Sayyid Ali Khomeini: Perundingan untuk Berdamai dengan AS adalah Pengkhianatan
POROS PERLAWANAN – Hujjatul Islam wal Muslimin Sayyid Ali Khomeini, dalam acara penghormatan untuk Syahid Ayatullah Ali Khamenei, menjelaskan berbagai dimensi kepribadian dan jalan pemikiran beliau, Cucu Imam Khomeini itu menekankan kelanjutan jalan dan cita-cita Sang Pemimpin Syahid tersebut.
Al-Alam melaporkan, acara tersebut diselenggarakan dengan dihadiri oleh sejumlah ulama, cendekiawan, dan berbagai lapisan masyarakat di makam suci Sayyidah Fatimah Ma’shumah di Qom.
Dalam salah satu bagian pidatonya, Sayyid Ali Khomeini merujuk pada akar sejarah permusuhan Amerika terhadap bangsa Iran dan menyatakan,”Masalah kita dengan Amerika dimulai sejak kudeta 1953, Sekarang kita memiliki permusuhan turun-temurun dengan Rezim ini.”
Dengan menekankan posisi fundamental Pemerintahan Iran terhadap sikap permusuhan Washington, ia menegaskan,”Siapa pun yang ingin bernegosiasi untuk mencapai perdamaian dengan Amerika adalah pengkhianat. Siapa pun yang mengirim pesan persahabatan ke Amerika adalah jahat dan najis.”
Beberapa orang mengatakan lanjutkan perang agar Partai Republik kalah dalam pemilu. Apakah itu berarti kita harus berperang hanya supaya seekor anjing kuning pergi dan seekor serigala datang? Biarkan Trump pergi, lalu siapa yang akan menggantikannya? Kita meneriakkan ‘mampus Demokrat dan mampus Republik.’”
“Apakah mungkin Imam Husain a.s. berdamai dengan Yazid? Apakah mungkin kita berdamai dengan si penjahat Amerika? Identitas kita adalah penolakan untuk berkompromi dengan penindas.”
“Mereka yang takut perang, kini mengerti bahwa perang memang memiliki biaya dan masalah, tetapi tidak perlu ditakuti. Rasa takut akan perang jauh lebih buruk daripada perang itu sendiri.”
“Mengatakan ‘bodoh’ kepada Trump bukanlah penghinaan. Itu adalah sifatnya.”
“Pejabat yang tidur dan tidak memikirkan pembalasan untuk Syahid Imam Khamenei, harus meragukan hati nuraninya sendiri,” tegasnya.
