Uji Garis Merah Iran, Washington Kirim Ancaman Lewat Pihak Ketiga, Teheran Jawab dengan Doktrin Perang Total
POROS PERLAWANAN – Dilansir Al Mayadeen, ketegangan geopolitik di Asia Barat kembali memanas seiring menguatnya sinyal agresi Amerika Serikat terhadap Republik Islam Iran. Washington, menurut sejumlah sumber Iran, menyampaikan ancaman serangan terhadap fasilitas strategis Iran melalui pihak ketiga, sebuah manuver yang dinilai Teheran sebagai eskalasi berbahaya menuju konfrontasi terbuka. Para pejabat Iran menegaskan bahwa tidak ada istilah “serangan terbatas” dalam kalkulasi mereka, satu pukulan saja akan diperlakukan sebagai perang habis-habisan.
Peringatan keras itu disampaikan Ketua Asosiasi Jurnalis Iran sekaligus Anggota Dewan Media Pemerintah, Masha’Allah Shams al-Wa’izin. Dalam pernyataannya pada Jumat 23 Januari, ia menyebut Presiden AS, Donald Trump tengah “berjalan di tepi jurang” di tengah penumpukan kekuatan militer AS di Kawasan. Menurutnya, pesan yang disalurkan Washington melalui mediator menyiratkan kemungkinan serangan terhadap fasilitas Iran dengan asumsi Teheran tidak akan merespons secara keras. Asumsi itu sepenuhnya keliru, tegas Shams al-Wa’izin.
“Bagi Iran, setiap bentuk agresi walau sekecil apa pun akan diperlakukan sebagai perang skala penuh,” ujarnya. Sikap ini, lanjutnya, secara drastis meningkatkan biaya politik dan militer bagi siapa pun yang berniat menyerang. Ia juga menuding Amerika Serikat dan entitas Pendudukan Israel berada di balik upaya-upaya destabilisasi internal Iran, termasuk penghasutan kerusuhan bersenjata yang muncul setelah kegagalan apa yang ia sebut sebagai “Perang 12 Hari” melawan Iran.
Shams al-Wa’izin menolak keras narasi yang disebarkan oleh kelompok oposisi bersenjata di luar negeri, yang menurutnya beroperasi dari Tel Aviv dan Paris. Narasi tersebut sengaja diproduksi untuk membingungkan opini publik dan menutupi peran aktor eksternal dalam memicu kekacauan. “Amerika Serikat ingin Iran menyerah. Namun tidak ada bangsa yang bermartabat yang dapat menerima ancaman seperti itu,” ujarnya, seraya menegaskan bahwa mobilisasi militer AS lebih merupakan sinyal politik dan tekanan psikologis ketimbang jaminan kemenangan.
Pernyataan ini sejalan dengan penegasan seorang pejabat senior Iran yang berbicara kepada Reuters dengan syarat anonim. Pejabat tersebut menekankan bahwa setiap tindakan permusuhan Militer Washington, dengan atau tanpa dalih “operasi presisi” akan dipandang sebagai deklarasi perang total. “Kami berharap penumpukan ini bukan untuk konfrontasi nyata, tetapi Militer kami siap untuk skenario terburuk,” katanya, merujuk pada pengerahan dua kapal induk AS di Kawasan. Ia menambahkan bahwa respons Iran akan dirancang “dengan cara paling sulit” bagi penyerang untuk mengakhiri konflik.
Di sisi lain, koordinasi Militer AS dengan entitas Pendudukan kian terbuka. Pada Sabtu 24 Januari, Komandan Komando Pusat AS (CENTCOM), Laksamana Brad Cooper, tiba di Tel Aviv untuk pertemuan dengan pejabat tinggi keamanan Pendudukan. Kunjungan ini berlangsung di tengah meningkatnya ancaman dan retorika agresif dari Washington, yang secara terbuka mendukung kerusuhan bersenjata di Iran sejak awal tahun, sebuah langkah yang oleh Teheran dipandang sebagai kelanjutan perang non-konvensional untuk memaksakan perubahan rezim.
Pejabat Iran menyebut Mossad berperan dalam mempercepat instabilitas tersebut, sementara AS dan Israel disebut merancang skema bermusuhan guna mengacaukan negara dan mematahkan Poros Perlawanan. Menambah ketegangan, Trump mengumumkan bahwa armada Militer AS dalam jumlah besar sedang bergerak menuju Kawasan “untuk berjaga-jaga”, mencerminkan kegelisahan Washington terhadap posisi regional Iran yang kian menguat.
Laporan media AS menyebut sejumlah jet tempur F-15E Strike Eagle telah mendarat di Yordania, disusul pengerahan kapal induk USS Abraham Lincoln serta tambahan sistem pertahanan udara Patriot dan THAAD. Bagi Teheran, rangkaian langkah ini bukan sekadar pamer kekuatan, melainkan pesan ancaman yang justru mengukuhkan satu hal bahwa Poros Perlawanan tidak akan gentar. Iran, dengan “banyak kartu kekuatan” di tangannya, menegaskan bahwa era intimidasi sepihak telah berakhir.
