Loading

Ketik untuk mencari

Analisa

Muhammad al-Jolani dan Joseph Aoun: Mitra Abadi Israel dan Duo Boneka yang Menunggu Masa Kedaluwarsa

POROS PERLAWANAN – Di panggung geopolitik Timur Tengah, para aktor boleh berganti, tetapi skenarionya jarang berubah. Washington dan Tel Aviv selalu membutuhkan “figuran tambahan”: tokoh lokal yang bisa dipoles, dijadikan alat legitimasi, dan ditampilkan sebagai pemain penting. Mereka disorot lampu panggung seakan berperan utama, padahal hanya pengisi peran sementara. Lazimnya, seperti semua figuran, mereka akan disingkirkan begitu cerita berganti adegan, tanpa tepuk tangan, tanpa perpisahan yang layak.

Hari ini, dua nama kembali masuk dalam daftar sekutu “siap pakai” itu: Abu Muhammad al-Jolani, Pemimpin Haiat Tahrir al-Sham (HTS) yang entah sejak kapan merasa sah menyebut dirinya “Perdana Menteri Sementara Suriah”, dan Joseph Aoun, Panglima Militer Lebanon yang semakin rajin mengampanyekan gagasan pelucutan senjata Hizbullah. Ironisnya, keduanya justru tampil sebagai mitra ideal bagi Israel, bukan demi perdamaian, melainkan demi melemahkan Poros Perlawanan yang menjadi “duri” di sisi Tel Aviv.

Ancaman yang Mengungkap Pola Lama

Media Israel, Israel Hayom, yang dikutip Kayhan pada Kamis 28 Agustus, menulis dengan terang bahwa nyawa al-Jolani dan Joseph Aoun bisa melayang kapan saja. Sebuah “peringatan” yang terdengar seperti berita, namun sebenarnya mengungkap pola klasik yang sudah berulang puluhan kali: sebagai sekutu dipakai, lalu diancam, dan akhirnya dibuang.

Kita pernah melihat skenario yang sama di Afghanistan pada 1980-an. Mujahidin kala itu diguyur dukungan Amerika Serikat untuk melawan Uni Soviet. Namun begitu Moskow mundur dan kepentingan Washington tercapai, para “sekutu jihad” itu ditinggalkan dalam reruntuhan. Afghanistan pun menjadi sarang konflik berkepanjangan yang melahirkan Taliban dan, pada gilirannya, Al-Qaeda.

Di Amerika Latin, pola serupa diputar berkali-kali. Diktator yang “berguna” bagi kepentingan geopolitik dan ekonomi Amerika Serikat dipelihara dengan dana dan senjata. Namun ketika ongkos politik terlalu mahal, mereka digulingkan, kadang bahkan dengan bantuan tangan yang sama, yang dulu memberi makan.

Israel, sebagai “Negara Bagian khusus” dalam orbit politik AS, mewarisi pola itu. Hubungan dengan sekutu tidak pernah didasarkan pada loyalitas atau nilai bersama, melainkan semata pada kalkulasi untung-rugi. Maka, tak mengherankan bila al-Jolani dan Aoun kini disebut “berada di ujung tanduk”. Itu bukan sekadar ancaman; itu adalah kode kedaluwarsa.

Al-Jolani: Dari Radikal Menjadi Mitra Negosiabel

Abu Muhammad al-Jolani adalah contoh paling gamblang bagaimana seorang aktor pembunuh bisa berganti kostum sesuai kebutuhan sponsor. Dari panggung jihad radikal, ia kini tampil sebagai “mitra yang bisa dinegosiasikan”. Ia tahu betul bahwa legitimasi politik dan sumber dana rekonstruksi Suriah hanya bisa diperoleh dengan restu Washington dan Tel Aviv.

Apa yang ditawarkan al-Jolani? Sebuah Suriah versi baru yang “lebih ramah Zionis”: menjaga perbatasan agar Kelompok Perlawanan menjauh, menjamin keamanan minoritas yang bisa dijadikan alasan intervensi, dan menahan diri dari aksi militer ke arah Israel. Dengan kata lain, ia menjual keamanan Tel Aviv sebagai tiket untuk memperoleh kursi politik di Damaskus.

Joseph Aoun: Hadiah Manis dari Beirut

Sementara itu, di Beirut, Joseph Aoun memainkan perannya dengan lebih elegan. Mengusung jargon “stabilitas nasional”, ia mendorong agenda pelucutan senjata Hizbullah, sesuatu yang sejak lama menjadi mimpi Israel. Bedanya, kali ini mimpi itu datang dalam bungkus institusional, bukan lewat serangan militer.

Bagi Tel Aviv, tawaran ini jauh lebih bernilai: sebuah proyek Zionis yang dijalankan dari dalam negeri Lebanon, dengan justifikasi hukum dan politik. Singkatnya, Aoun adalah “hadiah paling manis” untuk keamanan Israel, disajikan tanpa Israel harus mengeluarkan peluru bahkan sekali pun.

Mitra Terbaik yang Hanya Sementara

Namun, sejarah mengajarkan satu hal sederhana, mitra terbaik Israel selalu berakhir sebagai “pion sementara”. Mereka bisa dipuji setinggi langit karena membantu melemahkan musuh Tel Aviv, tetapi garis merah tetap jelas, jangan pernah merasa aman.

Hari ini, al-Jolani dan Aoun diberi panggung untuk menari mengikuti musik Tel Aviv. Mereka diberi sorotan sebagai tokoh yang “berguna”. Namun musik itu bisa berhenti kapan saja, dan ketika musik berhenti, semua penari tahu bahwa lampu padam, panggung kosong, dan tidak ada lagi kursi yang disediakan bagi mereka.

Catatan Kedaluwarsa dan Implikasi Strategis

Jika Israel Hayom menulis bahwa al-Jolani dan Aoun “berada di ujung tanduk”, itu sejatinya bukan ancaman, melainkan pengumuman kedaluwarsa. Sebab dalam kamus Zionis, loyalitas tidak pernah ada. Namun yang ada hanya logika dingin, yakni berguna, dipakai, lalu dibuang.

Bagi Poros Perlawanan, ini menyimpan dua pesan strategis. Pertama, bahwa proyek-proyek lokal seperti al-Jolani dan Aoun memang mampu menghambat, tetapi tidak pernah bisa menghentikan resistensi. Mereka hanya menjadi intermezzo sementara sebelum roda konflik kembali ke jalurnya. Kedua, setiap kali Israel membuang pionnya sendiri, justru terbuka ruang baru bagi Perlawanan untuk mengisi kekosongan. Dalam jangka panjang, ancaman terbesar bagi Poros Perlawanan bukanlah pion kedaluwarsa, melainkan legitimasi internasional yang coba dibangun Israel lewat pion-pion itu.

Pada akhirnya, bila sejarah menuliskan nama al-Jolani dan Joseph Aoun, besar kemungkinan bukan sebagai “penyelamat Suriah atau Lebanon”. Mereka hanya akan dikenang sebagai penari latar yang pandai mengikuti irama Tel Aviv, hingga musik berhenti, tirai ditutup, dan panggung kembali kosong.

Tags:

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *