Sekjen Hizbullah: Iran Lebih Solid Setelah Gagalnya Tujuan-tujuan Amerika
POROS PERLAWANAN – Dalam pidato pada upacara penghormatan untuk Syahid Imam Ali Khamenei pada Rabu malam 8 Juli, Sekretaris Jenderal Hizbullah, Syekh Naim Qasim menjelaskan beberapa dimensi kepribadian beliau. Ia menyatakan, Imam Khamenei adalah seorang ahli hukum (faqih) yang memenuhi syarat, memiliki pandangan strategis di berbagai bidang, pendiri dasar-dasar peradaban Islam modern, serta seorang pemikir kreatif dan pelopor arus pemikiran.
Fars memberitakan, Syekh Qasim menyatakan bahwa Imam Khamenei adalah sosok unik di masanya dan pemimpin luar biasa di era kontemporer yang hampir tidak ada bandingannya dalam sejarah.
“Hari ini kita berkumpul untuk mengantar jenazah Imam kaum tertindas. Prosesi pengiringan ini sendiri adalah sebuah kebangkitan, sebuah pergerakan, dan sebuah revolusi.”
“Kita sedang mengantar jenazah Imam kaum tertindas yang gugur syahid bersama anggota keluarganya. Kami menyampaikan belasungkawa atas syahadah ini ke hadapan Sahib al-Zaman (Imam Mahdi), keluarga beliau yang mulia, dan seluruh pengikutnya. Pada saat yang sama, kami memberi selamat kepada Umat Islam dan dunia atas tanda kehormatan ini; sebuah tanda yang menerangi jalan kemanusiaan dan keberkahannya akan tetap abadi bagi generasi mendatang.”
“Imam Khamenei adalah pembimbing, pendukung, dan pendidik; seorang pemimpin yang memandu manusia di tengah arus kerumunan untuk membebaskan diri dari berhala materialisme. Beliau adalah teladan yang mengajar melalui perbuatannya, pemikir kreatif yang menciptakan gerakan, dan politisi berpengalaman yang memahami dimensi persoalan dunia. Beliau berdiri tegak dengan keberanian, tekad, kehormatan, kepercayaan diri, dan tawakal kepada Allah SWT.”
Tentang Jutaan Orang di Prosesi Pengiringan
Menujukan pidatonya kepada Imam Khamenei, ia berkata,”Tuanku, engkau adalah kekasih hatiku. Hati dan seluruh keberadaanku mencintaimu, karena kata-katamu telah memenuhi jiwaku dan menjadi cahaya penunjuk jalan bagi saya dan saudara-saudara saya menuju Allah SWT. Pertemuanmu dengan kami adalah bekal yang tak ada habisnya. Arahanmu adalah nyala harapan yang tidak akan pernah padam.”
“Dalam kepemimpinanmu, saya melihat amanah untuk menyampaikan ajaran Nabi Muhammad s.a.w., jalan keadilan Imam Ali a.s., kezuhudan beliau, dan kebangkitan Imam Husain a.s. Engkau adalah pria yang tidak takut akan celaan siapa pun demi menegakkan pilar-pilar agama.”
Syekh Qasim lalu menceritakan sebuah surat yang diterimanya pada 9 Oktober 2024, hanya 12 hari setelah syahadah Sayyid Hassan Nasrallah dan enam hari setelah syahadah Sayyid Hashem Safiuddin, ketika ia baru saja terpilih sebagai Sekretaris Jenderal. Dalam surat itu, Imam Khamenei menulis: “Saya akan mendukungmu sama seperti saya mendukung Syahid terkasih kita.”
“Selama masa itu hingga saat syahadah, sang Imam pemimpin tidak pernah meminta apa pun dari kami. Beliau selalu mengatakan kepada mereka yang mengurus urusan kami: ‘Tanyakan pada mereka apa yang mereka butuhkan; berikan apa pun yang mereka minta, dan jangan menahan apa pun dari para pahlawan pemberani ini.’ Beliau tidak meminta apa pun, tetapi kami meminta segalanya kepada beliau dan mendapatkan apa yang kami inginkan.”
Ia menegaskan bahwa Hizbullah akan melanjutkan jalan ini bersama Wali Fakih, Ayatullah Sayyid Mojtaba Khamenei. “Di masa beliau memegang kepemimpinan, kami merasakan perasaan yang sama seperti saat bersama Anda.”
“Kita menyaksikan jutaan orang di Iran dan Irak; massa yang melampaui segala batas. Belum pernah terjadi dalam sejarah ada pergerakan yang mengumpulkan 20 juta orang di Teheran dan jutaan lainnya di Qom, Najaf, Karbala, dan Mashhad. Ini menunjukkan bahwa Pemerintahan Islam di Iran adalah sistem yang dinamis dan lahir dari rakyat.”
Iran Menjadi Lebih Solid
Syekh Qasim menyatakan, bahwa agresi AS dan Israel terhadap Iran adalah agresi global terhadap negara yang berdiri sendiri dan menggagalkan semua tujuan agresi tersebut. Iran hari ini lebih solid berkat persatuan rakyatnya dan lebih bersatu di sekitar kepemimpinannya dibandingkan sebelumnya.
Ia menekankan bahwa Iran berhak untuk menjadi kuat, mengakses teknologi nuklir damai, dan membangun hubungan internasional sesuai keinginannya. Ia juga berterima kasih kepada kepemimpinan, pemerintah, Garda Revolusi (IRGC), Militer, dan rakyat Iran atas dukungan mereka terhadap Poros Perlawanan.
Tentang Kesepakatan di Lebanon
Syekh Qasim mengkritik “kesepakatan kerangka kerja” yang ditandatangani Pemerintah Lebanon. Ia menyebut kesepakatan itu sepenuhnya menguntungkan Rezim Zionis. Ia menyatakan bahwa banyak pelanggaran terjadi pascagencatan senjata. Ia mempertanyakan tindakan Pemerintah Lebanon terhadap Amerika Serikat, yang menurutnya memberikan izin kepada Israel untuk setiap tindakannya.
“Tidak ada solusi selain ‘penarikan penuh Israel’ dan penempatan Militer Lebanon di selatan sungai Litani. Ini adalah peta jalan yang kami tegaskan: penarikan Israel, penempatan Militer hingga perbatasan, penghentian total agresi udara, darat, dan laut, pembebasan tawanan, serta rekonstruksi wilayah dan kembalinya rakyat ke rumah mereka.”
“Hizbullah akan tetap berada di medan perang dan tidak akan menyerah. Israel tidak akan pernah merasakan ketenangan. Kita akan melakukan semua yang kita mampu untuk membebaskan tanah kita, dan insya Allah, kita akan membebaskannya,” pungkasnya.
