Loading

Ketik untuk mencari

Asia Barat

Menlu Yordania Sebut Palestina di Ambang Ledakan Baru

POROS PERLAWANAN — Menteri Luar Negeri Yordania, Ayman Safadi memperingatkan situasi di Palestina Pendudukan berada di ambang ledakan akibat memburuknya kondisi di Gaza dan Tepi Barat di tengah berlanjutnya pelanggaran Israel.

Mengutip laporan Al Mamlaka yang dilansir IRNA pada Sabtu 16 Mei, peringatan itu disampaikan Safadi dalam forum dialog Konferensi Lennart Meri di Tallinn, Estonia.

Menurut Safadi, dunia akan terus menjadi “sandera” pecahnya konflik baru setiap dua atau tiga tahun apabila tidak tercapai perdamaian yang adil antara Palestina dan Israel.

“Perdamaian adalah solusi bagi banyak persoalan di kawasan kami. Namun perdamaian itu harus adil dan dapat diterima masyarakat agar bisa bertahan,” ujarnya.

Safadi menilai tindakan Rezim Israel saat ini justru menjauhkan peluang perdamaian. Meski gencatan senjata telah berlangsung selama berbulan-bulan, bantuan kemanusiaan ke Jalur Gaza dinilai masih jauh dari cukup dan proses rekonstruksi belum dimulai.

Dia mengungkapkan lebih dari 600 ribu anak di Gaza kehilangan akses pendidikan selama tiga tahun terakhir akibat perang dan krisis berkepanjangan.

Safadi juga menyoroti lonjakan pembangunan permukiman Israel di Tepi Barat sejak Benyamin Netanyahu kembali memimpin Rezim Israel. Menurut dia, jumlah permukiman meningkat hingga 80 persen dan 102 area permukiman baru telah disetujui.

Dia memperingatkan bahwa pencaplokan wilayah Palestina secara de facto sedang berlangsung di lapangan meski sebelumnya Presiden Amerika Serikat, Donald Trump menyatakan penolakan terhadap aneksasi wilayah Palestina.

“Pencaplokan itu nyata terjadi di lapangan,” kata Safadi.

Selain menyebut Israel menekan Otoritas Palestina secara ekonomi dengan menahan lebih dari 5 miliar Dolar AS dana pajak Palestina, Safadi juga menilai peningkatan pos pemeriksaan dan pembatasan di Wilayah Pendudukan memperburuk instabilitas keamanan.

“Jika tidak ada langkah untuk menghentikan kemerosotan situasi, kawasan ini berada di ambang ledakan,” ujarnya.

Safadi turut menyoroti penutupan Masjid Al-Aqsa sejak awal Ramadan dan tekanan terhadap situs-situs suci Kristen di Yerusalem Timur akibat kebijakan pajak Israel terhadap gereja.

Menurut dia, kebijakan tersebut belum pernah terjadi bahkan sejak era Kesultanan Utsmaniyah dan berpotensi memicu penyitaan aset-aset gereja.

Dia menegaskan kebijakan Kabinet Israel tidak hanya memperburuk ketidakstabilan Kawasan, tetapi juga merugikan Israel sendiri.

“Selama pendudukan terus berlangsung, perdamaian tidak akan pernah terwujud,” kata Safadi.

Safadi menilai Israel tengah menghancurkan solusi dua negara yang selama ini didorong komunitas internasional. Dia mempertanyakan nasib sekitar lima juta warga Palestina yang hidup di bawah pendudukan Israel.

“Apakah mereka akan terus hidup sebagai warga kelas dua?” ujarnya.

Menutup pernyataannya, Safadi menyebut situasi di Tepi Barat sangat berbahaya dan mengancam stabilitas global. Dia juga menuding perang telah menjadi alat politik Netanyahu untuk mempertahankan kekuasaan.

Tags:

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *