Tel Aviv Gagal Total: Hamas Kembali Tegakkan Kendali di Gaza
POROS PERLAWANAN – Surat kabar Inggris Financial Times pada Senin 28 Juli melaporkan kekalahan besar Israel di Jalur Gaza, menyebut kegagalan membebaskan para tahanan serta kembalinya kekuatan Hamas sebagai bukti nyata runtuhnya strategi militer Tel Aviv.
Dalam analisis terbaru yang dikutip Mehr News Agency, surat kabar itu menggarisbawahi penyergapan terbaru oleh pejuang Hamas yang menewaskan lima tentara Israel dan melukai 14 lainnya. Hal yang mengejutkan bukan hanya jumlah korban, melainkan juga lokasi serangan, Beit Hanoun, kota di Gaza utara yang telah empat kali menjadi sasaran serangan Israel dan kini berada dalam zona penyangga militer rezim Zionis.
Deklarasi Kekuatan: Hamas Bangkit, Tentara Israel Terperosok
Setelah hampir dua tahun agresi tanpa henti sejak 7 Oktober 2023, hasilnya justru berbalik menghantam rezim Zionis. Hamas tidak hanya tetap eksis, tetapi juga berhasil merekrut ribuan pejuang muda baru, menurut laporan intelijen Israel dan AS yang dikutip Financial Times.
“Hamas masih merupakan kekuatan dominan di Gaza. Belum ada alternatif pemerintahan yang ditemukan. Tidak satu pun tahanan dipulangkan hidup-hidup sejak Maret,” ujar mantan perwira intelijen Militer Israel, Michael Milstein.
Netanyahu terus ngotot bahwa kekuatan militer adalah satu-satunya jalan untuk membebaskan sekitar 50 tahanan yang tersisa dan menghancurkan Hamas. Namun faktanya, 35 tentara Israel tewas hanya sejak Juni, meningkat tajam dibanding 11 korban dalam tiga bulan sebelumnya.
Milstein menambahkan bahwa operasi ini telah berubah menjadi “perang atrisi tanpa tujuan strategis—seperti mengarungi rawa tanpa ujung”.
Gaza: Kuburan Ambisi Zionis, Pusat Perlawanan Rakyat
Dengan hampir 60.000 warga Palestina syahid dan Gaza porak-poranda, justifikasi moral Israel kian runtuh. Di tengah tekanan publik dalam negeri dan stagnasi militer, Netanyahu dinilai sengaja memperpanjang perang untuk mempertahankan kelangsungan koalisinya yang rapuh.
Survei terbaru menunjukkan mayoritas warga Israel mendukung gencatan senjata dan kesepakatan pertukaran tahanan, bahkan jika itu berarti mengakhiri perang terpanjang dalam sejarah entitas penjajah tersebut.
Namun, kebuntuan negosiasi yang dimediasi Qatar, khususnya terkait usulan gencatan senjata 60 hari, telah mendorong Israel meluncurkan serangan brutal baru di Deir al-Balah, Gaza tengah. Serangan udara harian terus dilakukan dengan dalih memburu pejuang Hamas, tetapi faktanya puluhan warga sipil gugur setiap hari.
Runtuhnya Konsensus Militer-Politik di Tel Aviv
Ketidaksepakatan mendalam antara Militer Israel dan Kabinet Netanyahu kini menyeruak ke permukaan. Kepala Staf Militer, Eyal Zamir, secara terbuka menyatakan bahwa kesepakatan gencatan senjata adalah jalan terbaik untuk memulangkan separuh dari tahanan yang tersisa.
Namun, Netanyahu tetap ngotot: perang hanya akan dihentikan jika seluruh tahanan dibebaskan, Hamas dilucuti, dan Gaza menjadi wilayah “jinak”.
“Gaza telah menjadi Ibu Kota ilusi Israel,” sindir Milstein. “Para pejabat Tel Aviv terus menjual narasi fiktif kepada publik mereka, sementara tanah itu justru menjadi kuburan ambisi mereka.”
Realitas di lapangan tidak bisa dibungkam propaganda. Gaza tidak tunduk. Hamas tetap berdiri, dan kekalahan Tel Aviv semakin tak terbantahkan. Poros Perlawanan tidak hanya bertahan, tapi terus menanam benih kemenangan dari puing-puing agresi.
