Kongres AS Buka Data Kerugian Udara Amerika dalam Perang Iran
POROS PERLAWANAN — Dokumen Kongres Amerika Serikat dan laporan lanjutan Komando Pusat Militer AS (CENTCOM) mengungkap skala kerugian yang dialami Angkatan Udara Amerika dalam operasi militer terhadap Iran. Data tersebut memunculkan gambaran yang jauh berbeda dari narasi resmi Washington yang selama ini menonjolkan dominasi operasi udara Amerika di Kawasan.
Menurut laporan yang dikutip dari Mehr News Agency pada Rabu 20 Mei, sedikitnya 42 aset udara Militer Amerika, mulai dari jet tempur, pesawat pendukung, helikopter, hingga drone strategis, dilaporkan hancur atau mengalami kerusakan selama operasi gabungan AS-Israel terhadap Iran sepanjang 2026.
Dokumen Kongres menyebut angka tersebut masih berpotensi berubah karena sebagian data operasi tetap berada dalam kategori rahasia dan sejumlah misi militer masih berlangsung.
Kerugian terbesar disebut terjadi pada armada drone MQ-9 Reaper. Sebanyak 24 unit drone pengintai dan serang jarak jauh itu dilaporkan hilang sejak operasi udara terhadap Iran dimulai. Kehilangan dalam jumlah besar terhadap platform tanpa awak itu dinilai menjadi pukulan serius bagi kemampuan pengawasan dan serangan presisi Amerika di Kawasan.
Selain drone, empat jet tempur F-15E Strike Eagle dilaporkan jatuh dalam insiden berbeda. Tiga unit hancur akibat insiden salah tembak di wilayah udara Kuwait pada 2 Maret 2026. Seluruh awak berhasil menyelamatkan diri. Sementara satu F-15E lainnya dilaporkan ditembak jatuh saat menjalankan operasi tempur di wilayah Iran pada 5 April 2026.
Dokumen tersebut juga mencatat satu jet tempur siluman F-35A Lightning II mengalami kerusakan berat akibat tembakan sistem pertahanan udara Iran pada 19 Maret 2026. Jika laporan itu terkonfirmasi sepenuhnya, insiden tersebut akan menjadi salah satu catatan paling sensitif bagi program pesawat tempur generasi kelima Amerika Serikat.
Satu pesawat serang A-10 Thunderbolt II juga dilaporkan jatuh setelah terkena serangan Iran dalam operasi terpisah.
Kerugian besar lainnya terjadi pada armada logistik udara Amerika. Tujuh pesawat pengisian bahan bakar KC-135 Stratotanker dilaporkan mengalami kecelakaan dan kerusakan operasional selama konflik berlangsung.
Dalam salah satu insiden paling fatal pada 12 Maret 2026, dua KC-135 mengalami gangguan saat terbang di wilayah udara sendiri. Salah satu pesawat jatuh di Irak dan menewaskan enam awak, sedangkan pesawat lainnya melakukan pendaratan darurat di lokasi yang tidak diungkapkan.
Lima KC-135 lainnya disebut mengalami kerusakan ketika serangan rudal dan drone Iran menghantam Pangkalan Udara Pangeran Sultan di Arab Saudi, salah satu fasilitas utama operasi udara Amerika di kawasan Teluk.
Serangan yang sama juga dilaporkan merusak satu pesawat peringatan dini dan pengendali udara E-3 Sentry AWACS saat mendarat di pangkalan tersebut pada 28 Maret 2026.
Di sektor operasi khusus, dua pesawat MC-130J Commando II dihancurkan di wilayah Iran setelah gagal kembali mengudara ketika menjalankan misi pencarian dan penyelamatan awak F-15E yang jatuh.
Sementara itu, satu helikopter penyelamat tempur HH-60W Jolly Green II dilaporkan mengalami kerusakan akibat tembakan senjata ringan saat mendukung operasi evakuasi di Iran.
Dokumen Kongres juga mencatat jatuhnya satu drone pengintai strategis MQ-4C Triton milik Angkatan Laut Amerika Serikat pada April 2026.
Rangkaian data tersebut menjadi salah satu pengungkapan paling rinci mengenai kerugian udara Amerika sejak konflik dengan Iran meletus. Selama ini Washington cenderung membatasi informasi mengenai kerusakan aset, korban personel, dan gangguan operasional di lapangan, sementara komunikasi publik lebih diarahkan pada klaim keberhasilan misi militer.
Terbukanya data Kongres dan laporan CENTCOM diperkirakan akan memicu perdebatan baru di Amerika Serikat soal efektivitas operasi militer, ketahanan sistem pertahanan udara Amerika, hingga biaya strategis perang berkepanjangan di Timur Tengah.
