Ayatullah Ali Khamenei: Tujuan Utama Revolusi Islam adalah ‘Mewujudkan Tauhid’ dalam Kehidupan Rakyat dan Negara
POROS PERLAWANAN – Pemimpin Tertinggi Revolusi Islam, Ayatullah Ali Khamenei, kembali menegaskan peran penting kepemimpinan dalam menjaga negara tetap berada pada jalur menuju tujuan revolusi. Hal ini disampaikan dalam pertemuan dengan anggota Majelis Ahli Iran pada Kamis, 7 November 2024. Beliau menekankan bahwa tanggung jawab utama pemimpin adalah mencegah segala bentuk penyimpangan dan kemunduran.
Dalam kesempatan tersebut, Ayatullah Khamenei menyebut Majelis Ahli sebagai lembaga yang paling berhubungan erat dengan prinsip-prinsip revolusi. Beliau mengingatkan adanya upaya dari berbagai pihak untuk menghentikan dan membelokkan arah perjuangan rakyat Iran. Dalam konteks ini, beliau menegaskan, Majelis Ahli, sebagai lembaga dengan kewenangan unik dalam menentukan pemimpin, memiliki peran yang sangat penting.
Dalam pertemuan yang berlangsung usai sidang kedua Majelis Ahli periode ke-enam ini, Ayatullah Khamenei menggambarkan Majelis Ahli sebagai salah satu lembaga paling revolusioner dalam pemerintahan Islam Iran, mengingat perannya dalam pemilihan pemimpin tertinggi. Menurut beliau, peran strategis majelis ini dalam menjaga arah revolusi adalah alasan utama mengapa majelis tersebut menjadi pilar penting dalam mempertahankan integritas dan kemurnian tujuan Revolusi Islam.
Ayatullah Khamenei menjelaskan, tujuan utama Revolusi Islam adalah “mewujudkan tauhid,” yakni penerapan ajaran Islam dalam kehidupan rakyat dan negara secara luas. Beliau menegaskan, kepemimpinan bertugas memastikan arah bangsa dan sistem pemerintahan tetap sesuai dengan tujuan mendasar ini.
Beliau juga menyoroti adanya upaya untuk menghalangi terbentuknya masyarakat tauhid di Iran, di mana sebagian pihak berusaha menghentikan gerakan revolusi dan mengembalikan keadaan ke masa lalu yang bersifat regresif meskipun dalam bentuk baru.
Ayatullah Khamenei memperingatkan risiko kemunduran yang kerap mengancam revolusi besar, mengingat sejarah telah menunjukkan penyimpangan pada revolusi besar seperti Revolusi Prancis dan Revolusi Soviet dalam beberapa dekade setelahnya. Beliau mengingatkan pentingnya pelajaran dari Al-Qur’an yang menyatakan, ketaatan kepada kaum kafir dapat membuat masyarakat beriman kembali kepada kekafiran, sehingga merusak arah tujuan revolusi.
Ayatullah Khamenei juga menekankan, untuk mencegah penyimpangan dan kemunduran dalam sistem apa pun diperlukan faktor penentu. Dalam sistem Islam, tanggung jawab besar ini ada pada pemimpin, dan Majelis Ahli memiliki peran penting dalam memilih figur penentu ini.
Lebih lanjut, beliau menyoroti pentingnya peran Majelis Ahli dalam menjaga kesinambungan sistem negara menuju tujuannya. Majelis ini memastikan, bila diperlukan, mereka akan segera menentukan pemimpin berikutnya tanpa jeda. Dengan keberadaan Majelis Ahli, sistem ini tetap berjalan stabil dan berkesinambungan menuju cita-cita revolusi.
Ayatullah Khamenei menegaskan kembali, independensi sistem dari individu merupakan salah satu prinsip mendasar dalam proses pemilihan pemimpin di Iran. Beliau menyatakan, meskipun ada tokoh yang memiliki peran penting, kelangsungan sistem tidak bergantung pada mereka dan harus mampu berjalan meski tanpa kehadirannya.
Beliau juga mengutip Surah Ali-Imran, ketika Allah memperingatkan kaum Muslim di tahun ketiga Hijriah untuk tidak mundur jika Nabi wafat atau terbunuh. Pernyataan ini, menurut beliau, menunjukkan betapa pentingnya ketelitian Majelis Ahli dalam memilih pemimpin yang memiliki komitmen kuat terhadap tujuan revolusi, kesiapan untuk terus bergerak tanpa lelah, serta keyakinan mendalam terhadap cita-cita Islam.
Pertemuan tersebut juga dihadiri oleh Ayatullah Mohammadi Kermani, Ketua Majelis Ahli Kepemimpinan, yang menekankan pentingnya peran para pakar dan media dalam menjelaskan konsep revolusi dan sistem Wilayah Faqih. Sementara itu, Wakil Ketua Majelis, Ayatullah Hosseini Bushehri, memberikan laporan mengenai agenda sidang kedua Majelis periode keenam, yang mencakup diskusi dari 16 anggota mengenai berbagai isu, termasuk aspek budaya, ekonomi, sosial, dan politik di wilayah pemilihan masing-masing.
Dalam pertemuan tersebut, hadir Ayatullah Mohammadi Kermani, Ketua Majelis Ahli Kepemimpinan yang menyampaikan pentingnya peran para pakar dan media dalam menjelaskan konsep revolusi dan sistem Wilayah Faqih.
Sementara itu, Wakil Ketua Majelis, Ayatullah Hosseini Bushehri, memberikan laporan mengenai agenda sidang kedua Majelis periode keenam, yang mencakup diskusi dari 16 anggota mengenai berbagai isu, termasuk aspek budaya, ekonomi, sosial, dan politik di wilayah pemilihan masing-masing.
