Ghalibaf: Iran Siap Membuat Musuh Menyesali Agresi Berikutnya
POROS PERLAWANAN — Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf menegaskan Teheran telah menggunakan masa gencatan senjata untuk memulihkan dan memperkuat kemampuan militernya. Di tengah ketidakpastian Kawasan, Iran disebut berada dalam posisi siap menghadapi kemungkinan konfrontasi baru dengan Amerika Serikat dan Israel.
Menurut laporan Fars News Agency pada Rabu 20 Mei, pernyataan tersebut disampaikan Ghalibaf dalam pesan audio yang ditujukan kepada rakyat Iran di tengah meningkatnya tekanan geopolitik pascaperang.
Ghalibaf menyebut Washington dan Tel Aviv belum menghentikan tekanan terhadap Iran meski pertempuran terbuka mereda dalam beberapa pekan terakhir. Tekanan ekonomi, operasi politik, hingga ancaman militer dinilai masih menjadi bagian dari strategi Barat terhadap Teheran.
“Rakyat harus yakin bahwa Angkatan Bersenjata kami telah menggunakan masa gencatan senjata dengan sebaik-baiknya untuk membangun kembali kekuatan pertahanan. Musuh pasti akan menyesali setiap agresi baru terhadap Iran,” kata Ghalibaf.
Dalam penjelasannya, Ghalibaf menggambarkan situasi domestik Amerika Serikat sedang menghadapi tekanan yang tidak ringan. Lonjakan harga energi, inflasi, gejolak pasar keuangan, dan meningkatnya biaya hidup disebut mulai memicu keresahan publik Amerika terhadap perang.
Menurut Ghalibaf, sebagian pendukung Presiden Donald Trump bahkan mulai memandang konflik melawan Iran sebagai perang yang lebih melayani kepentingan Israel dibandingkan kepentingan nasional Amerika Serikat sendiri.
Ghalibaf menilai Gedung Putih kini berada di persimpangan sulit. Mengakhiri perang berarti menerima risiko politik sebagai pihak yang gagal mencapai target, sementara melanjutkan tekanan militer dan blokade ekonomi dinilai tidak menjamin Iran akan menyerah di meja perundingan.
“Iran tidak akan tunduk pada tekanan,” ujarnya.
Selain menyinggung aspek militer dan geopolitik, Ghalibaf juga mengakui tekanan ekonomi yang dirasakan masyarakat Iran akibat perang berkepanjangan dan sanksi internasional. Pemerintah, menurutnya, mengetahui kenaikan harga kebutuhan pokok serta penurunan daya beli masyarakat dalam beberapa pekan terakhir.
Kenaikan harga beras, ayam, telur, dan daging disebut menjadi beban utama bagi banyak keluarga Iran.
Meski demikian, Ghalibaf menilai ketahanan sosial masyarakat Iran tetap terjaga dan justru mematahkan perhitungan lawan yang berharap tekanan ekonomi dapat melemahkan solidaritas nasional.
“Musuh mengira semakin sulit kehidupan rakyat, semakin rapuh persatuan nasional. Namun rakyat Iran membuktikan mereka tetap berdiri dalam menghadapi tekanan,” katanya.
Untuk mengendalikan dampak ekonomi perang, parlemen Iran disebut telah menggelar lebih dari 120 rapat pengawasan sejak konflik dimulai guna memantau distribusi kebutuhan pokok, kondisi pasar, dan stabilitas ekonomi nasional. Dua sidang parlemen juga dilaksanakan secara virtual untuk membahas krisis harga pangan dan dukungan terhadap masyarakat.
Ghalibaf mengatakan parlemen akan membentuk komite pengawasan khusus yang melibatkan sejumlah komisi strategis guna mengawasi distribusi barang pokok dan kondisi kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan.
Dalam bagian lain, Ghalibaf mengkritik kelompok politik yang menggunakan isu ekonomi untuk menyerang Pemerintah tanpa mempertimbangkan konteks perang dan tekanan eksternal yang sedang dihadapi Iran.
“Saya tidak menutup mata terhadap kelemahan manajerial, tetapi memberikan narasi yang menyesatkan hanya akan merusak persatuan nasional,” ujarnya.
Menutup pesannya, Ghalibaf menyebut Iran sedang menghadapi “perang kehendak” yang akan menentukan arah masa depan negara tersebut. Dalam situasi seperti itu, persatuan nasional dan ketahanan masyarakat dinilai menjadi faktor penentu menghadapi tekanan eksternal yang terus meningkat.
“Siapa yang menang dalam perang kehendak ini akan menentukan masa depan Iran,” kata Ghalibaf.
