Israel Kerahkan ‘Brigade Sapi’ untuk Cegah Penyusupan di Perbatasan
POROS PERLAWANAN – Para pejuang Brigade al-Qassam sukses menyusup melalui pagar-pagar cerdas dalam Operasi Badai al-Aqsa lalu. Hal ini mendorong Militer Israel mengurangi tingkat kepercayaan dan ketergantungan mereka kepada teknologi untuk menjaga keamanan mereka.
Dilaporkan Fars, dalam salah satu inisiatif keamanan paling aneh setelah Operasi Badai al-Aqsa, Rezim Zionis mengerahkan puluhan sapi di bagian-bagian wilayah Golan yang Diduduki. Mereka mengeklaim, tindakan ini dapat mengukuhkan pendudukan mereka di wilayah tersebut.
Pagar perbatasan yang dibangun Rezim Zionis sekitar 10 tahun lalu di Golan tidak dibangun tepat di garis gencatan senjata 1974, melainkan ditarik sedikit ke arah barat (di dalam wilayah Suriah). Oleh karena itu, tercipta wilayah yang relatif luas di sisi pagar Suriah, yang terletak di belakang pagar perbatasan, namun berada di bawah kendali operasional Israel. Bagian ini memiliki luas sekitar 10.000 dunam (hampir 10 kilometer persegi). Militer Israel berniat mengukuhkan klaim kepemilikan mereka atas wilayah ini dengan membawa kawanan sapi.
Menurut surat kabar Yedioth Ahronoth, kawanan sapi ini, yang secara resmi disebut “Brigade Sapi”, kini bertindak sebagai pasukan yang hadir di lapangan; pasukan yang tidak memiliki senjata maupun seragam, namun menurut klaim sumber Israel, kehadiran berkelanjutan kawanan sapi itu “menyebabkan mundurnya para gembala Suriah dan perubahan nyata dalam perimbangan keamanan di wilayah ini.”
Menurut laporan yang diterbitkan Yedioth Ahronoth, setelah Operasi Badai al-Aqsa pada 7 Oktober 2023 dan kegagalan konsep “pagar yang tidak bisa ditembus”, para komandan Militer Rezim Zionis menyimpulkan bahwa untuk mempertahankan wilayah pendudukan, mereka membutuhkan sesuatu yang lebih dari sekadar kawat berduri dan menara pengawas.
“Mereka mencari kehadiran permanen di tanah tersebut; sesuatu yang telah dialami sejak zaman perwalian Prancis atas Suriah dan Golan. Solusi yang paling sederhana dan paling efektif adalah apa yang diketahui oleh nenek moyang mereka bertahun-tahun yang lalu: ternak dan penggembalaan terus-menerus,” lapor Yedioth Ahronoth.
Sumber Militer Israel mengatakan kepada Yedioth Ahronoth, sekitar enam bulan lalu, di bawah perlindungan kerahasiaan penuh, mantan Komandan Brigade Golan, Kolonel Benny Kata melaksanakan operasi membawa kawanan yang terdiri dari sekitar 140 ekor sapi ke wilayah seluas 10.000 dunam di lereng barat Lembah Raqqad.

Pemilik kawanan ini, Yoel Zilberman, pendiri organisasi sayap kanan “HaShomer HaChadash (Penjaga Baru)” dan penduduk permukiman Zionis Natur. Zilberman yang berpangkat mayor cadangan memikul tanggung jawab penuh atas proyek aneh ini.
“Hingga akhir tahun 2025, hanya tentara dengan rompi antipeluru dan senjata yang bisa datang ke sini. Tapi hari ini, kami warga sipil berpatroli di wilayah ini dengan menunggang kuda dan telah mengubahnya menjadi peternakan nyata,” ujar Zilberman kepada wartawan.
Dia mengatakan bahwa sapi-sapi itu hanya makan rumput, tetapi tanpa disadari telah mengubah realitas keamanan sepenuhnya.
Yedioth Ahronoth melanjutkan: “Sebelum kedatangan kawanan ini, situasi di wilayah tersebut sangat mengkhawatirkan. Gembala Suriah dan kawanan ternak mereka secara bebas menyusup ke kedalaman wilayah Golan. Kadang-kadang mereka maju hingga dekat posisi militer dan setiap kali memicu alarm serta pengiriman pasukan.”
Menurut statistik Rezim Zionis sendiri, hanya dalam tiga bulan terakhir tahun 2025, tercatat lebih dari 80 insiden penyusupan. Militer Israel menghabiskan banyak sumber daya untuk mengatasi situasi ini, sementara pada saat yang sama, menghadapi kekurangan pasukan dan tekanan operasional.
“Namun dengan kedatangan ‘Brigade Sapi’, segalanya berubah. Kehadiran terus-menerus dari kawanan sapi ini dan para penggembala Israel menyebabkan kawanan ternak Suriah mundur.
“Suriah pergi dari wilayah tersebut karena takut ternak mereka disita. Sekarang tidak ada lagi penyusupan harian,” kata Zilberman.
Menurut laporan ini, Rezim Zionis telah memasang sekitar 22 kilometer pagar ternak (termasuk pagar listrik di dekat ladang ranjau). Unit Pengintaian Brigade Golan juga telah membangun 14 kilometer di antaranya. Salah satu komandan senior Militer Zionis di wilayah ini mendeskripsikan proyek tersebut sebagai “sukses” dan “luar biasa”.
“Sejak kedatangan kawanan dan pemasangan pagar, tidak ada lagi gembala Suriah atau sapi Suriah yang terlihat di wilayah tersebut. Kami secara praktis telah mengembalikan perbatasan utama ke bawah kendali kami. Kehadiran Zilberman dan kawanannya adalah pencapaian keamanan dan nasional bagi Israel,” kata komandan tersebut.
Menurut Yedioth Ahronoth, Rezim Zionis menganggap inisiatif ini sebagai bagian dari “perubahan konsep” setelah Badai al-Aqsa, karena mereka menyadari bahwa hanya mengandalkan teknologi dan pagar tidaklah cukup.
Zilberman mengatakan,”7 Oktober meruntuhkan banyak konsep. Pelajaran utamanya adalah bahwa bersembunyi di balik pagar adalah ilusi.” Dia menunjukkan bahwa Yigal Allon, salah satu komandan lama Israel, di tahun 1960 pernah mengatakan, ketika tidak ada kontrol nyata atas tanah dan komunitas yang kuat, perbatasan akan mudah ditembus.
“Batalyon berganti-ganti, tetapi kami dan sapi-sapi selalu ada di sini. Seseorang selalu mengenal setiap jengkal tanah dan menyadari perubahan terkecil,” kata Zilberman.
Menurut sumber-sumber militer Israel, proyek ini sekarang telah menjadi model untuk perbatasan lain. Rezim Pendudukan berniat menerapkan model serupa di perbatasan timur dengan Yordania.
Penggunaan kawanan sapi untuk mengontrol wilayah pendudukan, lebih dari apa pun, menunjukkan krisis konsep yang mendalam di tengah Militer Rezim Zionis setelah Badai al-Aqsa. Mereka yang pernah membanggakan kekuatan teknologi dan kecerdasan buatan, sekarang beralih ke metode tradisional dan sederhana; metode yang didasarkan pada “kehadiran fisik yang terus-menerus”. Hal ini terjadi ketika Perlawanan di berbagai front telah memaksa Rezim untuk memecah kekuatan mereka. Minimnya tentara telah memaksa mereka melakukan inisiatif-inisiatif aneh.
