Akademisi Iran Dibungkam Prancis, Kini Pulang dengan Pesan Keras tentang Kebebasan Semu
POROS PERLAWANAN — Seorang akademisi Iran yang sebelumnya dipenjara oleh otoritas Prancis akibat sikap tegasnya menentang genosida di Jalur Gaza akhirnya kembali ke Tanah Airnya. Kepulangan Mahdieh Esfandiari pada Rabu 15 April menjadi simbol kegagalan klaim Barat tentang kebebasan berekspresi, sebagaimana dikutip dari Press TV.
Esfandiari, yang dikenal vokal dalam mengecam kejahatan Rezim Israel terhadap rakyat Palestina, sebelumnya dijatuhi hukuman empat tahun penjara oleh pengadilan Prancis pada 26 Februari. Tuduhan yang dilayangkan kepadanya adalah “pembelaan publik terhadap terorisme”, sebuah label yang dinilai banyak pihak sebagai upaya kriminalisasi terhadap suara-suara kritis anti-Zionis.
Padahal, akademisi berusia 39 tahun itu hanya menyuarakan penolakan terhadap genosida yang telah menewaskan lebih dari 72.000 warga Palestina sejak Oktober 2023, termasuk perempuan dan anak-anak. Lulusan Universitas Lumière tersebut pernah berkiprah sebagai profesor, penerjemah, dan juru bahasa sebelum akhirnya menjadi target represi politik.
Sebelum vonis dijatuhkan, Esfandiari telah mendekam selama delapan bulan dalam tahanan pra-persidangan. Ia kemudian dibebaskan dengan syarat, namun tetap berada dalam pengawasan ketat hingga akhirnya diperbolehkan pulang ke Iran setelah proses diplomatik yang panjang.
“Saya pikir sekarang sudah jelas bahwa di Prancis tidak ada kebebasan berekspresi,” tegas Esfandiari setibanya di Tanah Air. Ia juga menyebut putusan pengadilan terhadapnya sebagai tindakan yang “sangat tidak adil”.
Lebih jauh, ia mengungkap bahwa dirinya sempat “disandera secara politik” hingga pertukaran tahanan antara Iran dan Prancis terjadi. Setelah dua warga negara Prancis yang ditahan atas tuduhan spionase dipulangkan, pembatasan terhadap dirinya langsung dicabut.
Dalam pernyataannya, Esfandiari turut menyampaikan belasungkawa atas gugurnya Pemimpin Revolusi Islam, Ayatullah Ali Khamenei dan korban lainnya akibat agresi Israel-Amerika terhadap Iran, menegaskan bahwa perjuangan melawan penindasan akan terus berlanjut.
