Al-Houthi: Perdamaian Lewat Negosiasi dengan Rezim Zionis Hanyalah Ilusi Besar
POROS PERLAWANAN – Pemimpin Ansharullah dan Revolusi Yaman, Sayyid Abdul Malik al-Houthi, dalam pidatonya pekan ini menyoroti berbagai isu regional, termasuk agresi rezim Zionis terhadap Gaza, situasi di Suriah, serta invasi Amerika-Inggris dan Israel terhadap Yaman. Ia menegaskan bahwa Dewan Keamanan PBB tidak memiliki kapasitas untuk mengakhiri penderitaan rakyat Gaza karena pengaruh kuat Amerika Serikat.
Kejahatan Israel di Gaza
Dalam pidato itu, Al-Houthi mengecam tindakan brutal Israel yang terus berlangsung, khususnya selama lebih dari lima belas bulan terakhir, termasuk genosida terhadap rakyat Palestina di Gaza. Ia menyebut salah satu kejahatan terbesar Israel pekan lalu adalah penghancuran total Rumah Sakit Kamal Adwan, yang memutus akses layanan medis. Menurutnya, ini merupakan kejahatan besar yang dilakukan secara terang-terangan di depan mata dunia internasional.
Ia juga menyoroti penggunaan kelaparan oleh Israel sebagai alat genosida terhadap rakyat Gaza. Selain itu, ia mengkritik beberapa pejabat Palestina yang mendukung kekerasan terhadap rakyatnya sendiri di Tepi Barat, yang mengarah pada konflik internal dan perang saudara di Palestina.
Negosiasi Damai adalah Ilusi
Menurut Al-Houthi, harapan para pemimpin Palestina untuk mencapai perdamaian melalui negosiasi dengan rezim Zionis hanyalah ilusi besar. Ia menegaskan bahwa Israel tidak pernah berniat mengizinkan pembentukan negara Palestina. Hal ini, lanjutnya, telah dinyatakan secara eksplisit oleh para petinggi Israel di parlemen mereka, Knesset.
Ia juga menilai upaya bergantung pada Dewan Keamanan PBB sebagai jalan keluar masalah Palestina adalah sia-sia. Dalam puluhan tahun terakhir, Dewan Keamanan telah mengadakan ratusan pertemuan tanpa menghasilkan solusi konkret.
“Selama serangan ke Gaza, Dewan Keamanan mengadakan lebih dari 50 pertemuan tanpa hasil. Amerika Serikat secara aktif menghalangi setiap keputusan yang dapat memberikan bantuan atau solusi bagi Palestina,” ujar Al-Houthi.
Kelemahan Peran Internasional
Al-Houthi mengkritik peran Amerika yang berupaya melemahkan kontribusi positif PBB dalam mendukung Palestina. Ia juga menyebutkan bahwa Amerika terus-menerus mencegah pengesahan resolusi yang bertujuan menghentikan kekerasan, membuka akses layanan dasar, dan mengirimkan bantuan kemanusiaan ke Gaza.
Ia mempertanyakan, “Apakah para pemimpin Palestina menunggu sampai Amerika, melalui Trump atau pemimpin serupa, menyerahkan sepenuhnya Tepi Barat kepada Israel?”
Perubahan Strategi Israel di Suriah
Al-Houthi menyebutkan bahwa setelah kemampuan militer Suriah dilemahkan, Israel kini mengarahkan serangannya kepada rakyat Suriah. Namun, ia juga memuji keberanian kelompok Perlawanan Palestina yang terus melancarkan serangan meskipun berada di bawah pengepungan dan serangan brutal.
Dukungan untuk Palestina dan Perlawanan Militer Yaman
Al-Houthi memuji operasi Brigade Al-Quds, yang melancarkan serangan rudal ke Tel Aviv dan Yerusalem, sebagai simbol Perlawanan yang tidak menyerah. Ia juga menyoroti peran Iran, khususnya almarhum Jenderal Qasim Soleimani, dalam mendukung perjuangan rakyat Palestina. Menurutnya, Soleimani memainkan peran penting dalam memperkuat Poros Perlawanan dan menjadi hambatan utama terhadap rencana Amerika di kawasan Timur Tengah.
Di sisi lain, Al-Houthi menjelaskan operasi militer Yaman pekan ini yang melibatkan serangan rudal balistik, rudal jelajah, dan drone ke berbagai target, termasuk Tel Aviv, Bandara Ben Gurion, dan pangkalan udara Israel. Ia juga menyebutkan keberhasilan serangan terhadap kapal induk Amerika USS Truman, yang memaksa kapal tersebut mundur ke Laut Merah utara.
Teknologi Militer Yaman
Al-Houthi mengungkapkan bahwa dalam operasi tersebut, Yaman menggunakan total 22 rudal balistik, hipersonik, dan jelajah, serta drone canggih. Selain itu, Yaman berhasil menjatuhkan dua drone MQ-9 milik Amerika yang terkenal mahal dan digunakan untuk pengintaian serta serangan udara.
“Serangan Yaman terhadap Israel adalah bentuk perlawanan terhadap upaya mereka menundukkan rakyat Palestina,” tegasnya.
Tegas Melawan Agresi
Al-Houthi menekankan bahwa Yaman akan terus melawan rezim Zionis dan sekutunya, meskipun menghadapi tekanan besar. Ia menyatakan agresi koalisi Amerika-Inggris terhadap Yaman selama satu tahun terakhir justru memperkuat kemampuan militer Yaman.
“Yaman tidak mundur, tetapi bergerak maju untuk mencapai tujuan besar kami,” tutup Al-Houthi.
