Bersiap Selamatkan Muka, Departemen Luar Negeri AS Bilang: Ini Bukan Negosiasi, Hanya Percakapan
POROS PERLAWANAN – Oman jadi saksi bisu. AS hadir, Iran hadir, tapi Washington buru-buru menyisipkan disclaimer: “ini bukan negosiasi.” Mengapa? Karena setelah gembar-gembor Trump tentang deal dan dominasi, kenyataan di lapangan justru menunjukkan: Iran tak tunduk, dan AS tak percaya diri.
Dalam pernyataan resmi yang dikutip Al Jazeera pada Rabu 9 April, Departemen Luar Negeri AS mencoba menyelamatkan muka: “Apa yang akan terjadi di Oman bukanlah negosiasi, melainkan percakapan untuk menentukan apa yang bisa dinegosiasikan.”
AS Kalah Sebelum Mulai
Washington tahu, jika ini disebut “negosiasi”, maka posisi Iran sebagai mitra setara akan diakui. Dan ini bertentangan langsung dengan seluruh doktrin imperialistik yang dibangun sejak 1979, bahwa Iran harus ditekan, bukan diajak bicara.
Dengan Steve Witkoff dikirim ke Oman, bukan sebagai penentu tetapi sebagai pendengar, AS coba menjual narasi bahwa “ini hanya percakapan”. Kenapa? Karena Trump, Pentagon, dan Tel Aviv tahu, jika negosiasi benar-benar terjadi, maka Iran tak akan datang untuk menyerah. Iran akan datang untuk menuntut.
Gencatan Senjata di Gaza? Janji Busuk dari Washington
Dalam pernyataan lainnya, AS mengeklaim ingin “mengakhiri penderitaan di Gaza”, tapi menyalahkan Hamas atas kegagalan perjanjian. Washington mengatakan bantuan kemanusiaan ke Gaza terhenti karena “pertempuran dimulai kembali”. Padahal semua tahu, bantuan tak pernah benar-benar masuk ketika pembantaian dilakukan oleh tangan sekutu: Zionis Israel. AS membiayai senjata, melindungi di PBB, lalu mencuci tangan saat anak-anak mati dibom.
Bagaimana halnya remaja Palestina-Amerika yang dibunuh di Tepi Barat? Investigasi, katanya. Padahal AS sudah tahu bahwa yang membunuh adalah tentara sekutu mereka. Namun seperti biasa, Washington lebih peduli pada siapa yang membawa kamera, bukan siapa yang menembakkan peluru.
Front Suriah, Turki, dan China
AS juga menyebut Suriah harus “mematuhi hukum humaniter internasional”, tapi lupa menyebut bahwa merekalah yang mendanai kelompok bersenjata di Idlib, melindungi elemen teroris, dan menduduki ladang minyak timur Efrat hingga hari ini.
Tentang Turki? Washington bersuara ambigu, seolah menjaga “persahabatan”, padahal keduanya bersaing memperebutkan pengaruh di Suriah Utara dan Laut Hitam. Persahabatan yang setiap saat bisa berubah jadi pisau di punggung.
Kemudian tentu saja, tak lengkap kalau tak menyebut China. Dalam naskah klasik propaganda AS, Tiongkok disebut “pendukung utama Rusia” dan ancaman global. Mengapa? Karena Beijing menolak tunduk, seperti halnya Iran, Rusia, atau Venezuela.
