Loading

Ketik untuk mencari

Amerika

AS Biasa Berkhianat, Bahkan kepada Kawan

AS Biasa Berkhianat, Bahkan kepada Kawan

POROS PERLAWANAN – Kebijakan luar negeri AS selalu didasari kepentingan aktual dan strategisnya, tanpa memedulikan janji-janjinya kepada para sekutu. Sejak era Perang Dingin hingga  sekarang, AS berkali-kali menunjukkan bahwa demi melindungi kepentingannya, ia tega mengorbankan pihak lain, bahkan sekutu terdekatnya.

Diberitakan Fars, contoh teraktual adalah sikap Donald Trump terkait perang Ukraina. Sikap ini memicu kecemasan para pimpinan Eropa.

Dalam kontak teleponnya dengan Vladimir Putin belum lama ini, Trump menyatakan bahwa bergabungnya Ukraina dengan NATO “tidak bisa diwujudkan.” Dia juga berkata, Kiev tidak akan bisa mengambil kembali seluruh wilayahnya dari Rusia.

Sikap ini membunyikan alarm bahaya kepada para pimpinan Eropa, sebab menandakan bahwa Trump mungkin akan membuat kesepakatan sepihak dengan Rusia tanpa menyertakan Eropa, bahkan Ukraina sendiri.

Menanggapi perkembangan ini, Presiden Prancis, Emmanuel Macron mengatakan,”Tak seorang pun selain Zelensky yang bisa berunding atas nama Ukraina.”

Rekam Jejak Pengkhianatan AS kepada para Sekutunya

Sikap Washington saat ini terhadap Eropa bukan pengkhianatan pertamanya terhadap para sekutu. Sejarah kebijakan luar negeri AS penuh dengan contoh-contoh yang menunjukkan bahwa Paman Sam akan meninggalkan kawan-kawannya sendirian di saat-saat krusial.

Di tahun 2021, AS secara mendadak menarik pasukannya dari Afghanistan, tanpa melakukan koordinasi sebelumnya dengan para sekutu NATO. Tindakan ini menempatkan negara-negara Eropa, yang terlibat dalam operasi NATO di Afghanistan, dalam posisi sulit. Staf Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa, Josep Borrell menyebut keputusan AS itu sebagai “kekalahan bagi Barat.” Ia berkata,”Apa yang terjadi di Afghanistan adalah alarm bahaya yang menunjukkan Eropa tidak bisa bergantung selamanya kepada AS.”

Pada tahun 2019, Pemerintahan Trump memutuskan untuk menarik pasukannya dari utara Suriah. Washington melakukannya tanpa peringatan terlebih dahulu kepada para sekutu Kurdinya. Hal ini memuluskan jalan Turki untuk menyerang kawasan-kawasan yang dikontrol Kurdi Suriah. Belakangan, mantan Utusan Khusus AS di Suriah, James Jeffrey, mengakui bahwa “AS telah mengkhianati pihak Kurdi dengan cara terburuk.”

Contoh nyata lain adalah keluarnya AS secara sepihak dari kesepakatan nuklir Iran (JCPOA) di tahun 2018. Tindakan ini dilakukan Washington kendati ditentang keras oleh negara-negara Eropa. Staf Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa saat itu, Federica Mogherini mengatakan,”Uni Eropa tetao berkomitmen kepada JCPOA. Namun keluarnya AS menunjukkan bahwa negara ini tidak memegang komitmen internasionalnya.”

Banyak pakar Barat yang meyakini, AS tidak bisa dipercaya bahkan oleh para sekutu terdekatnya sendiri. Dosen Hubungan Internasional di Harvard, Stephen Walt dalam artikelnya di Foreign Policy menulis:”Sejarah menunjukkan bahwa AS, baik dipimpin Demokrat atau Republik, tidak pernah memegang janjinya. Negara ini hanya bertindak berdasarkan kepentingan jangka pendeknya.”

Mantan Kepala Dewan Hubungan Luar Negeri AS, Richard Haass telah memperingatkan, perilaku Washington telah mengurangi kepercayaan global terhadapnya.

“Para sekutu AS tidak lagi bisa yakin bahwa negara ini akan memegang janjinya. Hengkang dari Afghanistan, keluar dari JCPOA, dan kebijakan-kebijakan sepihak, semua ini telah menodai kredibilitas Washington,” kata Haass.

Tags:

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *