Upaya Batasi Wewenang Trump Kandas Lagi, Senat AS Terbelah Soal Perang Iran
POROS PERLAWANAN — Senat Amerika Serikat kembali menggagalkan upaya membatasi kewenangan Presiden Donald Trump dalam perang terhadap Iran. Penolakan untuk keempat kalinya dalam beberapa pekan terakhir menegaskan kebuntuan politik di Washington di tengah konflik yang belum menunjukkan arah akhir.
Mengutip Al Mayadeen pada Kamis 16 April, pemungutan suara berakhir 52 berbanding 47. Mayoritas Partai Republik menolak pembatasan, sementara Partai Demokrat mendorong penguatan peran Kongres. Perbedaan sikap lintas partai muncul dari John Fetterman yang menolak dan Rand Paul yang mendukung.
Kegagalan berulang menunjukkan terbatasnya kemampuan legislatif mengontrol kebijakan perang. Kongres belum berhasil memulihkan otoritasnya di tengah dominasi cabang eksekutif.
Tekanan mulai terasa di internal Partai Republik seiring perang memasuki pekan ketujuh. Dampak ekonomi meningkat, terutama akibat lonjakan harga energi yang membebani sektor domestik.
Senator Josh Hawley mendorong Pemerintah menyiapkan strategi keluar untuk mengakhiri konflik. Sejumlah legislator lain juga meminta kejelasan tujuan dan arah operasi militer.
Senator Mike Rounds mengingatkan batas hukum 60 hari untuk pengerahan pasukan tanpa persetujuan Kongres. Tenggat tersebut jatuh pada 1 Mei. Tanpa langkah lanjutan, tekanan politik terhadap Pemerintah diperkirakan meningkat.
Di tengah situasi tersebut, senator Bill Hagerty memperkirakan konflik akan segera berakhir. Namun, tekanan ekonomi terus menguat. Harga minyak melampaui 100 Dolar AS per barel, gas alam meningkat tajam, dan biaya pertanian ikut terdampak.
Sejak awal, operasi militer terhadap Iran menuai penolakan dari sejumlah pejabat dan anggota Kongres, terutama dari Partai Demokrat, yang menilai langkah tersebut tidak memiliki dasar hukum yang kuat dan belum didukung strategi yang jelas.
