Loading

Ketik untuk mencari

Suriah

Axios: Netanyahu Minta Mediasi AS untuk Berunding dengan al-Jolani

POROS PERLAWANAN – Perdana Menteri Israel, Benyamin Netanyahu, dilaporkan meminta mediasi Amerika Serikat untuk membuka jalur perundingan dengan Pemerintahan baru Suriah yang dipimpin oleh Ahmed al-Jolani, demikian laporan Axios, pada Rabu 11 Juni.

Mengutip sumber-sumber Israel, Axios mengungkap bahwa Netanyahu menyampaikan permintaan tersebut kepada Utusan Khusus AS untuk Suriah, Tom Barrack, dalam upaya mendorong dimulainya proses negosiasi menuju kesepakatan keamanan dan perdamaian yang komprehensif antara Tel Aviv dan Damaskus.

Langkah Netanyahu ini muncul di tengah konstelasi baru di Kawasan, menyusul pertemuan Presiden AS Donald Trump dengan Presiden Sementara Suriah Ahmed al-Sharaa (al-Jolani) di Arab Saudi, serta keputusan Washington untuk mencabut seluruh sanksi terhadap Suriah.

Kalkulasi Strategis Pasca-Iran

Menurut pejabat-pejabat Israel yang dikutip Axios, pergeseran kebijakan Washington terhadap Suriah yang kini condong mendukung Pemerintahan baru, mendorong Tel Aviv mengevaluasi ulang pendekatannya terhadap Damaskus.

Salah satu alasan utamanya adalah mundurnya pasukan Iran dan Hizbullah dari wilayah Suriah, sebuah perkembangan yang dianggap membuka ruang manuver diplomatik bagi Israel.

Laporan menyebutkan bahwa saluran komunikasi tidak langsung antara Israel dan Pemerintahan baru Suriah telah dibuka melalui pihak ketiga, disusul pertemuan rahasia di negara-negara ketiga. Sumber menyatakan bahwa Pemerintahan al-Sharaa tidak lagi berada di bawah kendali Ankara, seperti yang selama ini diyakini, dan kini menunjukkan keterbukaan terhadap hubungan dengan Washington dan Riyadh.

Barrack Kunjungi Perbatasan, AS Aktifkan Diplomasi Lapangan

Utusan AS, Tom Barrack, dilaporkan telah mengunjungi Wilayah Pendudukan Israel di perbatasan Suriah, termasuk Dataran Tinggi Golan dan Gunung Hermon, wilayah yang direbut Israel pascajatuhnya Pemerintahan Bashar al-Assad.

Sebelumnya, Barrack juga telah bertemu dengan al-Sharaa di Damaskus dan secara simbolis membuka kembali kediaman Duta Besar AS di Ibu Kota Suriah. Ia menyatakan keyakinannya bahwa konflik Israel-Suriah “dapat diselesaikan”, dengan langkah awal berupa pakta non-agresi.

Syarat Israel dan Isu Golan yang Belum Selesai

Netanyahu, dalam pertemuannya dengan Barrack, menekankan pentingnya memanfaatkan momentum diplomatik hasil pertemuan Trump–Sharaa untuk mendorong negosiasi langsung, dengan AS sebagai mediator utama.

Tel Aviv telah mengajukan beberapa pra-syarat untuk perjanjian damai, termasuk:

1. Tidak adanya kehadiran militer Turki di Suriah.
2. Tidak kembalinya pasukan Iran maupun Hizbullah.
3. Demiliterisasi total wilayah Suriah bagian selatan.
4. Penempatan pasukan AS bersama pasukan PBB di sepanjang perbatasan sebagai bagian dari jaminan keamanan.

Salah satu isu krusial dalam perundingan mendatang diperkirakan adalah status Dataran Tinggi Golan yang Diduduki. Secara historis, Damaskus menuntut penarikan penuh sebagai syarat perdamaian. Namun, menurut sejumlah pejabat Israel, Pemerintahan Sharaa dianggap lebih fleksibel dibandingkan rezim sebelumnya dalam isu ini.

Transformasi Kawasan: Dari Assad ke Sharaa

Perubahan ini terjadi dalam konteks geopolitik Suriah yang berubah drastis. Jatuhnya rezim Bashar al-Assad, bangkitnya Pemerintahan yang semula didukung Ankara, dan perubahan posisi AS dan Saudi terhadap Damaskus telah menciptakan realitas baru.

Di tengah transformasi tersebut, langkah Netanyahu tampak sebagai bagian dari strategi pencegahan jangka panjang dan penataan ulang aliansi regional, dengan target akhir, yaitu mengamankan perbatasan utara Israel, menetralkan pengaruh Poros Perlawanan di Suriah, dan menciptakan ruang bagi normalisasi diplomatik.

Tags:

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *