Loading

Ketik untuk mencari

Iran

Ayatullah Khamenei: Iran Tidak Akan Pernah Meninggalkan Agama dan Ilmu Pengetahuan

POROS PERLAWANAN – Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatullah Sayyid Ali Khamenei menegaskan bahwa Republik Islam akan terus melangkah maju di berbagai sektor strategis, dan tidak ada tekanan dari Barat yang mampu menghalangi jalan kemerdekaan yang telah dibangun bangsa ini selama lebih dari 46 tahun.

Pernyataan ini disampaikan dalam upacara peringatan di Teheran pada Selasa malam 29 Juli, yang dihadiri oleh keluarga para syuhada, ilmuwan, komandan militer, dan warga sipil yang gugur dalam perang 12 hari antara Iran dan rezim Zionis. Sejumlah pejabat tinggi negara turut hadir dalam acara tersebut.

Dalam pidatonya, Ayatullah Khamenei menggambarkan perang terbaru ini sebagai cerminan nyata dari kehendak dan kekuatan Republik Islam, sekaligus bukti ketangguhan fondasinya yang tak tergoyahkan. Ia menyebut permusuhan dari pihak musuh lahir dari penolakan mereka terhadap iman, ilmu pengetahuan, dan persatuan nasional rakyat Iran.

“Bangsa Iran, dengan karunia Allah, tidak akan pernah meninggalkan penguatan imannya, tidak akan berhenti mengembangkan ilmu pengetahuan, dan betapa pun menjengkelkannya bagi musuh akan terus menapaki jalan menuju puncak kemajuan dan kehormatan,” tegas beliau.

Ayatullah Khamenei juga menyampaikan belasungkawa kepada keluarga para syuhada, sembari menegaskan bahwa selama 12 hari konflik tersebut, Iran tidak hanya menuai kehormatan besar yang diakui secara internasional, tetapi juga memperlihatkan tekad, keteguhan, dan kapabilitasnya kepada dunia.

“Hari ini, dunia menyaksikan kekuatan Republik Islam dari dekat,” ujarnya.

Lebih lanjut, ia menekankan bahwa kekuatan tak tertandingi yang ditunjukkan Iran selama konflik adalah hasil dari fondasi yang telah dibangun sejak awal Revolusi, dan menyebut bahwa Republik Islam telah berulang kali menghadapi berbagai bentuk agresi dari perang militer hingga sabotase politik, keamanan, dan kudeta namun berhasil melewati semuanya dengan keteguhan yang sama.

“Selama lebih dari 45 tahun, selain Perang Dipaksakan delapan tahun, Republik Islam telah dihadapkan pada berbagai bentuk fitnah dan persekongkolan. Namun dengan izin Allah, kami telah melewati semuanya,” tegasnya.

Ayatullah Khamenei kemudian menegaskan bahwa Republik Islam bertumpu pada dua pilar utama: iman dan ilmu pengetahuan. Ia menilai bahwa religiusitas rakyat dan kemajuan intelektual generasi muda telah memaksa musuh mundur di berbagai front.

“Permusuhan global yang dipimpin oleh Amerika Serikat, berakar pada kebencian mereka terhadap keyakinan, ilmu pengetahuan, dan persatuan bangsa Iran di bawah panji Al-Quran dan Islam,” tegas beliau.

Beliau menegaskan bahwa segala narasi Barat tentang isu nuklir, pengayaan uranium, dan hak asasi manusia hanyalah dalih untuk menutupi ketakutan mereka terhadap potensi ideologis dan intelektual Republik Islam.

“Yang membuat mereka geram adalah kenyataan bahwa Republik Islam mampu melahirkan gagasan-gagasan baru dalam berbagai disiplin baik ilmu humaniora, sains teknis, maupun ilmu-ilmu agama,” tambahnya.

Mengakhiri pidatonya, Ayatullah Khamenei menegaskan kembali bahwa bangsa Iran akan terus maju dalam penguatan spiritual dan intelektualnya.

“Kita akan mengambil langkah besar dalam memperkuat iman religius dan memperluas cakrawala keilmuan dalam semua bidang,” pungkas beliau.

Peringatan ini juga diisi dengan pembacaan ayat-ayat suci Al-Quran oleh sejumlah qari ternama, serta ceramah oleh Hujjatul Islam Rafiei yang mengutip Khutbah ke-182 dari Nahjul Balaghah, mengaitkan karakter para syuhada Perang Shiffin dengan para pejuang yang gugur dalam konflik terbaru melawan AS-Israel.

Tags: