Ibarat ‘Nasi Sudah Jadi Bubur’, Zelensky Baru Sadari Satu ‘Fakta Pahit’ Soal AS
POROS PERLAWANAN – Dalam Konferensi Keamanan Munich, Presiden Ukraina, Volodymyr Zelensky menyatakan bahwa Washington tidak pernah berminat agar Kiev bergabung dengan NATO. Menurut Zelensky, hal ini bahkan sudah terlihat sebelum berubahnya sikap Pemerintahan Donald Trump terkait perang Rusia vs Ukraina.
“AS tidak pernah melihat kami sebagai anggota NATO. Mereka hanya bicara saja soal masalah ini. Mereka tidak benar-benar menginginkan kami berada di NATO,” kata Zelensky, Far s melaporkan.
Perang Ukraina dimulai pada 24 Februari 2022 dan akan berusia 3 tahun 9 hari mendatang.
Pada hari Kamis 13 Februari lalu, harian Kyiv Independent merilis statistik terbaru kerugian yang diakibatkan perang Ukraina. Kyiv Independent melaporkan bahwa jumlah serdadu yang tewas dari kedua belah pihak, ditambah warga Ukraina yang tewas, mencapai 147.459 orang.
Statistik ini kurang lebih separuh dari total populasi kota Chernivtsi di barat Ukraina. Kota itu ditinggali sekira 265.000 jiwa.
“Jika Ukraina tidak bisa bergabung dengan NATO, kami akan membuat NATO sendiri di Ukraina,” kata Zelensky.
Tujuan Ukraina dari perang ini adalah kembali ke perbatasan tahun 2014 dan menjadi anggota NATO. Namun Pemerintahan Trump menganggapi tujuan-tujuan ini tidak realistis.
Beberapa hari lalu, Menhan AS, Pete Hegseth menyatakan bahwa mewujudkan tujuan-tujuan tersebut “tidak praktis dan realistis.”
Di sisi lain, Zelensky selalu menekankan bahwa keanggotaan Kiev di NATO adalah satu-satunya cara mencegah invasi Rusia di masa mendatang.
Banyak pakar meyakini, AS dengan janji-janji muluknya telah menggiring Ukraina menuju perang destruktif dan kini meninggalkannya dalam posisi sulit.
Usai mengakui kemerdekaan Republik Luhansk dan Donestk dari Ukraina, Rusia mengirim pasukan ke dua kawasan tersebut dan mengumumkan dimulainya “operasi khusus militer” di Ukraina.
Ukraina menyatakan minatnya bergabung dengan NATO sejak 2008. Rusia menentang keras keinginan Ukraina tersebut. Moskow menegaskan, perluasan NATo ke wilayah bekas Uni Soviet mengancam keamanan nasional Rusia.
