UEA Ancam AS, Siapkan Yuan untuk Penjualan Minyak Gantikan Dolar
POROS PERLAWANAN — Laporan The Wall Street Journal menyebut Uni Emirat Arab (UEA) meminta dukungan finansial dari Amerika Serikat di tengah tekanan konflik regional, sambil memperingatkan kemungkinan peralihan transaksi minyak ke Yuan jika likuiditas Dolar terganggu.
Mengutip laporan yang juga dirujuk Fars pada Senin 20 April, UEA menghadapi dampak langsung dari eskalasi militer antara Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran. Serangan tersebut dilaporkan merusak infrastruktur energi dan mengganggu jalur pelayaran di Selat Hormuz, titik vital perdagangan minyak global.
Dalam merespons tekanan tersebut, Gubernur Bank Sentral UEA, Khaled Mohamed Balama, pekan lalu berada di Washington untuk mengajukan skema dukungan likuiditas. Ia mengusulkan pembentukan jalur swap line Dolar kepada Federal Reserve dan Departemen Keuangan AS. Instrumen ini bertujuan menjaga stabilitas Dirham yang dipatok terhadap Dolar, sekaligus menahan penurunan cadangan devisa.
Sejumlah pejabat UEA menilai kebijakan militer Presiden Donald Trump terhadap Iran telah memperluas risiko Kawasan, menyeret negara-negara Teluk ke dalam dampak ekonomi yang belum menunjukkan tanda mereda. Tekanan pada sektor energi dan arus perdagangan kini mulai merembet ke indikator fiskal.
Dalam komunikasi bilateral, Abu Dhabi juga menyampaikan sinyal keras. Jika akses terhadap Dolar melemah, transaksi ekspor minyak berpotensi dialihkan ke Yuan Tiongkok atau mata uang alternatif lain. Langkah ini, jika terealisasi, berisiko menggerus dominasi Dolar dalam perdagangan energi internasional.
Namun, peluang persetujuan swap line dinilai terbatas. Selama ini, Federal Reserve cenderung membatasi fasilitas tersebut hanya bagi mitra utama seperti kawasan Eropa, Inggris, dan Jepang.
Sebagai opsi cadangan, Departemen Keuangan AS disebut mempertimbangkan penggunaan dana stabilisasi nilai tukar. Skema serupa sebelumnya digunakan dalam paket dukungan senilai 20 miliar Dolar AS untuk Argentina.
Lembaga pemeringkat S&P Global memperingatkan bahwa gangguan berkepanjangan pada ekspor minyak serta kerusakan infrastruktur menjadi risiko nyata bagi ekonomi UEA. Jika tekanan ini berlanjut, stabilitas fiskal negara tersebut berpotensi tergerus dalam jangka menengah.
