Inspektur Vijay dan Laporan Singkat tentang ’Kebodohan Serius’ yang Terus Diulang
POROS PERLAWANAN — Inspektur Vijay terlihat seperti seseorang yang telah terlalu lama menyaksikan manusia membuat keputusan buruk dengan percaya diri, yang tak sebanding dengan kecerdasan mereka. Ekspresi wajahnya bukan marah, bukan kecewa, namun lebih seperti orang yang memahami bahwa absurditas bukan pengecualian, melainkan prosedur standar.
Di ruang kerjanya yang temaram, peta Ukraina tergantung seperti karya seni instalatif yang dibuat oleh seseorang yang kehilangan rasa humor. Pin-pin berwarna bertaburan tanpa menawarkan harapan. Vijay memandangnya sejenak, lalu berpikir: Sejarah tidak berulang, hanya manusialah yang tidak berubah.
Ketika Si Tampan Bodoh masuk, Vijay sudah tahu kedatangan itu tidak akan membawa kejelasan apa pun. “Inspektur,” katanya, “ke mana arah urusan Ukraina ini?”
Pertanyaan itu diucapkan dengan keseriusan orang yang baru menyadari dunia ternyata tidak mengikuti naskah yang ia bayangkan. Vijay menjawab dengan tenang. “Amerika sedang mendorong Zelensky menyerahkan wilayah yang telah telanjur digerogoti Rusia. Sebuah akhir yang diputuskan oleh mereka yang tidak pernah berada di garis depan.”
Dalam kepalanya, sebuah refleksi singkat muncul, bahwa perang sering dimulai oleh orang yang tak pernah berniat menanggung akibatnya.
Si Tampan Bodoh menarik napas seperti aktor yang merasa dirinya sedang bermain tragedi klasik. “Kasihan Zelensky! Dulu Barat menyuruhnya menantang Rusia. Sekarang mereka hilang setelah bangkai berserakan dan kota tinggal debu. Bagaimana bisa?”
Vijay mengangkat bahu, gerakan kecil yang mengandung ironi besar. “Begini saja. Pihak yang bersorak paling keras biasanya adalah yang pertama pergi ketika situasi tidak menguntungkan.”
Lalu ia menambahkan, lembut tapi mematikan: “Dan beberapa orang masih menganggap sorakan itu sama berharganya dengan dukungan.”
Ia melanjutkan, “Sampaikan pada para pemuja Barat itu. Dulu mereka menumpuk pujian setinggi monumen. Zelensky dicetak di poster, diarak sebagai pahlawan. Kini mereka sunyi. Mungkin sedang menunggu figur baru untuk dipertuhankan.”
Si Tampan Bodoh bergumam: “Kompas mereka cuma Amerika.”
Vijay menahan tawa kecil. Jika kesetiaan tanpa nalar dianggap prinsip, dunia ini akan terus mengulang tragedi dengan sukacita.
Ia lalu menceritakan fabel rubah dan unta, sebuah kisah sederhana yang selalu dianggap terlalu remeh oleh dunia yang merasa dirinya cerdas. Rubah mengikat diri pada ekor unta demi keuntungan kecil. Ketika singa datang, unta panik, dan rubah terlempar seperti sekutu yang salah membaca peta. Ditanya apa yang terjadi, rubah itu menjawab, “Aku sudah telanjur memakan Si Tampan Bodohnya unta ini.”
Vijay tidak menertawakan cerita itu. Ia hanya menatap kosong, seolah melihat pola yang terlalu akrab. “Begitu banyak aliansi lahir dari ketamakan kecil. Begitu banyak kehancuran muncul dari keputusan yang tampak cerdas lima menit pertama.”
Ia berjalan menuju pintu. Langkahnya tenang, namun nadanya lebih tenang lagi. “Geopolitik hanya masuk akal dari kejauhan,” ujarnya. “Begitu kita mendekat, para pemainnya terlihat jelas, rubah yang hanya bisa berharap unta mereka tidak lari.”
Pintu menutup perlahan, tanpa suara. Tak ada penjelasan tambahan. Tak perlu.
