Araghchi Tegaskan Iran Tak Bernegosiasi dengan AS, Tolak Gencatan Senjata yang Untungkan Lawan
POROS PERLAWANAN — Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi menegaskan Teheran tidak membuka jalur negosiasi dengan Amerika Serikat, meski Washington disebut terus mengirim pesan melalui berbagai perantara. Di saat yang sama, Iran juga menolak skema gencatan senjata yang dinilai hanya akan memberi ruang bagi pihak lawan untuk memulihkan posisi dan kembali menyerang.
Menurut Al Alam pada Kamis 26 Maret, pernyataan itu disampaikan Araghchi di tengah meningkatnya eskalasi konflik regional, ketika Iran secara terbuka menuduh Amerika Serikat dan Israel terlibat dalam agresi militer terhadap wilayahnya.
“Tidak ada negosiasi dengan pihak Amerika, meskipun Washington mengirimkan pesan melalui berbagai perantara,” kata Araghchi dalam pernyataan persnya.
Bagi Teheran, perang ini bukan hanya soal episode militer, melainkan ujian strategis yang disebut telah mengubah arah sejarah politik Iran. Araghchi menyebut serangan yang dilancarkan Amerika Serikat dan Israel justru gagal mencapai target utamanya: memukul cepat, memecah stabilitas internal, dan mengguncang persatuan nasional Iran.
Menurutnya, yang terjadi justru sebaliknya. Pemerintah Iran menilai tekanan eksternal tidak berhasil memecah barisan domestik, sementara dukungan publik terhadap garis perlawanan disebut terus menguat di berbagai ruang publik.
Pangkalan AS Disorot sebagai Sumber Ancaman
Dalam pernyataan yang sama, Araghchi menempatkan pangkalan-pangkalan militer Amerika Serikat di Kawasan sebagai salah satu inti persoalan keamanan regional. Menurutnya, fasilitas militer itu tidak pernah benar-benar menjadi payung stabilitas, melainkan justru berubah menjadi sumber ancaman langsung bagi negara-negara tempat pangkalan tersebut berdiri.
Araghchi menyebut sejumlah pangkalan AS di Kawasan telah digunakan untuk melancarkan operasi terhadap Iran. Meski begitu, ia menegaskan Iran tidak memusuhi negara-negara tetangga, melainkan hanya akan merespons fasilitas dan titik operasi yang dipakai untuk menyerang wilayahnya.
“Pangkalan-pangkalan Amerika di Kawasan ini tidak berkontribusi pada keamanan; sebaliknya, pangkalan-pangkalan tersebut membahayakan keamanan Kawasan,” ujarnya.
Nada itu memperlihatkan dua pesan sekaligus dari Teheran: tekanan terhadap Washington dan peringatan politik kepada negara-negara regional agar tidak menjadikan wilayah mereka sebagai perpanjangan tangan operasi militer Amerika.
Araghchi bahkan menyerukan negara-negara tetangga untuk mengambil jarak dari Amerika Serikat. Ia juga menyesalkan tidak adanya kecaman terbuka dari sebagian negara Kawasan terhadap perang yang disebutnya sebagai agresi Amerika-Zionis terhadap Iran.
Selat Hormuz Jadi Bagian dari Perhitungan Strategis
Di luar aspek diplomatik dan militer, Araghchi juga menyinggung Selat Hormuz, jalur maritim vital yang selama ini menjadi salah satu titik paling sensitif dalam peta energi global.
Ia mengatakan Teheran sedang mempertimbangkan pengaturan khusus untuk pengelolaan Selat tersebut, termasuk setelah perang berakhir. Pernyataan ini memberi sinyal Iran tidak memandang Hormuz semata sebagai jalur perdagangan, melainkan juga sebagai instrumen strategis dalam konfigurasi keamanan pascakonflik.
Araghchi menyebut pihak lawan telah berupaya membuka kembali akses tertentu melalui bantuan negara lain, namun gagal. Dari sudut pandang Iran, Selat Hormuz, menurut dia, tidak tertutup secara total, tetapi dibatasi bagi kapal-kapal yang dipandang sebagai bagian dari pihak musuh.
Pernyataan itu menegaskan satu hal, bahkan setelah dentuman mereda, Teheran tampaknya tidak berniat mengembalikan kawasan ke titik semula tanpa penataan ulang keseimbangan kekuatan.
“Ini adalah Perang Israel”
Dalam salah satu bagian paling tajam dari pernyataannya, Araghchi menyebut konflik yang sedang berlangsung bukan semata perang Iran melawan Amerika, melainkan perang Israel yang menyeret Washington ke dalam konfrontasi yang lebih luas dan lebih mahal.
“Ini adalah perang Israel,” kata Araghchi.
Ia menilai prioritas utama Amerika Serikat di Kawasan bukan keamanan kolektif Timur Tengah, melainkan perlindungan terhadap kepentingan Israel. Dalam pandangan Teheran, seluruh infrastruktur militer dan politik Washington di Kawasan pada akhirnya bergerak ke arah yang sama: menopang keamanan dan dominasi Israel.
“Tujuan utama, sekunder, dan tertinggi Amerika adalah entitas Zionis dan keamanannya,” ujarnya.
Araghchi juga menyinggung meningkatnya kritik di dalam negeri Amerika Serikat terhadap keterlibatan Washington dalam konflik yang dinilai tidak sejalan dengan kepentingan nasional Amerika sendiri. Dengan kata lain, Iran kini tidak hanya bertarung di medan militer, tetapi juga berusaha membentuk narasi politik yang memperlemah legitimasi lawan di mata publik internasional.
Eropa Dikritik, Jalur Hukum Disiapkan
Araghchi turut mengkritik sikap negara-negara Eropa yang dinilai gagal menunjukkan konsistensi terhadap prinsip hukum internasional yang selama ini mereka gaungkan.
“Eropa mengeklaim menjunjung tinggi hukum internasional dan nilai-nilai Barat, tetapi semua itu sekarang dipertanyakan,” katanya.
Menurut Araghchi, alih-alih mengutuk agresi secara terbuka, negara-negara Eropa justru dinilai lebih sibuk meredakan ketegangan politik dengan pihak penyerang. Kritik ini memperlihatkan kekecewaan Teheran bukan hanya kepada Washington dan Tel Aviv, melainkan juga kepada blok Barat yang dianggap menerapkan standar ganda.
Ia menambahkan bahwa Pemerintah Iran saat ini tengah mendokumentasikan seluruh pelanggaran yang terjadi selama perang dan akan menindaklanjutinya di forum-forum internasional.
