Al-Houthi: Pengiriman Kapal Induk Kedua oleh AS Bukti Pengakuan Kegagalan Washington Tundukkan Yaman
POROS PERLAWANAN – Pemimpin gerakan Ansarullah Yaman, Sayyid Abdul-Malik Al-Houthi, menilai keputusan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump untuk mengirim kapal induk kedua ke Timur Tengah sebagai bukti kegagalan Washington dalam menghadapi perlawanan rakyat Yaman.
Dalam pernyataannya yang dikutip jaringan televisi Al-Masirah pada Minggu (23/3), Al-Houthi menegaskan bahwa langkah AS tersebut menunjukkan bahwa kapal induk pertama yang dikerahkan ke kawasan itu tidak mencapai hasil yang diharapkan.
“Pengumuman AS tentang pengiriman kapal induk kedua ke kawasan ini adalah bukti nyata kegagalan kapal induk USS Harry S. Truman dalam menghadapi ketahanan rakyat Yaman,” ujar Al-Houthi.
Ia menambahkan bahwa meskipun kapal induk AS selama ini digunakan untuk menekan negara-negara besar, dalam konteks konflik di Yaman, justru kehadiran kapal-kapal tersebut bisa menjadi beban bagi Washington.
“Di masa lalu, Amerika Serikat menggunakan kapal induknya untuk mengancam negara-negara lain, tetapi dalam kasus Yaman, mereka justru harus mengakui kegagalan mereka sendiri,” tambahnya.
Keputusan Trump dan Strategi Militer AS
Pernyataan Al-Houthi ini muncul setelah kantor berita Politico melaporkan bahwa Presiden AS Donald Trump telah memerintahkan pengerahan kapal induk kedua ke kawasan Timur Tengah guna memperkuat kehadiran militer AS di wilayah tersebut.
Menurut laporan tersebut, Menteri Pertahanan AS juga telah menginstruksikan agar kelompok kapal induk USS Harry S. Truman tetap berada di Laut Merah selama satu bulan lebih lama dari jadwal yang direncanakan.
Sementara itu, kapal induk USS Carl Vinson dan kapal perusak pengawalnya dijadwalkan bergabung dengan armada tempur AS di kawasan tersebut dalam beberapa minggu mendatang. Kapal induk ini akan berlayar dari Samudra Pasifik menuju Timur Tengah, sebagai bagian dari strategi militer AS untuk menghadapi dinamika keamanan di kawasan tersebut.
Keputusan ini menunjukkan bahwa Washington terus meningkatkan tekanan militer di Timur Tengah, meskipun menghadapi tantangan besar dalam operasi mereka, terutama di Yaman, yang telah menjadi medan perlawanan sengit bagi koalisi yang dipimpin AS dan sekutunya.
