Loading

Ketik untuk mencari

Analisa Suriah

Bencana ‘Al-Jolani’ bagi Rakyat Suriah: Apakah Mereka Akan Bernasib Lebih Buruk dari Libya dan Afghanistan?

POROS PERLAWANAN — Di tengah eskalasi geopolitik dan campur tangan kekuatan asing, nama Abu Muhammad al-Jolani kembali mencuat sebagai simbol ketidakstabilan dan ancaman baru bagi masa depan Suriah. Sementara Ankara dan Riyadh mengambil posisi hati-hati dalam menyikapi permintaan dukungan dari Pemerintahan Transisi yang dipimpin oleh Al-Jolani, pengamat internasional mulai memperingatkan: Suriah bisa menghadapi nasib serupa, atau bahkan lebih buruk dari Libya dan Afghanistan.

Turki dan Permintaan Dukungan Militer yang Sarat Intrik

Menurut laporan situs Rai al-Youm pada Minggu 27 Juli, rezim transisi Al-Jolani secara resmi mengajukan permintaan bantuan militer kepada Turki untuk memperkuat kapasitas pertahanannya. Namun, respons Ankara tetap berhati-hati. Sumber di Kementerian Pertahanan Turki menyatakan bahwa mereka hanya akan memberikan pelatihan, nasihat, dan dukungan teknis, tanpa menyebutkan pengiriman senjata langsung.

Ketegangan ini tak lepas dari insiden sebelumnya: Tel Aviv, yang berperan aktif dalam destabilisasi regional, telah mengebom pangkalan militer di Suriah, termasuk T4 di Homs dan bandara militer Hama yang kabarnya tengah dibangun sebagai pos strategis oleh Turki. Serangan ini memicu ketegangan terselubung antara Ankara dan Tel Aviv, meski keduanya tetap menjaga tampilan relasi pragmatis.

Peran AS dan Konsekuensi dari Pelanggaran HAM di Sweida

Menyusul laporan pelanggaran HAM, kejahatan, dan perampokan oleh pasukan Al-Jolani di Sweida, Dewan Perwakilan Rakyat AS melalui Komite Jasa Keuangan mengesahkan revisi atas Undang-Undang Caesar, undang-undang sanksi berat terhadap Suriah. Revisi ini memperpanjang masa sanksi dari 180 hari menjadi dua tahun, serta menambahkan klausul perlindungan untuk kelompok minoritas, mengindikasikan bahwa Washington berusaha menggunakan isu sektarian sebagai alat intervensi.

Harapan rezim Al-Jolani untuk mencabut sanksi pun praktis runtuh. Sebaliknya, kebijakan ekonomi dan tekanan sanksi kini digunakan sebagai alat paksaan politik.

Riyadh dan Investasi Misterius dalam Bayangan Al-Jolani

Laporan itu juga menyoroti kontrak bernilai miliaran Dolar antara Arab Saudi dan entitas yang dikaitkan dengan Al-Jolani. Namun, ketidakjelasan tujuan Riyadh menimbulkan pertanyaan besar: apakah Saudi mengandalkan Al-Jolani sebagai alat tawar-menawar politik, atau sekadar sebagai kartu cadangan dalam pertarungan pengaruh regional?

Di sisi lain, Damaskus justru mencatat momentum ekonomi penting. Forum Investasi Saudi-Suriah baru-baru ini mengumumkan 47 perjanjian dan nota kesepahaman senilai hampir 24 miliar Riyal Saudi ($5,6 miliar), dengan kehadiran delegasi besar Saudi yang dipimpin oleh Menteri Investasi, Khalid al-Falih. Ini menunjukkan bahwa meski digempur tekanan, Pemerintah Transisi Suriah tetap menjadi mitra sah regional dalam pembangunan kembali negara yang hancur akibat perang proksi.

Apakah Suriah Menuju Skema Libya atau Afghanistan?

Dalam sebuah pernyataan yang mengguncang, Utusan Khusus AS untuk Suriah, Tom Barrack, ketika ditanya apakah Suriah berisiko mengalami nasib seperti Libya atau Afghanistan? Jawabannya: “Ya, atau bahkan lebih buruk.” Sebuah pengakuan jujur dari elite politik AS bahwa skenario kehancuran sistematis sedang dijalankan atas negara-negara yang menolak tunduk pada hegemoni Barat.

Zionisme dan Proyek Penggembosan Suriah dari Dalam

Penulis Turki, Yusuf Ziya Cumert menganalisis bahwa Suriah yang terfragmentasi dan lemah akan menguntungkan kepentingan Zionis dalam jangka panjang.

“Tel Aviv kini berupaya mengonsolidasikan hubungan dengan minoritas seperti Druze dan Kurdi, guna menciptakan titik-titik kontrol dalam tubuh Suriah.”

Strategi pecah-belah, cara klasik dalam manual imperialisme, terus dijalankan untuk melemahkan negara yang menjadi pusat perlawanan terhadap proyek kolonialisme modern.

Ke Mana Arah Suriah?

Masa depan Suriah kini berada di persimpangan. Di satu sisi, hadir kekuatan asing yang mendukung entitas tidak sah dan oportunis seperti rezim Al-Jolani; di sisi lain, ada proses pemulihan nasional yang lambat namun sah di bawah kepemimpinan Damaskus. Pertanyaannya bukan hanya apakah Suriah bisa selamat dari reruntuhan, tetapi apakah dunia akan kembali membiarkan skenario Libya dan Afghanistan berulang, atau menghentikan mimpi buruk itu sebelum terlambat.

Tags:

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *