Loading

Ketik untuk mencari

Analisa

Amerika Serikat: Dari Kekuatan Demonstratif Menuju Kerapuhan Internal

POROS PERLAWANAN — Situs berita dan analisis Modern Diplomacy menyoroti bahwa di balik penampilan kokoh Gedung Putih tersimpan realitas yang jauh lebih rapuh: kesenjangan yang kian melebar antara citra kekuatan Amerika dan kemampuan aktual negara itu untuk menjalankan pemerintahan. Ketidakpercayaan internal, kekurangan anggaran, serta gejolak kelembagaan mempertegas retaknya fondasi Washington.

Menurut laporan IRNA pada Selasa 25 November, pusat media Eropa tersebut menulis bahwa Amerika Serikat memang masih tampil sebagai kekuatan global, presidennya menandatangani perjanjian perdagangan di Asia, mencoba membangun tatanan baru di Timur Tengah, mengirim armada ke Amerika Latin, dan memproyeksikan kekuatan militer serta ekonominya seperti biasa. Namun di balik panggung megah itu terdapat fakta lain, yaitu kemampuan nyata Amerika untuk memerintah tak lagi sebanding dengan citra kekuatan yang dipertunjukkan.

Kontradiksi ini semakin terlihat dalam beberapa tahun terakhir, terutama setelah penutupan Pemerintah Federal terpanjang dalam sejarah negara itu. Penutupan tersebut bukan soal akibat pertikaian partisan, melainkan gejala struktur pemerintahan yang semakin kehilangan kapasitas dasar. Pemerintahan memang kembali berjalan, tetapi keretakan struktural masih menganga.

Analisis Modern Diplomacy menilai bahwa meskipun Presiden Donald Trump muncul dengan janji “memulihkan kebesaran Amerika”, struktur yang seharusnya menopang kebesaran tersebut kini digerogoti ketidakpercayaan internal, defisit anggaran, dan kekacauan birokrasi. Dampaknya adalah kebijakan luar negeri AS berubah dari strategi jangka panjang menjadi penciptaan krisis taktis untuk sekadar memperoleh ruang manuver.

Contoh paling jelas adalah perjalanan panjang Trump ke Asia Tenggara pada Oktober 2025, yang menghasilkan perjanjian perdagangan dengan Thailand, Malaysia, Kamboja, dan Vietnam serta kesepakatan gencatan senjata satu tahun dengan Tiongkok. Secara permukaan, pencapaian ini tampak impresif, tetapi dalam kerangka analitis lebih mirip “pernapasan buatan” daripada tanda kebangkitan ekonomi Amerika.

Laporan tersebut menegaskan: “Tiongkok terus mengonsolidasikan dominasinya di sektor strategis, mulai dari farmasi, semikonduktor, hingga baterai litium.” Gencatan senjata satu tahun mungkin meredakan tekanan politik domestik bagi Trump, namun tidak mengubah dinamika persaingan struktural Tiongkok–AS.

Modern Diplomacy juga menggambarkan ancaman Trump terhadap Venezuela, Kolombia, dan bahkan Nigeria sebagai “doktrin pertunjukan”: kombinasi ancaman melalui media, postur militer, dan minimnya strategi berkelanjutan, sebuah respons yang lebih mencerminkan kecemasan Amerika daripada rasa percaya diri kekuatan besar.

Analisis itu menyebutkan, “Washington semakin mengandalkan demonstrasi kekuatan keras untuk menutup kelemahan kekuatan lunaknya. Namun dalam praktik, pamer ini justru menampakkan kebingungan, bukan otoritas.”

Kunjungan Presiden Suriah, Ahmed al-Sharaa ke Washington turut menunjukkan bagaimana Amerika mencoba mempertahankan pengaruhnya di Timur Tengah. Trump berusaha membingkai pertemuan tersebut sebagai “awal era stabilitas baru”, tetapi persoalan kuncinya tetap belum terselesaikan, yakni pencabutan sanksi Suriah bergantung pada Kongres yang masih terguncang dampak penutupan Pemerintah; perjanjian keamanan terkait akses pangkalan di Damaskus tidak memperoleh dukungan institusional; dan struktur keamanan nasional AS yang tergerus pemotongan anggaran tidak mampu menangani beberapa inisiatif besar secara bersamaan.

Kunjungan Putra Mahkota Saudi, Mohammed bin Salman ke Washington pun kini lebih bernuansa ekonomi dan teknologi. Slogan “normalisasi dengan Israel” kian kehilangan bentuk praktisnya. Bahkan rencana 20 poin Trump untuk pasukan internasional di Gaza hanya tinggal dokumen tanpa dukungan domestik maupun kemampuan pendanaan.

Faktanya, dengan memangkas birokrasi keamanan nasional, Trump melemahkan instrumen yang selama ini menjadi inti kekuatan Amerika: diplomasi, analisis intelijen, dan pembentukan koalisi. Kondisi ini menjadikan kebijakan luar negeri AS lebih dibatasi oleh instabilitas internal ketimbang tekanan eksternal.

Pada bagian penutup artikel, Modern Diplomacy menegaskan bahwa kontradiksi antara “janji kebesaran” dan “realitas kemunduran” semakin kentara. Krisis pemerintahan di Washington telah berubah menjadi krisis geopolitik. Kekuasaan-kekuasaan dunia, dari Beijing hingga Teheran, kini berhadapan bukan dengan hegemoni yang stabil, melainkan dengan ketidakpastian Amerika. Tatanan internasional terus bergerak, tanpa menunggu kembalinya AS.

Pada titik inilah kontradiksi paling mendasar tampak jelas, bahwa sebuah negara yang berupaya membangun tatanan global, tetapi faktanya semakin tidak mampu menjaga ketertiban di dalam negeri.

Tags:

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *