Assange Laporkan Yayasan Nobel ke Swedia, Hadiah Perdamaian Machado Disebut Alat Agresi Imperialis
POROS PERLAWANAN — Dilansir Press TV, pendiri WikiLeaks, Julian Assange secara resmi mengajukan pengaduan pidana di Swedia terhadap Yayasan Nobel, menantang legitimasi penganugerahan Hadiah Nobel Perdamaian kepada tokoh oposisi Venezuela, Maria Corina Machado. Langkah hukum ini ditujukan untuk menghentikan pencairan dana hadiah senilai lebih dari satu juta Dolar AS yang dinilai Assange sarat kepentingan politik dan bertentangan dengan esensi perdamaian.
Dalam pernyataan yang dirilis WikiLeaks melalui platform X, Assange menegaskan bahwa dukungan terbuka Machado terhadap tekanan militer dan ekonomi Amerika Serikat khususnya di bawah kepemimpinan Presiden Donald Trump, telah mencederai prinsip-prinsip yang tertuang dalam wasiat Alfred Nobel. Menurut Assange, Hadiah Nobel Perdamaian seharusnya menjadi simbol rekonsiliasi dan penolakan terhadap perang, bukan justru melegitimasi agenda agresi.
Pengaduan pidana tersebut menuduh sekitar 30 individu yang terafiliasi dengan Yayasan Nobel, termasuk jajaran pimpinannya, terlibat dalam dugaan kejahatan serius. Tuduhan itu mencakup penyelewengan dana skala besar, fasilitasi kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan, hingga pendanaan kejahatan agresi. Ketua Yayasan Nobel, Astrid Söderbergh Widding dan CEO, Hanna Stjärne secara eksplisit disebut sebagai pihak yang harus dimintai pertanggungjawaban.
Assange menilai penganugerahan Nobel kepada Machado sebagai transformasi berbahaya dari “instrumen perdamaian menjadi instrumen perang”. Ia menegaskan bahwa Machado tidak memiliki kelayakan moral untuk menerima penghargaan tersebut, mengingat rekam jejaknya yang konsisten mendukung sanksi ekonomi, penyitaan kapal tanker minyak, dan eskalasi tekanan terhadap Venezuela.
Sebagai dasar argumen, pengaduan itu mengutip pernyataan Machado dalam wawancara dengan program Face the Nation di CBS News, di mana ia secara terang-terangan menyatakan dukungan penuh terhadap strategi Trump. Machado bahkan menyebut Trump sebagai “pembela kebebasan” dan menyampaikan rasa terima kasih rakyat Venezuela atas kebijakan keras Washington, kebijakan yang oleh banyak pihak dinilai telah memperparah penderitaan rakyat akibat blokade ekonomi.
Assange juga menyoroti seruan Machado yang berulang kali mendorong AS mengambil langkah lebih agresif, termasuk pengerahan militer besar-besaran yang ia gambarkan sebagai yang terbesar sejak perang Irak. Dalam konteks ini, pencairan hadiah Nobel sebesar 11 juta Krona Swedia atau sekitar 1,18 juta Dolar AS dipandang sebagai bentuk penggelapan dana yang diperparah, dengan risiko nyata digunakan untuk membiayai kejahatan perang secara tidak langsung.
Melalui pengaduan tersebut, Assange mendesak otoritas Swedia untuk segera membekukan transfer dana, menuntut pengembalian medali Nobel, serta membuka penyelidikan resmi terhadap Yayasan Nobel. Bagi Assange, ini bukan sekadar sengketa hukum, melainkan perlawanan terhadap upaya menjadikan simbol perdamaian sebagai alat legitimasi dominasi dan agresi imperial.
