Pembubaran Knesset: Gempa Politik atau Taktik Haredi?
POROS PERLAWANAN – Partai-partai utama dalam Koalisi Netanyahu telah secara tegas menyatakan, mereka telah memisahkan diri darinya dan berupaya membubarkan Knesset. Apakah ini krisis yang sesungguhnya ataukah sekadar taktik untuk memaksa pemberian konsesi lebih lanjut?
Dilansir Fars, seruan terbaru dari partai-partai Haredi untuk pembubaran Knesset menunjukkan bahwa krisis dengan Netanyahu mungkin sudah di luar kendali. Eskalasinya kemungkinan akan mempersulit proses pembentukan Pemerintahan baru setelah pemilu.
Pembubaran Knesset: Reaksi Keras Haredi terhadap Ketidakpedulian Netanyahu
Media Ibrani melaporkan, sekelompok partai Haredi Israel baru-baru ini menyerukan pembubaran Knesset. Ini sebuah perkembangan yang berpotensi mengubah peta koalisi dalam Rezim dan membawa panggung politik domestik ke fase yang menentukan.
Tuntutan ini muncul setelah Benjamin Netanyahu, secara jelas menyatakan kepada para pemimpin partai-partai tersebut bahwa ia tidak berniat mengesahkan undang-undang pembebasan dari wajib militer, meskipun sebelumnya ia telah mendukungnya secara terbuka dan eksplisit. Isu ini memicu reaksi keras dari partai-partai tersebut dan menunjukkan bahwa krisis ini, kemungkinan besar, tidak lagi dapat dikendalikan.
Sehubungan dengan ini, Pemimpin partai Haredi Degel Hatorah, Rabbi Dov Lando, mengumumkan bahwa ia telah kehilangan “kepercayaan penuh” terhadap Netanyahu. Ia menekankan, Netanyahu tidak lagi menjadi “mitra kami dalam proyek politik apa pun”. Ia menyerukan tindakan segera untuk membubarkan Knesset dan menggambarkannya sebagai “satu-satunya opsi yang tersedia”.
Lando juga mengatakan bahwa “blok sayap kanan tidak ada lagi”. Ketegangan tersebut tidak terbatas pada partai Lando, tetapi juga menyebar ke partai Shas (Haredi Timur) dan Agudath Yisrael (Haredi); dua partai yang posisi mereka menunjukkan kemungkinan dukungan penuh terhadap pendekatan Degel Hatorah. Perkembangan ini memperkuat gerakan tersebut dan memberinya dimensi yang lebih serius.
Analisis al-Akhbar Soal Masa Depan Politik Israel Usai Kemungkinan Pembubaran Knesset
Yahya Dabouq, dalam sebuah ulasan mengenai hal di atas, Yahya Dabouq dalam tulisannya di surat kabar Lebanon al-Akhbar, menyatakan: “Meskipun peta politik masih terbuka untuk berbagai skenario, termasuk menemukan solusi sementara atau memperdalam krisis, serta kemungkinan lawan politik memanfaatkan kemarahan yang ada di kalangan Haredi untuk mengambil langkah-langkah praktis menuju pembubaran Knesset dan menggulingkan Pemerintahan Netanyahu, namun kemungkinan peristiwa yang akan datang di panggung domestik Israel menimbulkan pertanyaan tentang dampak situasi ini terhadap keputusan keamanan dan politik terkait isu Palestina, perang yang sedang berlanjut (dalam bentuk apa pun) di Jalur Gaza, pengusiran warga Palestina di Tepi Barat, serta isu-isu front eksternal, seperti Lebanon dan Iran.”
“Kenyataannya, pembubaran Knesset, jika memang disetujui, tidak akan secara signifikan mengubah situasi di lapangan. Tanggal pemilihan umum telah ditetapkan untuk November mendatang, dan mungkin pada akhirnya dimajukan beberapa minggu ke September.”
“Selain itu, skenario semacam itu tidak akan secara signifikan memengaruhi kemampuan Netanyahu untuk mengambil keputusan keamanan dan politik, baik dalam negeri maupun luar negeri. Ia akan mempertahankan hampir seluruh kekuasaannya terkait perang yang ia jalani di berbagai front. Kemungkinan untuk membatasi wewenangnya atau mencegahnya mengambil langkah-langkah ekstrem sangatlah kecil, terutama mengingat tidak adanya perubahan signifikan pada perimbangan kekuatan saat ini.”
Berkurangnya Peluang Netanyahu Bentuk Kabinet Baru
“Namun, konsekuensi paling signifikan dari perselisihan yang terus berlanjut antara partai-partai Haredi dan Netanyahu, baik selama kampanye pemilu maupun pada fase pascapemilu, terkait masalah penugasan untuk membentuk Pemerintahan dan proses pembentukan kabinet itu sendiri. Sebab, situasi ini dapat mengurangi peluang Netanyahu untuk menerima mandat membentuk Pemerintahan dan membangun kembali struktur kementerian. Membuat pembentukan mayoritas Parlemen tanpa dukungan Haredi hampir mustahil.”
“Jika skenario ini terwujud, Netanyahu diperkirakan akan fokus pada pengelolaan perpecahan ini. Dia bakal menganggapnya sebagai perceraian sementara yang akan berakhir begitu Pemilu usai. Setelah itu, ia akan kembali ke koalisinya dengan Haredi, seperti biasa, berdasarkan janji-janji baru. Dengan kata lain, Netanyahu kemungkinan percaya bahwa tantangan sesungguhnya saat ini bukanlah untuk menenangkan Haredi secara langsung, melainkan untuk mencegah perpecahan ini menjadi perpecahan permanen tanpa jalan kembali.”
“Namun, jika partai-partai ini memutuskan untuk tidak berkoalisi dengan Netanyahu, bahkan setelah pemilu, maka koalisi oposisi yang dipimpin oleh Naftali Bennett dan Yair Lapid akan memiliki peluang lebih besar daripada Netanyahu untuk ditugaskan membentuk Pemerintahan berikutnya. Kemungkinan juga meningkat bahwa Netanyahu dapat dituntut tanpa adanya kekebalan resmi, sementara negosiasi mengenai kesepakatan apa pun untuk pengunduran dirinya atau pengampunan akan menjadi jauh lebih sulit.”
“Selain itu, Bibi akan kehilangan pengaruh utama yang dapat digunakannya untuk memengaruhi opini publik dan mengumpulkan dukungan bagi narasi bahwa dirinya adalah korban serta klaim adanya konspirasi terhadap dirinya.”
Perceraian Sementara, Bukan Permanen: Haredi Masih Butuh Netanyahu.
“Semua ini tidak berarti bahwa jika Netanyahu gagal, pembentukan koalisi apa pun antara partai-partai Haredi, Bennett, dan Lapid akan mudah. Kecuali jika kedua belah pihak bersedia melakukan konsesi besar-besaran yang belum pernah terjadi sebelumnya; skenario yang dalam praktiknya agak mustahil. Situasi seperti ini sekali lagi memberi Netanyahu kesempatan untuk memanfaatkan perpecahan ini.”
“Para pimpinan Haredi sangat menyadari bahwa dilema mereka saat ini berasal dari kurangnya alternatif yang layak selain Netanyahu. Tidak ada opsi yang dapat diandalkan, terutama karena lawan-lawannya enggan menawarkan konsesi yang sebanding dengan yang diberikan oleh Netanyahu, bahkan memiliki agenda yang bertentangan dengan tuntutan inti partai-partai tersebut.”
“Hal ini menyiratkan bahwa pembubaran Knesset, jika terjadi, kemungkinan besar hanya akan memperpendek masa jabatan Pemerintah saat ini selama beberapa minggu, sementara kekuasaan Pemerintah dan Perdana Menteri kemungkinan besar tetap tidak berubah.”
“Terlepas dari bagaimana krisis saat ini bakal berakhir, kubu Haredi tampaknya tidak mencari mitra koalisi baru. Sebaliknya, mereka berusaha memperkuat posisi tawar mereka dengan meningkatkan manuver taktis dan menyesuaikan kembali koalisi mereka dengan Netanyahu sendiri. Terutama karena ia tetap menjadi satu-satunya pihak yang mampu memenuhi tuntutan minimum mereka, meski ia selalu menunda-menunda untuk memenuhi janjinya,” pungkas Dabouq.
