Loading

Ketik untuk mencari

Amerika

Imperialisme Militer AS dan Jejak Kerusakan Lingkungan Lintas Generasi

POROS PERLAWANAN – Dilansir Press TV, industri militer Amerika Serikat kembali disorot sebagai ancaman serius bagi kelestarian lingkungan dunia. Wakil Komandan Korps Pengawal Revolusi Islam (IRGC), Brigadir Jenderal Ahmad Vahidi menegaskan bahwa produksi dan pengujian senjata termasuk senjata nuklir menempatkan Washington sebagai aktor paling merusak lingkungan secara sistematis dan disengaja.

Pernyataan tegas itu disampaikan Vahidi dalam pidatonya pada Minggu 25 Januari dalam Konferensi Nasional Risiko Lingkungan dan Keamanan Nasional Republik Islam Iran yang digelar di Universitas Imam Hussein, Teheran. Ia menilai kehancuran ekologis bukan sekadar dampak samping, melainkan konsekuensi langsung dari doktrin militerisme Barat yang dipimpin Amerika Serikat. “Penghancur lingkungan terbesar di dunia adalah Amerika Serikat, disusul negara-negara Barat yang mengembangkan dan menguji senjata,” ujarnya.

Vahidi menekankan bahwa senjata buatan AS dari konvensional hingga nuklir menjadi faktor utama dalam perusakan lingkungan yang disengaja. Menurutnya, uji coba senjata, baik di darat, laut, maupun udara, meninggalkan jejak pencemaran jangka panjang yang merusak ekosistem dan mengancam kehidupan manusia lintas generasi.

Ia juga mengkritik proyek pertahanan rudal AS yang dikenal sebagai “Golden Dome”, sebuah sistem bernilai miliaran Dolar yang diklaim Washington sebagai pelindung udara nasional. Vahidi memperingatkan bahwa proyek tersebut justru membuka jalan bagi militerisasi ruang angkasa dan mengabaikan hukum serta konvensi internasional. “Atas nama keamanan, AS terus memperluas arena perang, bahkan hingga luar angkasa, tanpa memedulikan dampak lingkungan global,” tegasnya.

Sorotan ini menguat di tengah langkah Presiden AS, Donald Trump yang pada Oktober 2025 memerintahkan Pentagon untuk kembali mengintensifkan pengujian senjata nuklir, dengan dalih menandingi Rusia dan China. Kebijakan ini memicu kekhawatiran luas, mengingat AS memiliki persenjataan nuklir terbanyak di dunia dan terakhir melakukan uji coba penuh pada 1992.

Para pakar memperingatkan bahwa kebangkitan kembali uji nuklir akan menghancurkan upaya non-proliferasi puluhan tahun dan mendorong perlombaan uji coba global. Dampaknya bukan hanya geopolitik, melainkan juga ekologis. Seperti diakui kalangan ilmiah di AS sendiri, pengujian nuklir telah meninggalkan luka mendalam pada masyarakat dan lingkungan, sebuah luka yang hingga kini belum sepenuhnya dipulihkan.

Dalam pandangan POROS PERLAWANAN, krisis lingkungan global tidak dapat dipisahkan dari agresi militer dan kerakusan industri persenjataan Barat. Selama mesin perang AS terus berputar, bumi akan terus menjadi korbannya.

Tags:

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *