Al-Houthi: Tangan Kami Siap di Pelatuk, Kami Siap Turun Tangan Jika Diperlukan
POROS PERLAWANAN — Pemimpin Gerakan Ansharullah Yaman, Sayyid Abdul Malik Badruddin al-Houthi menegaskan bahwa pilihan diplomasi dan taruhan pada organisasi internasional telah terbukti gagal, dan menekankan bahwa jihad merupakan satu-satunya jalan untuk menghadapi agresi menyeluruh.
Mengutip Al Mayadeen pada Jumat 6 Maret, Pemimpin Gerakan Ansharullah, Sayyid Abdul Malik Badruddin al-Houthi, pada Kamis malam menyampaikan pesan kepada saudara-saudara di Republik Islam Iran dengan mengatakan, “Tangan kami berada di pelatuk dan kami siap untuk melakukan intervensi kapan pun keadaan menuntut.”
Pernyataan itu disampaikan dalam ceramah Ramadan ke-16, dan menyatakan bahwa para pemimpin Amerika Serikat dan “Israel” secara terbuka berbicara tentang perubahan Timur Tengah dan upaya mewujudkan “Israel Raya”.
Menurutnya, umat Islam saat ini sedang menghadapi konfrontasi panas dengan “thaghut zaman”, yang menurutnya diwujudkan oleh Amerika, kaum Zionis, dan kekuatan-kekuatan arogan dunia yang berusaha menguasai umat, merampas hak-haknya, serta menjadikan negeri-negeri mereka sebagai rampasan bagi kepentingan mereka.
Ditambahkannya, “Entitas Israel merupakan salah satu lengan dari gerakan Zionisme, di samping Inggris dan kekuatan lainnya yang berada dalam lingkaran mereka; mereka adalah para pemimpin kekafiran dan puncak dari kejahatan.”
Sayyid al-Houthi juga menjelaskan bahwa Israel dan negara-negara arogan dunia tidak memberikan nilai atau penghormatan apa pun terhadap hukum internasional, piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa, maupun norma-norma kemanusiaan. Ia menggambarkan pembicaraan tentang kerja sama dan kepentingan bersama dengan para musuh tersebut sebagai “ilusi dan khayalan yang sangat konyol”.
Ia menegaskan bahwa kejahatan pembunuhan terhadap Pemimpin Revolusi dan Republik Islam Iran, Sayyid Ali Khamenei, yang menurutnya dilakukan oleh Amerika dan entitas Zionis, tidak akan menjatuhkan sistem Islam di Iran.
Al-Houthi: Jihad adalah Satu-Satunya Pilihan Menghadapi Pemusnahan
Ia menekankan bahwa pilihan diplomasi, mengandalkan lembaga internasional, dan bergantung kepada musuh adalah opsi yang telah berkali-kali dicoba namun tidak membuahkan hasil. Menurutnya, setiap jalan yang meniadakan pilihan “jihad di jalan Allah” tidak akan mampu menegakkan kebenaran ataupun menghentikan kebatilan dalam menghadapi serangan yang ia sebut sebagai serangan setan dengan tujuan destruktif.
Ia juga menyatakan bahwa agresi saat ini menargetkan front yang terbentang dari Palestina, Lebanon, Suriah, dan Yaman hingga agresi kriminal menyeluruh terhadap Republik Islam Iran.
Selain itu, ia menyebut bahwa “musuh Zionis ingin menjadi pengganti Al-Qur’an bagi umat ini, dan agar umat tunduk pada perintah Netanyahu serta para penjahat lainnya”. Ia menambahkan bahwa pangkalan militer Amerika di negara-negara Arab bertujuan melindungi entitas Israel dan melakukan agresi terhadap umat.
Ia juga menjelaskan bahwa posisi Iran kuat baik secara resmi maupun di tingkat rakyat, serta bahwa Garda Revolusi dan Militer Iran tengah memberikan pukulan keras kepada musuh Amerika hingga para tentaranya mulai melarikan diri. Ia menambahkan: “Kami berdiri di samping Iran dan rakyat Muslimnya, dan kami siap bergerak kapan saja.”
Sayyid al-Houthi juga menyatakan keheranannya bahwa sebagian rezim menyebut operasi balasan Iran terhadap pangkalan Amerika sebagai serangan terhadap negara mereka. Menurutnya, rezim-rezim yang bersekutu dengan Zionisme justru berupaya keras melindungi pangkalan Amerika dan Israel.
Ia menyerukan aksi mobilisasi dua juta orang pada Jumat besok, sebagai penegasan solidaritas terhadap Iran dan rakyat Kawasan serta untuk menghadapi apa yang ia sebut sebagai tiran zaman, yakni Amerika dan Israel.
Al-Houthi juga menilai bahwa peringatan Perang Badar (Yaum al-Furqan) yang diperingati hari ini merupakan momentum historis paling menginspirasi bagi umat pada tahap ini, karena peristiwa tersebut memiliki arti penting dalam menegakkan pilar-pilar kebenaran dan memberikan kekalahan strategis kepada kekuatan kekafiran.
Ia menutup pidatonya dengan menegaskan bahwa pelajaran terpenting adalah agar umat menjadi bebas dan merdeka berdasarkan identitas Islamnya, guna menghadapi kekuatan kekafiran, kemusyrikan, dan kemunafikan yang menurutnya dipimpin oleh Washington dan Tel Aviv melawan bangsa-bangsa di Kawasan.
