Ansharullah: Kami Aktif Memantau Kepatuhan Israel terhadap Gencatan Senjata Gaza
POROS PERLAWANAN – Anggota Dewan Politik Tertinggi Yaman, Mohammad Ali al-Houthi menegaskan bahwa Yaman secara aktif memantau kepatuhan Rezim Zionis terhadap gencatan senjata di Gaza.
Dalam pernyataan yang dikutip IRNA pada Jumat 24 Oktober, al-Houthi menekankan bahwa pasukan Yaman berada pada kesiagaan tertinggi untuk menanggapi setiap pelanggaran atau tindakan provokatif dari Israel.
Sementara itu, Anggota Biro Politik Ansharullah, Mohammad al-Bakhiti menyatakan bahwa Yaman akan terus mendukung rakyat Gaza “dalam kondisi apa pun”. Ia menegaskan, “Kami berdamai dengan mereka yang berdamai dengan Gaza, dan berperang melawan siapa pun yang berperang dengan Gaza.”
Al-Bakhiti juga menyebut bahwa front dukungan Yaman menjadi faktor tekanan strategis di tangan para negosiator Palestina, menandakan kesiapan Ansharullah untuk memainkan peran aktif dalam menjaga kelangsungan gencatan senjata.
Perjanjian gencatan senjata di Gaza sebelumnya diuji pada Minggu lalu, ketika Israel secara tiba-tiba mengebom Rafah di Gaza selatan. Serangan itu memicu saling tuding pelanggaran antara Tel Aviv dan Hamas, meski AS dikabarkan telah menekan Israel agar menahan diri.
Setelah serangan tersebut, Militer Israel mengumumkan kelanjutan gencatan senjata, menyebut aksi yang dilakukan sebagai “serangan tepat sasaran” terhadap pelanggaran Hamas.
Sementara itu, laporan Al-Quds Al-Arabi mengungkap bahwa negosiasi tahap kedua gencatan senjata di Sharm el-Sheikh, Mesir, menghadapi hambatan akibat syarat baru Israel, termasuk permintaan pengembalian jenazah tahanan sebelum perundingan dimulai.
Kelompok-kelompok Palestina menolak syarat tersebut dan meminta para mediator menekan AS agar memastikan Israel mematuhi perjanjian yang telah disepakati.
Negosiasi tahap kedua akan membahas masa depan pemerintahan Gaza, lembaga pengelolanya, serta status senjata Kelompok Perlawanan. Delegasi Hamas menegaskan bahwa implementasi penuh tahap pertama, termasuk masuknya bantuan kemanusiaan dan material rekonstruksi, merupakan syarat mutlak sebelum pembahasan lanjutan dimulai.
Meski gencatan senjata resmi berlaku, namun Rezim Zionis hingga kini terus menghambat pelaksanaan kesepakatan dan melakukan pelanggaran berulang di Jalur Gaza.
