsa, sementara dunia Arab dan Islam didorong memperluas dukungan terhadap Palestina di tengah konfrontasi Kawasan yang terus membesar.
Palestina Tetap Jadi Pusat Narasi
Pernyataan terbaru ini memperlihatkan pola yang semakin konsisten dalam narasi Poros Perlawanan. Front Iran, Lebanon, Yaman, Irak, dan Palestina tidak lagi diposisikan sebagai arena yang terpisah, melainkan sebagai bagian dari satu lanskap konflik yang saling berkait.
Dalam kerangka itu, pujian terhadap Iran dan Hizbullah bukan hanya ekspresi solidaritas, melainkan juga pesan politik yang lebih luas. Setiap front dibingkai sebagai bagian dari tekanan kolektif terhadap Israel dan Amerika Serikat, dengan Palestina tetap ditempatkan sebagai pusat legitimasi perjuangan.
