Laksamana Sayyari: Pantai Iran Akan Menjadi ‘Neraka Tanpa Jalan Keluar’ bagi Pasukan Asing
POROS PERLAWANAN – Laut menjadi salah satu pilar yang menentukan kekuatan ekonomi, pertahanan, dan masa depan Iran. Pandangan itulah yang dikemukakan Wakil Koordinator Angkatan Bersenjata Republik Islam Iran, Laksamana Habibollah Sayyari, saat berbicara dalam program “Agha-ye Shahid-e Iran” yang disiarkan televisi nasional Iran.
Wawancara yang dikutip Mehr News Agency pada Rabu 8 Juli dibuka dengan penyampaian belasungkawa kepada rakyat Iran dan umat Islam dunia atas wafatnya Pemimpin Tertinggi Iran. Dari sana, pembahasan mengalir pada pentingnya membangun kekuatan maritim sebagai fondasi kemajuan bangsa.
Sayyari menggambarkan posisi geografis Iran sebagai anugerah strategis. Sekitar 70 persen permukaan bumi merupakan wilayah perairan, sedangkan Iran memiliki akses ke laut di bagian utara dan selatan dengan garis pantai sekitar 2.700 kilometer. Potensi itu, dalam pandangannya, harus diubah menjadi kekuatan nasional melalui pembangunan yang terarah.
Hampir 90 persen aktivitas ekspor dan impor negara-negara yang memiliki akses ke laut, termasuk Iran, berlangsung melalui jalur maritim. Laut juga menyediakan sumber pangan, energi fosil, energi terbarukan, serta ruang ekonomi yang memengaruhi posisi geopolitik sebuah negara. Atas dasar itu, negara-negara besar terus memperkuat orientasi pembangunan maritim sebagai bagian dari strategi nasional.
Perhatian terhadap sektor maritim, lanjut Sayyari, telah menjadi bagian dari arah kebijakan Iran sejak akhir dekade 1980-an. Berbagai arahan diberikan agar laut memperoleh porsi yang lebih besar dalam pembangunan nasional. Pemanfaatan pesisir Laut Oman, kawasan Makran, dan Teluk Persia kemudian ditempatkan sebagai prioritas karena memiliki nilai strategis bagi pertumbuhan ekonomi maupun pertahanan negara.
Konflik yang baru saja berlangsung, kata Sayyari, kembali memperlihatkan arti penting kawasan tersebut. Laut Oman dan Selat Hormuz menjadi garis depan pertahanan maritim Iran sekaligus jalur vital yang memengaruhi stabilitas Kawasan.
Arahan strategis itu kemudian diterjemahkan Angkatan Bersenjata Republik Islam Iran ke dalam tiga agenda utama, yakni memperkuat kehadiran operasional di laut, membangun kapal perang dan kapal perusak buatan dalam negeri, serta mengembangkan infrastruktur di kawasan pesisir. Langkah-langkah tersebut dinilai telah merealisasikan sebagian besar kebijakan yang digariskan kepemimpinan Iran.
Meski demikian, Sayyari memandang pembangunan kawasan maritim tidak dapat dibebankan kepada sektor pertahanan semata. Pemerintah diharapkan mempercepat pembangunan pesisir Laut Oman, Makran, dan Teluk Persia sehingga visi pembangunan berbasis laut dapat diwujudkan secara lebih utuh.
Sebagai gambaran perhatian Pemimpin Tertinggi Iran terhadap sektor maritim, Sayyari mengenang peresmian kapal perusak Jamaran di Bandar Abbas pada 2010. Kehadiran Pemimpin Tertinggi pada musim panas, tanpa meminta fasilitas khusus maupun tempat yang lebih nyaman dibandingkan para pekerja, dipandang sebagai bentuk penghargaan terhadap para ilmuwan, insinyur, dan tenaga ahli yang membangun industri pertahanan nasional.
Pembahasan berikutnya beralih pada dinamika keamanan Kawasan. Sayyari menanggapi berbagai pernyataan Presiden Amerika Serikat yang mengeklaim kekuatan laut Iran telah dihancurkan. Klaim itu dibantah dengan menyatakan bahwa berbagai rencana untuk menguasai Pulau Khark, mengendalikan Selat Hormuz, maupun mendaratkan pasukan di wilayah pesisir Iran tidak pernah berhasil diwujudkan.
“Tanah Iran adalah garis merah bagi 90 juta rakyat Iran,” tegas Sayyari.
Pernyataan itu disertai penegasan bahwa Tentara Republik Islam Iran bersama Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), aparat keamanan, Basij, dan seluruh elemen masyarakat berada dalam kesiapan penuh menjaga kedaulatan negara.
“Musuh mengetahui bahwa jika melakukan tindakan semacam itu, mereka akan memasuki neraka yang tidak memiliki jalan keluar,” ujar Sayyari.
Bagi Sayyari, ancaman terhadap Iran tidak hanya akan berhadapan dengan kemampuan militer, tetapi juga dengan semangat patriotisme, keyakinan, dan tekad seluruh rakyat dalam mempertahankan Tanah Air. Pertimbangan itulah yang, menurut pandangannya, membuat tidak ada pihak yang berani melancarkan operasi pendaratan di pantai Iran.
Pada penghujung wawancara, Sayyari mengakui Iran masih menghadapi tantangan dalam sejumlah bidang teknologi militer. Namun, kemampuan yang dimiliki saat ini lahir dari hasil kerja para ilmuwan dan industri pertahanan nasional yang terus berkembang.
“Kepada rakyat Iran saya katakan, tetaplah tenang. Dengan dukungan rakyat, Angkatan Bersenjata berdiri teguh menjaga perbatasan negara dan tidak akan membiarkan musuh mencederai wilayah Iran,” tutup Sayyari.
