Araghchi: Kami Menunggu Mereka Jika Terjadi Invasi Darat
POROS PERLAWANAN – Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi menegaskan bahwa negaranya tidak melihat alasan apa pun untuk melakukan perundingan dengan Amerika Serikat. Ia juga memperingatkan bahwa Amerika Serikat dan Israel akan menghadapi bencana besar jika nekat melakukan invasi darat ke Iran.
Pernyataan tersebut disampaikan Araghchi pada Kamis malam 5 Maret l. Ia menegaskan bahwa Iran tidak pernah mengirimkan pesan apa pun kepada pihak Amerika, sekaligus menekankan bahwa negaranya lebih siap menghadapi perang saat ini dibandingkan konflik sebelumnya, demikian dilaporkan Al Mayadeen.
Dalam wawancara dengan jaringan NBC News, Araghchi juga menegaskan bahwa tidak pernah ada permintaan gencatan senjata dari pihak Iran.
“Tidak ada permintaan dari pihak kami untuk bernegosiasi dengan Amerika Serikat,” ujarnya.
Ia menambahkan, “Kami tidak melihat alasan apa pun yang mendorong kami untuk bernegosiasi, dan kami sama sekali tidak mengirimkan pesan kepada mereka.”
Araghchi juga menegaskan bahwa Iran tidak gentar menghadapi kemungkinan invasi darat.
“Kami menunggu mereka dan yakin dengan kemampuan kami untuk menghadapi mereka,” katanya, seraya memperingatkan bahwa invasi darat akan menjadi bencana besar bagi mereka.
Iran Siap Hadapi Semua Skenario
Mengenai kesiapan Teheran menghadapi perang, Araghchi menyatakan bahwa Iran telah melakukan persiapan jauh sebelum konflik ini meningkat.
“Kami telah siap untuk perang ini, bahkan lebih siap dibandingkan perang sebelumnya. Kalian dapat melihat kualitas serta perkembangan rudal kami setelah perang terakhir,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa pasukan Iran siap menghadapi berbagai kemungkinan, dan telah mempersiapkan diri untuk semua skenario yang mungkin terjadi.
“Kami tahu bahwa kami mampu menangani situasi tersebut,” katanya.
Araghchi juga menilai bahwa tujuan utama pihak lawan adalah mengganti sistem Pemerintahan di Iran.
“Mereka datang ke sini untuk mengganti rezim. Mungkin mereka membayangkan bisa meraih kemenangan cepat yang akan menempatkan semuanya di bawah kendali mereka, tetapi mereka gagal,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa Amerika Serikat kini gagal mencapai tujuan utamanya, yakni memperoleh kemenangan cepat dengan biaya rendah.
“Sekarang mereka mencoba membenarkan alasan menyerang kami. Mereka mengajukan banyak alasan, tetapi tidak satu pun yang benar-benar meyakinkan,” katanya.
Menurut Araghchi, pembicaraan Amerika mengenai “rencana B” juga tidak akan membuahkan hasil.
“Mereka sekarang berbicara tentang rencana B, dan saya yakin rencana baru mereka akan menjadi kegagalan yang jauh lebih besar,” ujarnya.
Serangan ke Pangkalan AS dan Situasi Selat Hormuz
Sekaitan dengan serangan Angkatan Bersenjata Iran terhadap pangkalan Amerika di kawasan Teluk, Araghchi menegaskan bahwa Iran tidak menyerang negara-negara tetangganya.
Menurutnya, target Iran adalah pangkalan dan instalasi militer Amerika yang “sayangnya berada di wilayah negara-negara tetangga”.
“Kami menargetkan setiap tempat di mana terdapat pasukan Amerika. Dalam perang, kemungkinan selalu ada kerusakan tambahan (collateral damage),” ujarnya.
Ia kemudian menyinggung situasi di Gaza, dengan menyatakan bahwa lebih dari 70 ribu orang telah gugur akibat serangan Israel, sementara Militer Israel menganggap mereka sebagai “kerusakan tambahan”.
Mengenai Selat Hormuz, Araghchi menegaskan bahwa jalur pelayaran strategis tersebut belum ditutup.
“Yang terjadi adalah kapal-kapal dan tanker minyak menghindari melintas karena khawatir menjadi sasaran dari kedua pihak,” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa Iran saat ini tidak berniat menutup Selat Hormuz, namun jika perang terus berlanjut maka semua kemungkinan akan dipertimbangkan.
Situasi Internal Iran dan Dukungan Sekutu
Tentang kondisi dalam negeri, Araghchi mengatakan bahwa Pemerintahan Iran masih berjalan normal.
Menurutnya, apabila ada pejabat yang gugur atau tidak dapat menjalankan tugasnya, pengganti telah ditunjuk, dan dalam waktu dekat pemimpin negara akan dipilih sesuai mekanisme yang diatur dalam konstitusi.
“Semua berjalan sesuai dengan sistem yang telah ditetapkan,” katanya.
Mengenai sekutu Iran, Araghchi menegaskan bahwa Rusia dan China memberikan dukungan politik serta dukungan dalam berbagai bidang lainnya.
Ia juga menyinggung kerja sama militer antara Iran dan Rusia.
“Kerja sama militer antara Iran dan Rusia bukanlah rahasia. Kami pernah bekerja sama sebelumnya dan kerja sama ini masih berlangsung, dan kami berharap akan terus berlanjut di masa depan,” ujarnya.
Namun ia menolak mengungkapkan detail kerja sama militer tersebut.
“Saya tidak ingin membeberkan rincian kerja sama militer kami dengan negara lain di tengah perang,” katanya.
Kapal yang Tenggelam di Samudera Hindia
Dalam kesempatan yang sama, Araghchi juga menyinggung kapal yang tenggelam di Samudera Hindia.
Ia mengatakan kapal tersebut tidak bersenjata dan tidak membawa perwira militer terlatih, sehingga serangan terhadap kapal semacam itu dapat dikategorikan sebagai kejahatan perang.
