Loading

Ketik untuk mencari

Yaman

Al-Houthi Peringatkan Negara-Negara Kawasan Tidak Terjebak Agenda Perang AS dan Israel

POROS PERLAWANAN – Mengutip laporan Al Masirah yang disiarkan dan dikutip Mehr News Agency pada Kamis 4 Juni, Pemimpin Gerakan Ansharullah Yaman, Sayyid Abdul Malik Badruddin al-Houthi memperingatkan negara-negara dan kelompok politik di Kawasan agar tidak terjebak dalam agenda Amerika Serikat dan Israel yang berpotensi menyeret Timur Tengah ke konflik yang lebih luas.

Dalam pidatonya pada perayaan Idul Ghadir dan Hari Wilayah, Al-Houthi menegaskan bahwa Washington sedang berupaya mendorong sejumlah pihak di Kawasan untuk terlibat dalam peperangan yang pada akhirnya menguntungkan Israel.

“Kami menyerukan kepada seluruh kelompok dan pihak di Kawasan agar tidak terjebak dalam perang yang dirancang Amerika demi melayani kepentingan musuh Zionis. Jalan tersebut hanya akan berakhir dengan kerugian, kehinaan, dan konsekuensi yang berat,” kata Al-Houthi.

Selain menyoroti perkembangan regional, Al-Houthi menjelaskan bahwa peringatan Ghadir merupakan bagian dari tradisi keagamaan masyarakat Yaman yang telah diwariskan selama berabad-abad. Menurutnya, peristiwa Ghadir Khum merupakan fakta sejarah yang diterima luas dalam khazanah Islam dan memiliki arti penting karena berkaitan dengan penyempurnaan agama dan nikmat Allah bagi umat Islam.

Ia menilai peringatan Ghadir tidak hanya memiliki dimensi historis dan spiritual, tetapi juga relevan dengan tantangan politik yang dihadapi dunia Islam saat ini. Menurutnya, konsep wilayah atau kepemimpinan yang ditegaskan dalam peristiwa Ghadir berperan menjaga kemandirian umat serta mencegah dominasi kekuatan asing atas negara-negara Muslim.

Dalam pidatonya, Al-Houthi juga melontarkan kritik terhadap sejumlah Pemerintahan di Kawasan yang dinilai terlalu bergantung kepada Amerika Serikat dan mengikuti agenda politik yang ditentukan dari luar negeri.

Menurutnya, ketergantungan terhadap kekuatan asing telah membuat sebagian negara kehilangan kemandirian dalam menentukan arah kebijakan politik dan keamanan. Ia menyebut Amerika Serikat menggunakan pengaruh politik, ekonomi, dan militer untuk memengaruhi proses politik di sejumlah negara Timur Tengah.

Al-Houthi mencontohkan bagaimana dukungan atau penolakan Washington terhadap tokoh politik tertentu kerap memengaruhi dinamika Pemerintahan di Kawasan. Ia menegaskan bahwa negara atau Pemerintahan yang menolak intervensi Amerika Serikat dan Israel sering menghadapi tekanan politik, sanksi, maupun ancaman konflik.

Pemimpin Ansharullah itu juga menuduh Israel berupaya memperluas pengaruhnya di Kawasan dan memanfaatkan berbagai konflik untuk mengubah peta geopolitik Timur Tengah.

Menurutnya, ancaman tersebut tidak hanya ditujukan kepada Palestina, tetapi juga menyasar seluruh dunia Islam.

“Ancaman musuh tidak hanya ditujukan kepada Palestina. Seluruh simbol dan kawasan penting umat Islam, termasuk Makkah dan Madinah, harus menjadi perhatian bersama,” ujarnya.

Al-Houthi menegaskan bahwa Ansharullah terus berkoordinasi dengan kelompok-kelompok yang tergabung dalam Poros Perlawanan dalam mendukung perjuangan Palestina dan menghadapi berbagai bentuk tekanan dari Amerika Serikat dan Israel.

Ia juga menyatakan kesiapan Ansharullah menghadapi setiap perkembangan yang muncul akibat meningkatnya ketegangan regional.

“Kami menegaskan kesiapan untuk menghadapi musuh dalam setiap tahap eskalasi dan perkembangan baru yang mungkin terjadi,” katanya.

Menutup pidatonya, Al-Houthi kembali mengingatkan negara-negara Kawasan agar tidak terlibat dalam konflik yang menurutnya dirancang untuk melayani kepentingan Israel.

Menurutnya, keterlibatan dalam agenda tersebut tidak akan menghasilkan keuntungan strategis bagi negara-negara Kawasan, melainkan hanya memperluas instabilitas serta menambah beban politik, ekonomi, dan keamanan bagi pihak yang terlibat.

Tags:

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *